BONE – Semangat menjaga lingkungan hidup tidak hanya digaungkan melalui kampanye dan seremonial. Di Kabupaten Bone, semangat itu hadir dalam bentuk karya nyata hasil kreativitas para pelajar yang mampu mengubah sampah dan limbah menjadi produk bernilai guna dan bernilai ekonomi.

Pemerintah Kabupaten Bone melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) menggelar Pameran Produk Daur Ulang Sampah Berbudaya Lingkungan dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Kegiatan yang dipusatkan di Podium Lapangan Merdeka Watampone sejak 5 hingga 7 Juni 2026 ini menjadi panggung bagi puluhan sekolah untuk menampilkan inovasi ramah lingkungan hasil karya peserta didik.

Momentum Car Free Day pada Minggu (7/6/2026) menjadi hari yang istimewa. Bupati Bone, H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., MM, hadir langsung meninjau setiap stan pameran. Kedatangannya disambut Kepala Dinas Lingkungan Hidup Bone, Dray Vibrianto, S.IP., M.Si, bersama para guru dan siswa peserta pameran.

Di sepanjang area pameran, beragam produk inovatif menarik perhatian pengunjung. Mulai dari kursi berbahan bekas ban mobil karya SMP Negeri 1 Bone, alat pencetak briket dan teknologi pirolisis dari SMP Negeri 1 Kahu, hingga media tanam ecosubstrate dari SMP Negeri 2 Salomekko.

Tak kalah menarik, sejumlah sekolah dasar menampilkan produk berbasis sumber daya alam lokal dan limbah rumah tangga. SD Negeri 41 Mallari memamerkan minyak gosok sereh merah dan pupuk cair, sementara SD Inpres 12/79 Macanang menghadirkan pupuk cair “Beramal Tani” serta mesin pencacah. Kreativitas lain tampak pada kerajinan bunga dan kipas dari daun lontar karya SD Negeri 207 Apala serta berbagai produk herbal dari SD Negeri 10 Manurunge.

Pada jenjang SMP dan SMA, inovasi yang ditampilkan semakin beragam. Ada sabun cuci dari limbah minyak goreng rumah tangga, pupuk organik cair, pestisida nabati, ekoenzim, hingga pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar. Bahkan, SMP Negeri Satap 3 Barebbo menampilkan sederet teknologi terapan seperti tempat sampah pintar berbasis Internet of Things (IoT), smart greenhouse, alat pembersih sampah bergerak, hingga sistem penghemat energi.

Sementara itu, MAN 2 Bone memperkenalkan alat pemotong gabus yang memanfaatkan pengisi daya telepon genggam serta inovasi pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar. SMA Negeri 8 Bone juga menampilkan produk ecoprint, sabun dari minyak jelantah, dan teknologi konversi sampah plastik menjadi BBM.

Bagi Bupati Bone, apa yang ditampilkan para pelajar tersebut bukan sekadar hasil tugas sekolah. Menurutnya, karya-karya itu menunjukkan bahwa pendidikan lingkungan hidup telah berhasil menanamkan kesadaran bahwa sampah memiliki nilai dan manfaat jika dikelola dengan baik.

“Kita melihat dari booth yang ada, ternyata mulai dari sekolah SD, SMP hingga SMA luar biasa inovasinya. Mereka mampu melahirkan berbagai produk dari limbah dan sampah. Bahkan limbah cair dari olahan ikan bisa menjadi pupuk cair,” ujar Andi Asman Sulaiman saat meninjau pameran.

Ia menilai inovasi yang lahir dari laboratorium dan lingkungan sekolah perlu terus dikembangkan serta diperkenalkan lebih luas kepada masyarakat.

“Ini salah satu hal yang harus kita kembangkan. Dari laboratorium sekolah tersebut bisa kita tularkan dan edukasikan kepada masyarakat. Melalui pendidikan sejak dini, anak-anak memahami bahwa sampah itu punya nilai dan punya harga,” katanya.

Lebih jauh, Bupati Bone melihat potensi besar dari berbagai karya yang dihasilkan para siswa untuk menjadi bagian dari program pembangunan daerah di masa mendatang.

“Dengan berbagai karya yang ditemukan dan dihasilkan oleh putra-putri kita sejak SD, SMP, dan SMA, nantinya bisa menjadi salah satu inovasi daerah. Tinggal bagaimana kita melakukan penguatan dan pembinaan sehingga bisa masuk dalam program daerah dan diterapkan di masyarakat,” tambahnya.

Salah satu produk yang paling menarik perhatian Bupati adalah kerajinan berbahan dasar kemasan plastik bekas, khususnya bungkus kopi yang disulap menjadi tas anyaman.

“Tadi ada bekas bungkus kopi yang dijadikan tas. Ini luar biasa. Kalau anyamannya lebih rapi, orang tidak akan tahu bahwa itu berasal dari sampah bungkus kopi. Ini menunjukkan bahwa sampah sebenarnya bisa menjadi produk yang bernilai ekonomi,” ujarnya.

Pameran ini tidak hanya menjadi ajang unjuk kreativitas, tetapi juga bukti bahwa gerakan peduli lingkungan telah tumbuh di kalangan generasi muda Bone. Dari ruang-ruang kelas dan laboratorium sekolah, lahir gagasan-gagasan sederhana namun berdampak besar bagi masa depan lingkungan.

Di tengah meningkatnya tantangan pengelolaan sampah, karya para pelajar Bone memberikan harapan bahwa perubahan dapat dimulai dari sekolah. Bahwa sampah bukan akhir dari sebuah barang, melainkan awal dari sebuah inovasi. Dan dari tangan-tangan kreatif generasi muda inilah, masa depan lingkungan yang lebih bersih dan berkelanjutan sedang dibangun. (*)