BONE– Senyum itu akhirnya kembali. Sumringah, tulus, dan penuh kelegaan—terpancar dari wajah ratusan petugas kebersihan non-paruh waktu di lingkup Pemerintah Kabupaten Bone. Setelah melewati masa penantian yang tidak sebentar, kepastian yang mereka harapkan datang juga: hak mereka dibayarkan.

Di Aula Masjid Al Markaz Al Ma’arif, Jalan Jenderal Ahmad Yani, Watampone, Sabtu (18/4/2026), suasana terasa berbeda. Bukan sekadar seremoni, tetapi momentum haru yang mempertemukan rasa syukur, kelegaan, dan harapan. Di tempat itu, bantuan sembako dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Bone disalurkan menjadi pelengkap dari kabar baik yang sudah lebih dulu menyentuh hati para pekerja kebersihan.

Wakil Bupati Bone, H. Andi Akmal Pasluddin, hadir langsung memastikan semuanya berjalan. Ia tidak hanya membawa kabar, tetapi juga jawaban atas kegelisahan yang sempat dirasakan para “pejuang kebersihan” tersebut.

Menurutnya, keterlambatan pembayaran bukan karena pengabaian, melainkan kendala administratif teknis. Namun yang lebih penting, kata dia, adalah bagaimana pemerintah mengambil langkah cepat untuk menyelesaikannya.

“Kami mencari cara agar Bapak dan Ibu tidak dirumahkan atau diputus kontraknya. Alhamdulillah, kita temukan solusi melalui mekanisme PJLP,” ujarnya di hadapan para petugas.

Solusi itu tidak berhenti pada status kerja. Pemerintah juga memastikan hak finansial mereka terpenuhi—bahkan melampaui ekspektasi awal. Jika sebelumnya pembayaran direncanakan hanya satu bulan, kenyataannya langsung dibayarkan rapel empat bulan sekaligus.

Keputusan ini bukan tanpa alasan. Pemerintah Kabupaten Bone ingin menunjukkan bahwa dedikasi para petugas kebersihan bukan hal yang bisa dipandang sebelah mata. Mereka adalah garda terdepan yang menjaga wajah kota tetap bersih dan layak, bahkan hingga membawa Bone meraih predikat Adipura.

Beberapa hari sebelumnya, di Lapangan Merdeka, dialog antara pemerintah dan para petugas telah berlangsung. Dari situlah titik balik dimulai. Apa yang disampaikan saat itu, kini telah diwujudkan.

“Pertemuan kemarin langsung kita eksekusi. Ini bukan sekadar janji,” tegas Andi Akmal.

Di tengah kebahagiaan itu, ia juga menitipkan pesan sederhana namun bermakna: agar rezeki yang diterima digunakan dengan bijak, termasuk menyelesaikan beban utang yang mungkin masih menghantui.

Namun lebih dari sekadar angka dalam amplop, perhatian juga hadir dalam bentuk lain sembako dari Baznas. Bantuan itu mungkin terlihat sederhana, tetapi sarat makna.

“Jangan lihat jumlah sembakonya, tapi lihat ini sebagai bentuk cinta dan apresiasi,” ucapnya.

Kalimat itu seolah merangkum semuanya. Bahwa di balik kebijakan, ada empati. Di balik angka anggaran, ada penghargaan terhadap kerja keras manusia.

Acara tersebut turut dihadiri Kepala Bidang Kebersihan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bone, Ketua dan Komisioner Baznas Bone, serta para penerima bantuan yang kini pulang dengan lebih dari sekadar sembako—mereka membawa pulang rasa dihargai. (*)