BALIKPAPAN– Komitmen menjadikan Kabupaten Bone sebagai salah satu titik strategis pengembangan energi nasional kian menguat. Hal ini tercermin dalam kegiatan sosialisasi usaha hulu migas yang mempertemukan pemerintah daerah dengan pihak investor, sebagai tindak lanjut dari perjanjian kerja sama antara pemerintah dan Energy Equity Epic Sengkang (EEES) melalui kontrak No. 008/SKKMIGAS-EEES/III/2026 tertanggal 6 Maret 2026.

Bertempat di Hotel Astara, Selasa (21/4/2026), kegiatan ini dihadiri langsung oleh Bupati Bone, H. Andi Asman Sulaiman, yang menyampaikan optimisme sekaligus harapan besar masyarakat terhadap masuknya investasi migas di wilayahnya.

Dalam sambutannya, Bupati menegaskan kehadirannya bukan sekadar formalitas, melainkan sebagai representasi suara masyarakat Bone.

“Ini adalah momentum penting. Bone kini menjadi pusat perhatian dalam pengembangan energi. Kami menyambut baik dan siap mengawal agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa kegiatan pengeboran migas tidak boleh berhenti pada aspek eksplorasi semata, tetapi harus memberi dampak nyata. Pemerintah daerah, kata dia, siap hadir sebagai fasilitator, terutama dalam percepatan perizinan agar investasi bernilai besar ini dapat segera berjalan.

Lebih jauh, ia menegaskan pentingnya pengawasan bersama agar program tidak melenceng dari tujuan awal.

“Dengan nilai investasi yang besar, kita wajib memastikan ini tepat sasaran. Mari kita kawal bersama, kita support bersama,” tegasnya.

Di balik potensi besar sektor migas, Bupati juga menyoroti aspek sosial yang tak kalah penting: pemberdayaan masyarakat lokal.

Ia mengungkapkan masih terdapat ratusan kepala keluarga di Bone yang membutuhkan perhatian, terutama dalam hal kesempatan kerja.

“Kami berharap ada keterlibatan masyarakat sebagai tenaga kerja. Ini bukan hanya soal energi, tapi juga soal kesejahteraan,” tambahnya.

Harapan ini sejalan dengan visi pemerintah daerah untuk menjadikan sektor energi sebagai salah satu pendorong peningkatan pendapatan daerah sekaligus pengentasan masalah sosial.

Sementara itu, General Manager EEES wilayah Wajo, Farid Gaffar, menyampaikan apresiasi atas dukungan kuat dari pemerintah daerah Bone dan Wajo.

Ia menjelaskan bahwa pengalaman panjang EEES di Kabupaten Wajo sejak 1997 menjadi modal penting untuk ekspansi ke Bone. Selama ini, produksi gas di Wajo telah dimanfaatkan untuk kebutuhan kelistrikan dan bahkan jaringan gas rumah tangga yang telah menjangkau sekitar 20 ribu pelanggan.

“Ke depan, kami akan mulai kegiatan di Bone. Diawali survei seismik dua dimensi, kemudian ditargetkan pengeboran sumur eksplorasi di wilayah Dua Boccoe pada akhir tahun,” jelasnya.

Tak hanya itu, peluang pembangunan jaringan gas kota (city gas) juga terbuka lebar bagi Bone, dengan pengajuan ke Kementerian ESDM jika proyek berjalan sesuai rencana.

Dari sisi regulator, Kepala Perwakilan SKK Migas wilayah Kalimantan-Sulawesi, Azhari Idris, menekankan bahwa industri hulu migas merupakan sektor dengan kompleksitas tinggi.

“Kegiatan ini membutuhkan teknologi tinggi, modal besar, dan juga berisiko tinggi. Tapi ini adalah kegiatan negara, yang tujuannya untuk kemakmuran rakyat,” ungkapnya.

Ia juga menyebutkan bahwa tim SKK Migas yang berjumlah puluhan orang bekerja setiap hari mengawasi wilayah Kalimantan dan Sulawesi, memastikan setiap tahapan berjalan sesuai standar dan memberi manfaat maksimal bagi negara.

Pertemuan ini bukan sekadar sosialisasi, melainkan awal dari perjalanan panjang yang diharapkan mampu mengubah wajah ekonomi daerah. Dari ruang pertemuan di hotel, harapan besar mengalir hingga ke desa-desa tentang lapangan kerja, peningkatan pendapatan, hingga akses energi yang lebih merata.

Jika semua pihak konsisten mengawal, maka langkah awal ini bisa menjadi pijakan penting menuju Bone sebagai salah satu pusat energi masa depan di Indonesia di mana investasi besar tidak hanya menghasilkan energi, tetapi juga kesejahteraan bagi masyarakatnya. (*)