BONE — Sabtu, 8 Agustus 2026, menjadi hari yang penuh makna bagi Bupati Bone, H. Andi Asman Sulaiman. Dalam satu hari, ia melepas dua putranya menjalani perjalanan masing-masing—bukan sekadar perjalanan menuju tempat berbeda, tetapi bagian dari proses panjang membentuk karakter, kedisiplinan, kemandirian, dan tanggung jawab.

Pagi hari, sang bungsu, Andi Asram Sulaiman, berangkat menggunakan kapal Pelni menuju Cibubur. Ia menjadi salah satu peserta Jambore Nasional 2026 sekaligus mewakili Kabupaten Bone dalam kegiatan tersebut.

Beberapa jam kemudian, pada sore hari, giliran putra sulungnya, Sersan Taruna Andi Muh. Asmar Sulhadi, yang dilepas. Kali ini, perjalanannya berbeda. Ia kembali ke Magelang menggunakan pesawat Hercules milik TNI dari Lapangan Penerbangan TNI.

Andi Muh. Asmar Sulhadi sebelumnya berada di Kabupaten Bone selama lima hari, 3–7 Agustus 2026. Ia menjadi salah satu peserta Kegiatan Taruna Bhakti Akademi Militer yang dilaksanakan di Sekolah Rakyat Terintegrasi I Kabupaten Bone.

Dua anak. Dua perjalanan. Dua tujuan yang berbeda.

Namun bagi Andi Asman Sulaiman, keduanya memiliki satu kesamaan: kesempatan untuk belajar menjadi pribadi yang mandiri dan bertanggung jawab.

Status sebagai anak bupati, menurut Andi Asman, tidak boleh menjadi alasan bagi anak-anaknya untuk hidup tanpa disiplin atau bergantung kepada orang tua.

Justru sebaliknya, kedisiplinan dan kemandirian harus menjadi pondasi dalam proses pembinaan mereka.

“Saya selalu berpesan kepada anak-anak, di mana pun berada harus membawa nama baik keluarga dan daerah. Jadikan setiap kesempatan sebagai proses belajar, mengabdi dan memberikan manfaat kepada orang lain,” ujar Bupati Bone, H. Andi Asman Sulaiman.

Ia mengaku bersyukur melihat kedua putranya menjalani aktivitas masing-masing dengan penuh tanggung jawab.

Baginya, pengalaman yang dijalani Andi Asram maupun Andi Asmar bukan sekadar kegiatan atau perjalanan biasa. Ada proses pembentukan karakter di dalamnya—bagaimana seorang anak belajar menghadapi lingkungan baru, memegang tanggung jawab, menjaga disiplin, sekaligus membawa nama baik keluarga dan daerah.

Untuk Andi Asram, perjalanan menuju Cibubur menjadi bagian dari pengalaman yang diharapkan dapat memperluas wawasan sekaligus menempa jiwa kepemimpinannya melalui Jambore Nasional 2026.

“Untuk Andi Asram, ikuti Jambore Nasional dengan baik, jaga disiplin, bangun persaudaraan dan manfaatkan kesempatan ini untuk belajar,” pesannya.

Sementara kepada Andi Asmar, pesan yang diberikan tak kalah sederhana, tetapi sarat makna.

“Untuk Andi Asmar, selamat kembali ke Magelang, lanjutkan pendidikan dengan sungguh-sungguh,” pesannya.

Pemandangan dua putranya berangkat dengan moda transportasi yang berbeda yang satu menumpang kapal Pelni, sementara sang kakak menaiki Hercules bisa saja menjadi cerita menarik tentang perjalanan sebuah keluarga.

Namun bagi Andi Asman, bukan kendaraan yang menjadi inti dari cerita itu.

“Bagi saya, bukan soal naik kapal atau naik Hercules. Yang paling penting adalah perjalanan mereka menuju masa depan dan bagaimana mereka bisa menjadi anak-anak yang bermanfaat bagi bangsa dan daerah,” tutupnya.

Hari itu, kapal membawa sang bungsu menuju Cibubur. Hercules membawa sang kakak kembali ke Magelang.

Sementara seorang ayah melepas keduanya dengan harapan yang sama: kelak, anak-anaknya tumbuh bukan hanya menjadi orang yang berhasil, tetapi juga pribadi yang disiplin, mandiri, mampu mengabdi, dan memberi manfaat bagi orang lain.

Sebab bagi seorang ayah, melepas anak pergi bukan berarti kehilangan peran. Justru di situlah salah satu bentuk pendidikan dimulai memberi ruang kepada anak untuk melangkah sendiri, belajar dari perjalanan, dan menemukan jalan menuju masa depannya. (*)