BONE – Di tengah berbagai tantangan ekonomi yang masih dirasakan masyarakat, Kabupaten Bone kembali mencatat kabar yang menggembirakan. Stabilitas harga kebutuhan masyarakat tetap terjaga. Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bone merilis Perkembangan Indeks Harga Konsumen (IHK) Watampone periode Juli 2026 yang menunjukkan inflasi semakin terkendali, bahkan Kota Watampone mengalami deflasi secara bulanan.
Berdasarkan Berita Resmi Statistik (BRS) Nomor 10/08/7311/Th. XIX yang diterbitkan pada 3 Agustus 2026, Watampone mengalami deflasi sebesar 0,31 persen secara bulanan (month-to-month). Sementara itu, inflasi kalender (year-to-date) tercatat 2,44 persen, sedangkan inflasi tahunan (year-on-year) berada di angka 2,50 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 110,84.
Angka tersebut menjadi indikator bahwa daya kendali terhadap pergerakan harga berbagai komoditas di Kabupaten Bone masih berada pada jalur yang positif. Deflasi bulanan menunjukkan adanya penurunan rata-rata harga sejumlah komoditas dibandingkan bulan sebelumnya, sementara inflasi tahunan yang terus melandai menjadi sinyal stabilitas ekonomi daerah semakin membaik.
Meski inflasi tahunan masih terjadi, penyumbang utamanya berasal dari kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau dengan andil sebesar 1,17 persen. Kelompok ini memang menjadi komponen yang paling sensitif terhadap perubahan harga kebutuhan masyarakat sehari-hari.
Kontributor berikutnya berasal dari kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya yang menyumbang 0,71 persen, disusul kelompok Transportasi sebesar 0,22 persen.
Sementara kelompok pengeluaran lainnya memberikan kontribusi yang relatif kecil, yakni Penyediaan Makanan dan Minuman/Restoran sebesar 0,13 persen, Pakaian dan Alas Kaki 0,07 persen, Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga 0,05 persen, Perlengkapan dan Pemeliharaan Rutin Rumah Tangga 0,05 persen, Rekreasi, Olahraga dan Budaya 0,04 persen, Informasi, Komunikasi dan Jasa Keuangan 0,03 persen, Pendidikan 0,03 persen, serta Kesehatan yang tercatat 0,00 persen.
Data BPS juga memperlihatkan perjalanan inflasi di Watampone sepanjang tahun 2026 yang menunjukkan kecenderungan semakin stabil. Setelah mencapai puncaknya pada Februari sebesar 5,87 persen, inflasi tahunan terus mengalami penurunan menjadi 4,70 persen pada Maret, 3,54 persen pada April, 3,53 persen pada Mei, sempat meningkat tipis menjadi 3,76 persen pada Juni, sebelum akhirnya turun kembali menjadi 2,50 persen pada Juli.
Tren tersebut mencerminkan bahwa berbagai upaya menjaga ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, serta pengendalian harga bahan kebutuhan pokok mulai memberikan hasil yang nyata.
Jika dibandingkan secara regional maupun nasional, capaian Watampone juga tergolong baik. Inflasi tahunan sebesar 2,50 persen berada di bawah rata-rata Provinsi Sulawesi Selatan yang mencapai 2,75 persen dan juga lebih rendah dibandingkan inflasi nasional sebesar 2,88 persen.
Di Sulawesi Selatan sendiri, inflasi tertinggi pada Juli 2026 tercatat di Luwu Timur sebesar 3,50 persen, sedangkan yang terendah berada di Kota Palopo sebesar 1,48 persen.
Bupati Bone H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., M.M. menyambut baik capaian tersebut. Menurutnya, inflasi yang tetap terkendali merupakan hasil sinergi seluruh pihak dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah.
“Alhamdulillah, kita patut bersyukur karena inflasi di Kabupaten Bone masih terjaga dengan baik. Ini menunjukkan bahwa berbagai langkah pengendalian harga dan ketersediaan kebutuhan pokok berjalan efektif. Pemerintah Kabupaten Bone akan terus memperkuat koordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan agar daya beli masyarakat tetap terjaga dan perekonomian daerah semakin kuat,” ujar Bupati Bone.
Data BPS Kabupaten Bone ini menjadi pengingat bahwa menjaga stabilitas harga bukan sekadar soal angka statistik, melainkan bagian penting dalam memastikan masyarakat dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan harga yang terjangkau. Ketika inflasi tetap terkendali, daya beli masyarakat lebih terjaga, aktivitas ekonomi bergerak lebih sehat, dan pembangunan daerah dapat berlangsung dengan lebih berkelanjutan. (*)


Tinggalkan Balasan