Oleh: Dr. Asia A. Pananrangi
Dekan Fakultas Hukum dan Politik Universitas Andi Sudirman

Pemandangan di berbagai sekolah di Kabupaten Bone baru-baru ini tampak berbeda dari biasanya. Ruang kelas yang lazimnya dipenuhi oleh para ibu saat momentum penerimaan rapor, kini mendadak riuh oleh kehadiran para ayah. Perubahan lanskap sosial di lingkungan sekolah ini bukanlah sebuah kebetulan, melainkan buah dari kebijakan taktis Pemerintah Kabupaten Bone yang menggalakkan GEMAR (Gerakan Ayah Mengambil Rapor). Instruksi ini mewajibkan kaum pria—para kepala keluarga—untuk hadir langsung melihat capaian belajar anak-anak mereka..

Secara kasat mata, kebijakan ini tampak seperti urusan domestik dunia pendidikan semata. Namun, jika dibedah lebih dalam, langkah Bupati Bone ini sebenarnya merupakan sebuah jangkar psikologis yang sangat cerdas. Pemkab Bone sedang mengetuk kesadaran para ayah untuk masuk ke ruang pengasuhan, yang pada akhirnya bermuara pada kesuksesan program PAPA Gizi (Peran Ayah untuk Ketahanan Pangan dan Gizi Keluarga).

Selama ini, ada miskonsepsi budaya yang mengakar kuat di tengah masyarakat. Beberapa warga masih menganggap tabu atau “malu” jika seorang laki-laki turun tangan mengurus urusan domestik anak. Urusan mencari nafkah dianggap sebagai satu-satunya batas tanggung jawab seorang ayah. Begitu melangkah ke dalam rumah, urusan pendidikan, kesehatan, hingga pemenuhan isi piring di meja makan sepenuhnya digeser ke pundak ibu. Domestikasi peran yang timpang ini menciptakan jurang pemisah. Banyak ayah di Bone yang bekerja keras sebagai petani atau pedagang, namun tidak pernah tahu apakah hasil keringat mereka telah dikonversi menjadi asupan pangan yang bergizi bagi tumbuh kembang anak mereka sendiri.

Di sinilah kewajiban mengambil rapor berfungsi sebagai “pintu masuk” spiritual. Ketika seorang ayah duduk di hadapan wali kelas, ia dipaksa untuk melihat realitas perkembangan buah hatinya secara langsung. Ia akan mendengar catatan tentang konsentrasi belajar anak, kondisi fisik, hingga indikator kesehatannya di sekolah. Kehadiran fisik di sekolah ini secara perlahan meruntuhkan ego patriarki dan menumbuhkan rasa kepemilikan (sense of ownership) yang tinggi terhadap masa depan anak.

Ayah yang telah tergugah kesadaran akademiknya di sekolah, akan jauh lebih mudah digerakkan untuk peduli pada urusan ketahanan pangan rumah tangga. Sebab, kecerdasan anak di ruang kelas tidak pernah berdiri sendiri; ia ditopang oleh kualitas gizi dari makanan yang dihidangkan di rumah. Melalui integrasi dengan program PAPA Gizi, momentum mengambil rapor menjadi alarm pengingat bagi para ayah bahwa ketahanan pangan daerah tidak lagi diukur dari seberapa luas lumbung padi Kabupaten Bone. Melainkan, diukur dari seberapa merata gizi seimbang yang tersaji di atas meja makan keluarga.

Dengan kebijakan ini, Pemerintah Kabupaten Bone tidak sedang menyusahkan para ayah dengan urusan birokrasi sekolah. Sebaliknya, ini adalah langkah mengembalikan marwah seorang ayah sebagai pelindung sejati—bukan sekadar mesin pencari uang, tetapi sebagai garda terdepan penjamin ketahanan pangan dan gizi keluarga. Masa depan generasi emas Bone yang tangguh kini tidak lagi dibebankan pada ibu seorang diri. Langkah tersebut dimulai dari kaki para ayah yang ringan melangkah ke sekolah, dan pulang membawa komitmen pemenuhan gizi yang kuat demi anak-anak mereka. (*)