BONE– Di balik padatnya agenda sebagai Bupati Bone, H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., M.M. atau yang akrab disapa BupAAS, tersimpan peran yang tak pernah lepas dari dirinya: seorang ayah yang menaruh cinta, harapan, dan doa untuk masa depan anaknya.
Sabtu, 11 Juli 2026, menjadi hari yang penuh makna bagi keluarga BupAAS. Bersama sang istri, Hj. Maryam Andi Asman, Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Bone, ia mengantar putri tercinta, Andi Tri Suci Caesara Putri AS, mengikuti penyambutan peserta didik baru di SMP-SMA Islam Athirah Bone.
Tak ada protokoler yang mencolok. Mengenakan kemeja putih dipadukan celana panjang berwarna gelap, BupAAS berjalan mendampingi putrinya hingga ke kamar asrama yang akan menjadi rumah kedua selama menempuh pendidikan.
Di sisi lain, sang ibu tampak memberikan pelukan hangat dan semangat, seolah menitipkan kekuatan kepada putrinya yang akan memulai babak baru kehidupan. Momen itu menghadirkan gambaran sederhana tentang kasih sayang orang tua yang harus rela melepas anaknya belajar mandiri demi masa depan.
Pada saat itu, jabatan seakan luruh oleh naluri seorang ayah. Yang tampak bukanlah seorang kepala daerah dengan berbagai tanggung jawab pemerintahan, melainkan seorang ayah yang mengantar anaknya melangkah menuju gerbang masa depan.
Bagi BupAAS, memilih lingkungan pendidikan terbaik merupakan bagian dari tanggung jawab orang tua dalam mempersiapkan masa depan anak.
“Sebagai orang tua, tentu kami ingin memberikan pendidikan terbaik bagi anak. SMA Islam Athirah Bone adalah sekolah yang memiliki kualitas sangat baik dan sudah dikenal secara nasional. Kami berharap anak kami dapat tumbuh menjadi pribadi yang berilmu, berakhlak mulia, mandiri, dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar BupAAS.
Keputusan tersebut bukan tanpa alasan. SMP-SMA Islam Athirah Bone telah dikenal sebagai salah satu lembaga pendidikan unggulan yang menarik minat peserta didik dari berbagai daerah di Indonesia.
Dengan sistem pendidikan berbasis asrama, sekolah ini tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu, tetapi juga ruang pembentukan karakter, kedisiplinan, dan kemandirian. Bahkan, lingkungan belajar di Athirah Bone juga dihuni peserta didik dari mancanegara, termasuk Malaysia, menghadirkan keberagaman yang memperkaya pengalaman belajar sekaligus menumbuhkan sikap saling menghargai di tengah perbedaan.
Di tengah arus globalisasi, keberagaman tersebut menjadi bekal penting bagi generasi muda untuk memiliki wawasan luas tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman sebagai fondasi utama kehidupan.
Momen ketika BupAAS dan Hj. Maryam mengantar putri mereka hingga ke kamar asrama menjadi potret yang begitu menyentuh. Sebuah pengingat bahwa setinggi apa pun amanah yang diemban seseorang, keluarga tetap menjadi tempat pulang, sementara anak-anak adalah amanah yang harus dipersiapkan dengan penuh cinta, perhatian, dan doa.
Langkah kaki menuju kamar asrama pada pagi itu mungkin terlihat sederhana. Namun bagi keluarga BupAAS, langkah tersebut menjadi simbol dimulainya perjalanan baru sebuah ikhtiar untuk membentuk generasi yang cerdas, berkarakter, berakhlak mulia, dan kelak mampu mengabdikan diri bagi agama, bangsa, serta tanah kelahirannya.
Di balik ruang-ruang rapat, kebijakan pembangunan, dan berbagai keputusan yang diambil setiap hari sebagai Bupati Bone, selalu ada ruang di hati seorang ayah yang percaya bahwa investasi terbaik bukan hanya membangun daerah, tetapi juga membangun masa depan anak-anaknya. (*)


Tinggalkan Balasan