BONE — Suasana khidmat menyelimuti Museum Lapawawoi, Jalan M.H. Thamrin, Kelurahan Manurung’e, Kecamatan Tanete Riattang, Kabupaten Bone, Sabtu (12/9/2026).

Di tempat yang menyimpan jejak sejarah Kerajaan Bone itu, tradisi adat Madduppa Gau dan Mappadaung Arajang kembali digelar. Bukan sekadar seremoni, prosesi tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan masa lalu dan masa kini, sekaligus mengingatkan bahwa identitas sebuah daerah tumbuh dari sejarah dan warisan leluhurnya.

Nuansa adat Bugis begitu terasa sejak awal kegiatan. Jajaran pemerintah daerah dan tamu undangan mengenakan pakaian adat lengkap dengan songkok recca dan kain lipa sabbe. Prosesi perarakan menuju kawasan museum berlangsung dalam suasana sakral, diiringi payung adat atau pallellu serta barisan pemangku adat.

Bupati Bone, H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., M.M., hadir didampingi Ketua TP PKK Kabupaten Bone, Hj. Maryam Andi Asman. Turut hadir Wakil Bupati Bone, Dr. H. Andi Akmal Pasluddin, M.M., bersama Wakil Ketua TP PKK Bone, Hj. Maya Damayanti Andi Akmal.

Sesampainya di lokasi, rangkaian ritual adat berlangsung satu per satu. Penyambutan tamu melalui Madduppa Gau menjadi bagian awal prosesi. Setelah itu dilanjutkan dengan penyerahan talam ritual hingga pemotongan tali kain adat sebagai penanda pembukaan sekaligus penyucian pusaka dalam prosesi Mappadaung Arajang.

Di panggung utama, Bupati Bone bersama jajaran pemerintah daerah menyampaikan sambutan. Setelahnya, suasana semakin akrab ketika para pemimpin daerah duduk berdampingan dengan tokoh adat dalam tradisi manganre sipulung, menikmati santapan tradisional dalam panggung penghormatan.

Di tengah rangkaian ritual tersebut, terselip pesan yang jauh lebih besar: bagaimana warisan masa lalu tetap memiliki tempat di tengah kehidupan masyarakat Bone hari ini.

Bagi Pemerintah Kabupaten Bone, Madduppa Gau dan Mappadaung Arajang menjadi bagian penting dalam menjaga keberadaan tradisi dan benda pusaka peninggalan leluhur Kerajaan Bone.

Kegiatan ini sekaligus menjadi awal rangkaian Gau Maraja Tahun 2026, yang dijadwalkan berlangsung pada 25 hingga 30 September 2026.

Bupati Bone menilai tradisi adat tidak seharusnya dipandang hanya sebagai pelengkap sebuah perayaan. Di balik setiap prosesi, terdapat nilai, sejarah, dan pesan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

“Sebuah daerah yang besar bukan hanya daerah yang memiliki pembangunan fisik yang maju. Daerah yang besar adalah daerah yang mampu menjaga ingatan sejarahnya, menghormati warisan leluhurnya, merawat kebudayaannya dan meneruskannya kepada generasi yang akan datang,” ujar Andi Asman.

Bone, kata dia, memiliki kekayaan adat istiadat, tradisi, bahasa, kesenian, nilai-nilai kehidupan, hingga berbagai peninggalan sejarah yang menjadi kekayaan tidak ternilai.

Seluruh warisan tersebut merupakan modal kebudayaan yang harus dirawat bersama. “Budaya bukan sekadar sesuatu yang kita pertontonkan pada saat acara tertentu. Budaya adalah nilai yang hidup, identitas, dan karakter,” tegasnya.

Di tengah kemajuan teknologi dan derasnya arus informasi, pesan Bupati juga diarahkan kepada generasi muda. Hari ini, hanya melalui telepon genggam, seorang anak muda Bone dapat mengenal kebudayaan dari berbagai penjuru dunia. Dunia seolah berada dalam genggaman. Namun, kemudahan itu juga menghadirkan tantangan. Jangan sampai semakin luas seseorang mengenal dunia, justru semakin jauh ia mengenal tanah kelahirannya sendiri.

“Jangan sampai anak-anak kita begitu mengenal budaya dunia, tetapi justru semakin jauh dari budaya daerahnya sendiri. Jangan sampai mereka mengetahui banyak tentang sejarah bangsa lain, tetapi tidak mengetahui sejarah leluhurnya,” tuturnya.

Karena itu, pelestarian budaya, menurut Andi Asman, harus ditempatkan sebagai investasi jangka panjang. Generasi muda Bone perlu dilibatkan. Mereka harus diberikan ruang untuk belajar, kesempatan untuk tampil dan berkarya, sekaligus dibangun rasa bangga terhadap identitasnya sebagai masyarakat Bone.

Sebab, mempertahankan budaya tidak berarti menolak modernisasi. “Kita ingin generasi muda Bone menjadi generasi yang mampu berdiri tegak menghadapi modernisasi tanpa kehilangan jati dirinya. Modern dalam cara berpikir, maju dalam penguasaan teknologi, tetapi tetap kokoh dalam nilai dan budaya,” ungkapnya.

Museum Lapawawoi pada Sabtu itu bukan sekadar menjadi lokasi berlangsungnya sebuah kegiatan adat. Tempat tersebut seolah menjadi titik temu antara jejak sejarah dengan kehidupan masyarakat Bone masa kini.

Pusaka yang dirawat, pakaian adat yang dikenakan, ritual yang dijalankan, hingga kebersamaan antara pemerintah, pemangku adat dan masyarakat menjadi pengingat bahwa sejarah tidak hanya tersimpan di dalam benda-benda peninggalan masa lalu.

Sejarah juga hidup melalui tradisi yang terus dijalankan. Madduppa Gau dan Mappadaung Arajang pun menjadi awal menuju rangkaian Gau Maraja 2026. Pemerintah Kabupaten Bone berharap seluruh rangkaian kegiatan dapat berlangsung tertib, lancar, khidmat, serta membawa semangat kebersamaan.

“Saya berharap kegiatan ini dapat memberikan manfaat yang luas. Tidak hanya bagi pemerintah, tetapi terutama bagi masyarakat Bone,” pungkas Andi Asman.

Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Balai Kebudayaan Sulsel, para kepala OPD, kepala bagian, camat, tokoh agama, tokoh masyarakat, pemangku adat, serta tamu undangan lainnya. Di tengah perubahan zaman yang bergerak cepat, prosesi di Museum Lapawawoi itu kembali menyampaikan satu pesan sederhana: kemajuan boleh membawa Bone melangkah jauh ke depan, tetapi akar sejarah tidak boleh ditinggalkan. (*)