BONE – Semangat menjaga lingkungan hidup tidak hanya lahir dari kalangan pemerhati lingkungan atau komunitas pecinta alam. Di tangan para siswa dan guru SD Inpres 12/79 Macanang, Kecamatan Tanete Riattang Barat, Kabupaten Bone, kepedulian terhadap bumi diwujudkan melalui sebuah inovasi sederhana namun berdampak besar: pupuk organik cair “BerAmal Tani”.
Di bawah kepemimpinan Kepala Sekolah Akbar, S.Pd., MM.Gr, SD Inpres 12/79 Macanang turut ambil bagian dalam Pameran Produk Daur Ulang Sampah Berbudaya Lingkungan yang digelar oleh Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bone dalam rangka menyemarakkan Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Kegiatan tersebut berlangsung di Podium Lapangan Merdeka Watampone pada 5–7 Juni 2026.
Momentum tersebut menjadi ajang penting bagi sekolah untuk memperkenalkan hasil karya dan inovasi lingkungan yang selama ini dikembangkan bersama peserta didik. Tidak hanya menarik perhatian pengunjung, produk yang dipamerkan juga mendapat perhatian khusus dari Bupati Bone H. Andi Asman Sulaiman, yang hadir langsung meninjau pameran pada Minggu, 7 Juni 2026.
Dalam kunjungannya, Bupati Bone memberikan apresiasi terhadap berbagai inovasi ramah lingkungan yang ditampilkan peserta pameran. Salah satu yang menarik perhatian adalah pupuk organik cair “BerAmal Tani”, produk hasil pengolahan sampah organik yang dikembangkan oleh SD Inpres 12/79 Macanang. Bahkan, Bupati menyampaikan ketertarikannya untuk melihat secara langsung penerapan inovasi tersebut di lingkungan sekolah dan berjanji akan meluangkan waktu melakukan kunjungan ke SD Inpres 12/79 Macanang.
Di tengah meningkatnya persoalan sampah organik yang sering menjadi sumber pencemaran lingkungan, sekolah ini memilih mengambil langkah nyata. Melalui program pendidikan lingkungan yang terintegrasi dengan pembelajaran kewirausahaan, para siswa diajak mengubah limbah organik menjadi produk yang memiliki nilai manfaat dan nilai ekonomi.
“BerAmal Tani” merupakan akronim dari Berasal dari Makanan Menjadi Alam Lestari. Nama tersebut mengandung filosofi mendalam bahwa sisa makanan dan limbah organik yang sering dianggap tidak berguna sesungguhnya dapat diolah kembali menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi alam.
Dalam botol sederhana berisi cairan berwarna cokelat pekat itu tersimpan proses pembelajaran yang kaya makna. Sampah organik yang dikumpulkan dari lingkungan sekolah difermentasi melalui tahapan tertentu hingga menghasilkan pupuk cair yang dapat digunakan untuk menyuburkan tanaman.
Menurut Akbar, S.Pd., MM., Gr selaku kepala sekolah program ini tidak hanya bertujuan mengurangi volume sampah organik, tetapi juga menanamkan kesadaran lingkungan sejak dini kepada peserta didik.
“Anak-anak belajar bahwa sampah bukanlah akhir dari sebuah siklus. Dengan kreativitas dan kemauan untuk peduli, sampah bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan,” ujarnya.
Proses lahirnya “BerAmal Tani” menjadi bagian dari pembelajaran kontekstual yang melibatkan siswa secara aktif. Mereka diperkenalkan pada berbagai jenis sampah, mempelajari teknik pengolahan limbah organik, hingga memahami cara pengemasan dan promosi produk.
Pendekatan ini menjadikan sekolah sebagai laboratorium kehidupan, tempat siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan teoritis, tetapi juga pengalaman nyata dalam memecahkan persoalan lingkungan di sekitar mereka.
Melalui kegiatan tersebut, peserta didik belajar tentang tanggung jawab, kerja sama, kreativitas, hingga semangat berwirausaha. Nilai-nilai inilah yang diharapkan menjadi bekal penting bagi mereka dalam menghadapi tantangan masa depan.
Kehadiran pupuk organik cair “BerAmal Tani” menjadi solusi sederhana yang mampu menjawab dua persoalan sekaligus. Di satu sisi, produk ini membantu mengurangi timbunan sampah organik yang berpotensi mencemari lingkungan. Di sisi lain, pupuk yang dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesuburan tanaman secara alami.
Penggunaan pupuk organik juga dinilai lebih ramah lingkungan karena membantu memperbaiki struktur tanah dan mendukung praktik pertanian berkelanjutan. Dengan demikian, manfaat yang dihasilkan tidak hanya dirasakan di lingkungan sekolah, tetapi juga berpotensi memberikan kontribusi lebih luas bagi masyarakat.
Lebih dari sekadar produk hasil daur ulang, “BerAmal Tani” menjadi simbol bahwa perubahan besar dapat dimulai dari langkah-langkah kecil. Dari tangan-tangan siswa sekolah dasar lahir sebuah karya yang mengajarkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat diwujudkan melalui tindakan nyata.
Partisipasi SD Inpres 12/79 Macanang dalam pameran Hari Lingkungan Hidup Sedunia sekaligus menjadi bukti bahwa sekolah memiliki peran strategis dalam membentuk generasi yang peduli terhadap kelestarian bumi. Pendidikan tidak hanya tentang kemampuan membaca, menulis, dan berhitung, tetapi juga tentang menumbuhkan karakter, kreativitas, dan kemampuan menghadirkan solusi bagi lingkungan sekitar.
Dari sampah yang kerap dipandang sebelah mata, kini tumbuh harapan baru. Harapan akan lahirnya generasi yang lebih peduli, lebih inovatif, dan lebih siap menjaga keberlanjutan lingkungan untuk masa depan yang lebih hijau. (*)


Tinggalkan Balasan