BONE– Kabupaten Bone sejak lama dikenal sebagai salah satu lumbung pangan di Sulawesi Selatan. Hamparan sawah yang luas mencapai 110.760 hektare membentang dari dataran rendah hingga perbukitan. Namun di balik potensi besar itu, tersimpan tantangan klasik: ketergantungan pada hujan di sebagian wilayah yang belum terjangkau irigasi.
Dari total luas tersebut, sekitar 67.982 hektare telah teraliri irigasi, sementara 42.778 hektare lainnya masih mengandalkan tadah hujan. Di lahan-lahan inilah nasib petani sering kali ditentukan oleh cuaca panen bisa melimpah, tapi tak jarang pula gagal karena kemarau panjang.
Kini, harapan baru mulai mengalir dari bawah tanah. Program percepatan pembangunan irigasi melalui Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2025 menjadi angin segar. Di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka, pemerintah mendorong pembangunan dan rehabilitasi jaringan irigasi untuk mewujudkan swasembada pangan nasional.
Di Kabupaten Bone, program ini disambut dengan langkah cepat. Sejalan dengan visi “BERAMAL” yang diusung Bupati H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., M.M bersama Wakil Bupati Dr. H. Andi Akmal Pasluddin, MM Dinas Sumber Daya Air dan Bina Konstruksi mengakselerasi pembangunan Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) atau sumur bor.
Sebanyak sembilan titik sumur bor telah dibangun di tiga desa: Desa Carawali di Kecamatan Barebbo, serta Desa TuruadaE dan Desa Mappesangka di Kecamatan Ponre. Lokasi ini terpilih karena merupakan wilayah tadah hujan yang selama ini paling rentan terhadap kekeringan.
Setiap titik sumur bor dibangun dengan anggaran sekitar Rp1,5 miliar, dengan total investasi mencapai Rp13,5 miliar dari APBN. Pelaksanaan proyek ini berada di bawah Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pompengang-Jenneberang, sebelum nantinya diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten Bone untuk dikelola dan dirawat.
Plt. Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Bina Konstruksi Bone, Kasdar, mengungkapkan bahwa capaian ini merupakan hasil perjuangan panjang. “Kami sebenarnya mengusulkan 100 unit bantuan sumur bor. Namun kuota untuk Sulawesi Selatan hanya 15 unit, dan Bone mendapatkan 9 titik terbesar di provinsi,” ujarnya.
Lebih dari sekadar proyek fisik, sumur bor ini diharapkan menjadi pengubah pola tanam. Selama ini, lahan tadah hujan umumnya hanya bisa ditanami sekali dalam setahun (IP 100). Dengan hadirnya JIAT, petani ditargetkan mampu meningkatkan indeks pertanaman menjadi IP 200 bahkan IP 300. Artinya, satu lahan yang sebelumnya hanya panen sekali, bisa menghasilkan dua hingga tiga kali panen dalam setahun.
Setiap titik sumur bor diproyeksikan melayani lahan minimal 25 hektare, bahkan bisa mencapai 100 hektare. Dengan sembilan titik yang dibangun, Kabupaten Bone diperkirakan akan memperoleh tambahan luas tanam minimal 225 hektare pada tahun 2026.
Bagi petani, ini bukan sekadar angka melainkan peluang untuk meningkatkan pendapatan, memperkuat ketahanan pangan keluarga, dan mengurangi risiko gagal panen. Program ini juga menjadi bagian dari langkah besar Bone menuju cita-cita sebagai lumbung pangan nasional. Jika sebelumnya air menjadi batas, kini teknologi dan kebijakan mencoba menghapus sekat itu.
Di tengah terik musim kemarau yang dulu menakutkan, suara mesin bor yang menembus tanah kini menjadi simbol harapan. Dari kedalaman bumi, air akan diangkat ke permukaan menghidupkan kembali sawah-sawah yang dulu hanya menunggu hujan. Dan di sanalah, masa depan pertanian Bone mulai ditanam kembali.
Bupati Bone, H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., MM menegaskan dalam waktu dekat, sumur bor yang telah rampung akan diresmikan secara serentak. Peresmian ini diharapkan menjadi momentum penting dalam memperkuat ketahanan air dan pangan di daerah. “Ini adalah bagian dari upaya kita memastikan masyarakat tidak lagi kesulitan air bersih, sekaligus mendukung petani agar tetap produktif,” ujarnya.
Lebih dari sekadar pembangunan fisik, program sumur bor ini mencerminkan sinergi antara pemerintah pusat dan daerah. Di satu sisi, Kementerian PU menghadirkan solusi berbasis infrastruktur. Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Bone memastikan program tersebut tepat sasaran dan memberi manfaat langsung bagi masyarakat.
Bagi warga, kehadiran sumur bor ini membawa perubahan nyata. Air yang sebelumnya sulit didapat kini lebih mudah diakses. Lahan pertanian yang dulu mengandalkan hujan kini memiliki sumber air yang lebih stabil. Dengan langkah yang terus berlanjut, Bone tidak hanya sedang membangun sumur tetapi juga membangun masa depan yang lebih tangguh, dari dalam tanah hingga ke seluruh penjuru kehidupan masyarakatnya. (*)



Tinggalkan Balasan