BONE — Menteri Pertanian Republik Indonesia H. Andi Amran Sulaiman memantau langsung lokasi pelaksanaan proyek strategis Hilirisasi Ayam Terintegrasi (HAT) di Desa Bakungnge, Kecamatan Ponre, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, Jumat pagi, 25 September 2026.
Dalam kunjungan tersebut, Menteri Pertanian didampingi Bupati Bone H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., MM. Turut hadir jajaran Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang terlibat dalam pengembangan kawasan, di antaranya PTPN Holding, ID FOOD, dan sejumlah perusahaan pangan nasional.
Proyek Hilirisasi Ayam Terintegrasi merupakan bagian dari program pemerintah untuk membangun ekosistem peternakan unggas dari sektor hulu hingga hilir. Pengembangannya melibatkan Kementerian BUMN bersama BUMN pangan seperti Danantara Indonesia, ID FOOD, Berdikari, dan Perkebunan Nusantara.
Kawasan tersebut dirancang sebagai pusat industri peternakan modern yang terintegrasi, mulai dari penyediaan bibit, pakan, peternakan hingga produksi komoditas pangan. Proyek ini ditujukan untuk memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus mengoptimalkan potensi peternakan di kawasan Indonesia Timur.
Dalam master site yang dipaparkan, pengembangan kawasan terdiri atas empat titik utama.
Titik Lokasi 1a, yakni Parent Stock (PS) Farm Broiler yang berada di Kebun Dekko A Blok 10, memiliki luas lahan sekitar 10 hektare. Fasilitas ini direncanakan memiliki 12 kandang dengan kapasitas masing-masing 10.000 ekor, sehingga total dapat menampung hingga 120.000 ekor ayam.
Titik Lokasi 1b, berupa Hatchery di Kebun Dekko B Blok 9 dan 11, memiliki luas sekitar 2 hektare. Unit penetasan ini ditargetkan mampu menghasilkan Day Old Chick (DOC) sebanyak 1,57 juta ekor per bulan atau sekitar 18,84 juta ekor per tahun.
Selanjutnya, Titik Lokasi 1c berupa pabrik pakan di Kebun Dekko B Blok 17 dengan luas sekitar 6 hektare. Pabrik tersebut ditargetkan memiliki kapasitas produksi hingga 120.000 ton pakan ternak per tahun.
Sementara Titik Lokasi 1d, yakni Final Stock (FS) Pullet di Kebun Dekko B Blok 1, juga memiliki luas sekitar 6 hektare. Fasilitas ini disiapkan untuk menunjang keberlanjutan siklus peternakan unggas.
Menteri Pertanian H. Andi Amran Sulaiman mengatakan seluruh tim BUMN terkait telah hadir untuk memastikan persiapan proyek berjalan secara terpadu.
“Dari BUMN, ini direksi. Semua lengkap: PTPN 1, PTPN Holding (PTPN 3) hadir. ID FOOD hadir. Sekarang lengkap, tim lengkap,” kata Amran di hadapan awak media.
Ia menyebut pembangunan fasilitas strategis tersebut merupakan tindak lanjut arahan Presiden terkait pengembangan pabrik pakan, DOC dan fasilitas pendukung peternakan di sejumlah daerah.
“Arahan Bapak Presiden dua malam lalu soal lima pabrik pakan, DOC, dan seterusnya. Itu selesai tahun depan. Diresmikan tahun depan,” ujarnya.
Menurut Amran, pemerintah telah menyiapkan anggaran sekitar Rp2,2 triliun untuk pembangunan lima proyek tersebut. Secara keseluruhan, pemerintah menyiapkan anggaran yang lebih besar untuk berbagai program sejenis.
“Anggarannya sudah turun, beliau sudah tanda tangan. Rp2,2 triliun untuk lima. Dan total anggaran dipersiapkan oleh pemerintah, karena bukan ini saja, itu Rp17 triliun,” katanya.
Selain Sulawesi Selatan, proyek tersebut juga mencakup sejumlah wilayah lain, yakni Lampung, Jawa Timur, dan Nusa Tenggara Barat serta Sulawesi Selatan.
Amran memastikan pekerjaan pembangunan di lokasi Bone telah mulai dilakukan. Saat ditanya mengenai progres pekerjaan, ia menyebut proses awal seperti Bone telah dilakukan.
Ia menargetkan pembangunan fasilitas tersebut dapat diselesaikan pada tahun depan. “Tahun depan selesai,” tegasnya.
Terkait administrasi dan anggaran, Amran memastikan seluruh proses telah diselesaikan. Mengenai siapa yang akan meresmikan proyek tersebut, ia mengatakan hal itu akan ditentukan kemudian. “Yang penting selesai dulu,” ujarnya.
Serap Tenaga Kerja Lokal
Selain memperkuat rantai pasok pangan, pembangunan kawasan ini juga diharapkan memberikan dampak ekonomi langsung kepada masyarakat sekitar, terutama melalui penyerapan tenaga kerja lokal.
“Ya lokal-lah! Kalau mau kerja di sini, itu kan lapangan kerja untuk kita,” kata Amran.
Ia menjelaskan konsep yang dibangun bukan sekadar peternakan ayam, tetapi sebuah ekosistem pangan terintegrasi dari hulu hingga hilir. Dalam konsep tersebut, komoditas ayam, telur, susu hingga pakan akan saling terhubung.
Menurut Amran, jagung sebagai bahan baku pakan akan diperoleh dari daerah sekitar, termasuk Bone dan Soppeng serta kabupaten lainnya di Sulawesi Selatan.
“Jagung ini nanti dari Bone, Soppeng, kabupaten tetangga, dan dari mana saja. Karena ini yang menjadi pakan nanti,” jelasnya.
Dengan adanya pabrik pakan di kawasan tersebut, distribusi bahan baku dan produk diharapkan menjadi lebih efisien. Amran mencontohkan selama ini jagung dapat dikirim ke daerah lain untuk diolah menjadi pakan, kemudian pakan tersebut kembali didistribusikan ke wilayah asal.
“Daripada jagung ini dikirim ke Surabaya, dikirim ke Jakarta, setelah jadi pakan dikembalikan,” katanya.
Terintegrasi dengan Produksi DOC dan Pakan
Amran menegaskan fasilitas pabrik pakan dan produksi DOC akan dibangun secara lengkap sehingga kebutuhan peternakan dapat dipenuhi dari kawasan tersebut.
“Dibangun lengkap! DOC-nya tidak perlu lagi mengambil ke mana-mana. Ambil dari sini,” ujarnya.
Konsep integrasi tersebut diharapkan dapat menekan biaya produksi, memperpendek rantai pasok, meningkatkan efisiensi distribusi serta memperkuat ketersediaan pangan di kawasan Indonesia Timur.
Selain komoditas unggas, pemerintah juga menyiapkan pengembangan peternakan sapi perah di kawasan tersebut untuk mendukung produksi susu.
Amran mengaitkan penyediaan susu, telur dan ayam dengan kebutuhan pemenuhan gizi anak-anak melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Peternakan sapi itu adalah sapi perah. Susu. Kan butuh susu MBG. Butuh susu anak-anak supaya tinggi besar nanti,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa pembangunan ekosistem pangan tersebut merupakan bagian dari visi jangka panjang pemerintah dalam membangun sumber daya manusia Indonesia.
Menurut Amran, ketersediaan pangan bergizi seperti susu, telur dan ayam diharapkan dapat mendukung pertumbuhan generasi muda sehingga Indonesia memiliki sumber daya manusia yang sehat dan berkualitas.
“Minum susu, telur, ayam, dan seterusnya. Itu mimpi Bapak Presiden. Generasi kita adalah generasi cerdas nanti ke depan. Mencapai Indonesia Emas,” pungkasnya. (*)


Tinggalkan Balasan