WATAMPONE — Ada suasana berbeda ketika Bupati Bone H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., M.M., kembali berdiri di kampus yang pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya.
Di hadapan mahasiswa Universitas Cahaya Prima (Uncapi), Kelurahan Mattirowalie, Kota Watampone, Kamis (24/9/2026), Andi Asman tidak sekadar menyampaikan kuliah umum. Ia juga berbagi cerita tentang perjalanan pendidikan, pengalaman pengabdian, hingga bagaimana almamaternya ikut mengantarkannya sampai ke kursi kepala daerah.
Kuliah umum bertema “Peran Pemuda terhadap Pembangunan Daerah Kabupaten Bone” itu menjadi ruang bagi Andi Asman untuk mengajak generasi muda mengambil bagian lebih besar dalam pembangunan daerah.
Sebelum kuliah umum dimulai, Bupati Bone terlebih dahulu mengukuhkan Ikatan Alumni STIA Prima Bone, Universitas Cahaya Prima. Prosesi tersebut disaksikan Rektor Universitas Cahaya Prima Bone Prof. Dr. Hj. Andi Cahaya, M.Si., bersama jajaran civitas akademika.
Bagi Andi Asman, kembali ke kampus bukan sekadar agenda kedinasan. Ada kenangan dan ikatan emosional yang menyertainya.
“Saya ini alumni kampus ini. Pertama kali saya ke Jakarta karena kampus Uncapi. Seandainya bukan karena Uncapi, mungkin saya tidak jadi kepala daerah. Itu semua karena Uncapi,” ungkapnya di hadapan mahasiswa.
Pernyataan itu menggambarkan betapa pentingnya Uncapi dalam perjalanan hidupnya. Dari ruang-ruang perkuliahan, ia kemudian melangkah ke berbagai pengalaman pengabdian dan pemerintahan hingga akhirnya dipercaya memimpin Kabupaten Bone.
Menurut Andi Asman, kontribusi Uncapi tidak berhenti pada dirinya. Perguruan tinggi tersebut, kata dia, juga telah memberikan kontribusi besar terhadap penyelenggaraan pemerintahan di Kabupaten Bone.
Ia menyebut sekitar 60 hingga 70 persen sumber daya manusia yang membantu penyelenggaraan pemerintahan daerah merupakan alumni Uncapi, yang sebelumnya dikenal sebagai STIA Prima Bone.
Bagi pemerintah daerah, keberadaan sumber daya manusia yang memiliki latar belakang pendidikan dan pengalaman menjadi salah satu modal penting dalam menjalankan berbagai program pembangunan.
Dalam kesempatan itu, Andi Asman juga membagikan sejumlah pengalaman dan prestasi yang pernah diraihnya, termasuk penghargaan dari Presiden Joko Widodo serta keterlibatannya dalam implementasi proyek perubahan yang diselenggarakan Lembaga Administrasi Negara (LAN) RI.
Pengalaman tersebut tidak disampaikannya sekadar sebagai catatan perjalanan pribadi. Di hadapan mahasiswa, cerita itu menjadi pesan bahwa proses menuju keberhasilan membutuhkan keberanian untuk belajar, bekerja, dan terus mengembangkan kapasitas diri.
Mahasiswa Diajak Turun ke Tengah Masyarakat
Dari kisah pribadi, Andi Asman kemudian membawa pembicaraan pada persoalan yang lebih luas: pembangunan Kabupaten Bone.
Ia mengajak mahasiswa, terutama mahasiswa baru, agar tidak hanya menjadi penonton dalam proses pembangunan daerah. Mahasiswa, menurutnya, memiliki ruang yang luas untuk berkontribusi melalui gagasan, inovasi, maupun keterlibatan langsung di tengah masyarakat.
Dua persoalan yang secara khusus disorot adalah kemiskinan ekstrem dan stunting.
Andi Asman mendorong mahasiswa untuk ikut membantu pemerintah mencari solusi atas persoalan tersebut. Perguruan tinggi, kata dia, dapat menjadi mitra strategis pemerintah daerah dalam melahirkan gagasan dan inovasi yang dapat diterapkan di masyarakat.
Kolaborasi antara kampus, mahasiswa, alumni, dan pemerintah daerah diharapkan tidak berhenti pada forum diskusi. Lebih dari itu, kolaborasi tersebut diarahkan agar menghasilkan langkah konkret yang dapat dirasakan masyarakat.
Bagi Andi Asman, persoalan pembangunan tidak bisa diselesaikan pemerintah seorang diri. Dibutuhkan keterlibatan berbagai unsur, termasuk generasi muda yang memiliki energi, kreativitas, serta kemampuan membaca perubahan.
Di tengah kesibukan sebagai kepala daerah, Andi Asman kembali mengingatkan mahasiswa agar tidak mudah menyerah dalam mengejar cita-cita.
“Jangan cepat menyerah, tetap berikhtiar dan berdoa,” pesannya.
Kalimat sederhana itu menjadi salah satu pesan utama yang dibawanya kepada mahasiswa. Perjalanan pendidikan dan karier, menurutnya, membutuhkan ketekunan sekaligus keberanian untuk terus melangkah meski menghadapi tantangan.
Menutup kuliah umum, Andi Asman menyampaikan pesan dalam bahasa Bugis:
“Appunai bicarae, uppunai jamangge.”
Pesan tersebut menjadi penekanan tentang pentingnya kesungguhan dalam menjalankan pekerjaan sekaligus memegang amanah.
Pertemuan di kampus Uncapi hari itu pun tidak hanya menjadi agenda kuliah umum. Ia menjadi pertemuan antara seorang kepala daerah dengan almamater yang pernah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.
Dari kampus itu pula, Andi Asman menitipkan pesan kepada generasi muda Bone: pembangunan daerah membutuhkan keterlibatan semua pihak, dan mahasiswa memiliki kesempatan untuk menjadi bagian dari perubahan tersebut.
Bagi Kabupaten Bone, keterlibatan mahasiswa dalam menangani persoalan seperti kemiskinan ekstrem dan stunting bukan sekadar tambahan tenaga. Ia merupakan bentuk investasi gagasan dan kepedulian generasi muda terhadap masa depan daerahnya sendiri. (*)


Tinggalkan Balasan