BONE — Suasana Aula Lamellong, Kabupaten Bone, Sabtu-Minggu, (25-26/7/2026), terasa berbeda. Ratusan guru Sekolah Dasar dari berbagai penjuru Kabupaten Bone memenuhi ruangan bukan sekadar untuk mengikuti sebuah pelatihan, melainkan sebuah perjalanan batin. Mereka datang membawa pengalaman, tantangan, dan harapan yang sama: menjadi pendidik yang mampu membentuk generasi berkarakter di tengah perubahan zaman.

Melalui Workshop Bimbingan Mental, Penguatan Karakter dan BerAmal bertema “Menata Hati, Menyatukan Langkah”, Lembaga Kajian Pancasila Lapatau Matanna Tikka menghadirkan ruang refleksi bagi para guru untuk kembali memaknai profesi yang mereka jalani setiap hari. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat pendidikan karakter yang berpijak pada nilai-nilai Pancasila serta kearifan lokal Bugis.

Workshop dibuka oleh Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bone, Baharuddin, S.Pd., M.M. Hadir pula Kepala Bidang PAUD dan Dikmas Dinas Pendidikan Kabupaten Bone, Hj. Andi Rasna, S.Pd., M.Pd., yang tampil sebagai narasumber utama, serta Ketua Forum Gerakan Pancasila, Andi Ansari, S.H.

Namun, yang paling membekas bukan sekadar rangkaian seremoni pembukaan, melainkan pesan-pesan reflektif yang mengajak para guru menoleh ke dalam diri mereka sendiri.

Dalam materi bertajuk “Menata Hati Seorang Pendidik”, Hj. Andi Rasna mengingatkan bahwa profesi guru sejatinya bukan hanya pekerjaan yang diukur oleh jam mengajar atau administrasi pembelajaran. Mengajar adalah panggilan jiwa yang membutuhkan ketulusan, empati, dan keikhlasan.

Ia mengajak peserta merenungkan pertanyaan sederhana tetapi sarat makna.

“Apakah saya berada di kelas karena kewajiban profesi, karena panggilan hati, atau karena ingin melahirkan generasi terbaik?”

Pertanyaan berikutnya bahkan lebih menyentuh. “Jika hari ini adalah hari terakhir saya mengajar, apa yang akan paling diingat oleh murid-murid saya?”

Keheningan sejenak menyelimuti ruangan. Pertanyaan itu seolah membawa setiap guru kembali mengingat wajah-wajah murid yang selama ini mereka dampingi.

Bagi Hj. Andi Rasna, ukuran keberhasilan guru bukan semata-mata nilai rapor, tetapi jejak karakter yang tertanam dalam diri peserta didik.

Mengutip hadis riwayat Bukhari dan Muslim tentang pentingnya hati sebagai penentu baik dan buruknya seluruh tubuh, ia menegaskan bahwa pendidikan sejati selalu bermula dari hati seorang pendidik. “Anak lebih dahulu merasakan hati guru sebelum menerima ilmunya,” tuturnya.

Karena itu, proses mendidik, membimbing, melatih, hingga mengevaluasi tidak cukup hanya mengandalkan kompetensi akademik. Semua harus diawali dengan hati yang bersih, niat yang lurus, dan kasih sayang kepada anak.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kecerdasan emosional guru sering kali jauh lebih berpengaruh daripada metode pembelajaran yang paling modern sekalipun.

Dalam paparannya, Hj. Andi Rasna juga mengulas pentingnya memahami tahap perkembangan kognitif anak berdasarkan teori Jean Piaget, mulai dari fase sensorimotor hingga operasional formal.

Menurutnya, setiap anak berkembang dengan ritme yang berbeda. “Jangan menuntut ikan memanjat pohon,” ujarnya, disambut anggukan para peserta.

Ungkapan itu menjadi metafora kuat tentang pentingnya menghargai keunikan setiap anak. Guru tidak seharusnya memberi label “anak sulit”, melainkan melihat bahwa setiap anak yang mengalami hambatan sedang membutuhkan bantuan, pendampingan, dan pendekatan yang tepat.

Ia juga mengingatkan bahwa masa golden age merupakan periode yang tidak akan terulang, sehingga setiap interaksi guru dengan peserta didik memiliki arti yang sangat menentukan bagi masa depan mereka.

Bagi Hj. Andi Rasna, sekolah bukan institusi yang bekerja sendiri. Pendidikan hanya akan berhasil jika terjalin kolaborasi erat antara sekolah, keluarga, dan masyarakat sebagaimana konsep School, Family & Community Partnership yang dikembangkan Joyce Epstein.

Guru, katanya, merupakan orang tua kedua sekaligus emotional coach yang membantu anak bertumbuh secara akademik maupun emosional.

Kolaborasi tersebut diarahkan untuk membangun karakter, membiasakan perilaku baik, memperkuat ibadah, dan menjaga kesehatan mental anak melalui pola pengasuhan yang hangat, tegas, penuh penghargaan, namun tetap memiliki batasan yang jelas.

Perubahan teknologi juga menjadi perhatian dalam workshop ini. Menurut Hj. Andi Rasna, guru masa kini harus menguasai empat literasi penting, yaitu literasi digital, literasi kecerdasan buatan (AI), literasi data, dan literasi manusia.

Pemanfaatan AI, katanya, merupakan keniscayaan yang perlu dipahami oleh guru. Namun secanggih apa pun teknologi berkembang, tidak ada yang mampu menggantikan hati seorang pendidik.

AI dapat membantu menyusun materi pembelajaran, menganalisis data, atau mempercepat pekerjaan administratif. Akan tetapi, sentuhan kasih sayang, keteladanan, empati, dan inspirasi yang lahir dari seorang guru tetap menjadi kekuatan yang tidak dapat direplikasi oleh mesin.

“Teknologi adalah alat. Hati nurani guru tetap menjadi penggerak utama pendidikan,” tegasnya.

Menjelang akhir sesi, Hj. Andi Rasna kembali mengajak para guru melakukan evaluasi diri melalui sejumlah pertanyaan reflektif. Apakah saya sudah menjadi teladan? Apakah anak merasa aman ketika bersama saya? Apakah saya lebih banyak memuji daripada menyalahkan? Apakah saya masih terus belajar?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut kemudian dirangkum dalam lima komitmen seorang pendidik sejati, yakni mengajar dengan penuh keikhlasan, menghargai keunikan setiap anak, terus belajar dan berinovasi, bijak memanfaatkan teknologi, serta berkomitmen membangun generasi yang berkarakter.

Menutup pemaparannya, ia menyampaikan pesan yang menjadi inti dari keseluruhan workshop. “Guru mungkin hanya mengajar muridnya selama satu tahun, tetapi keteladanannya akan dikenang dan berdampak sepanjang hayat. Marilah kita senantiasa menata hati, pikiran, dan langkah untuk mewujudkan pendidikan yang tulus.”

Kalimat itu seakan menjadi benang merah dari tema “Menata Hati, Menyatukan Langkah”. Sebab pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang memindahkan ilmu pengetahuan dari guru kepada murid, melainkan tentang menghadirkan hati yang mampu menyalakan harapan, membangun karakter, dan meninggalkan jejak kebaikan yang akan hidup jauh melampaui ruang-ruang kelas. (*)