JAKARTA– Di tengah hiruk-pikuk ibu kota, langkah itu tak selalu mewah. Selama sepekan di Jakarta, Bupati Bone, H. Andi Asman Sulaiman (BupAAS), justru memilih jalan yang jauh dari gemerlap: menginap di mess pemerintah daerah, berkeliling menggunakan sedan tua, dan makan seadanya. Namun dari kesederhanaan itulah, hasil besar dibawa pulang.

“Alhamdulillah,” ucapnya singkat, penuh syukur sebuah kata yang merangkum kerja panjang, lobi tanpa lelah, dan keyakinan bahwa daerah harus diperjuangkan dengan sungguh-sungguh.

Sepekan di Jakarta bukan sekadar kunjungan formal. Itu adalah “pengembaraan anggaran”. Dari satu kementerian ke kementerian lain, BupAAS mengetuk pintu, mempresentasikan kebutuhan daerah, dan memastikan Bone tidak hanya didengar tetapi juga diperhatikan.

Hasilnya tidak main-main: ratusan miliar rupiah potensi anggaran dan bantuan berhasil diamankan untuk berbagai sektor strategis.

Di sektor infrastruktur dan konektivitas, peningkatan Bandara Arung Palakka menjadi salah satu capaian penting. Pemerintah pusat merespons dengan rencana tender perencanaan pada Juni mendatang, termasuk target pengembangan landasan hingga 2.500 meter sebuah langkah besar membuka akses Bone ke jaringan transportasi yang lebih luas.

Di tengah ancaman musim kemarau 2026, fokus pada ketahanan pangan menjadi kunci. Dari berbagai pertemuan strategis, Kabupaten Bone mendapatkan dukungan nyata:

Hibah 2 unit gudang dari Bulog

1 unit mobil laboratorium untuk penguatan kualitas pangan

Bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan)

Pompa air berkapasitas besar dan penguatan irigasi dari Kementerian Pertanian

Dukungan bibit dan benih untuk petani

Tak berhenti di situ, dukungan dari Badan Pangan Nasional (Bapanas) juga menghadirkan bantuan kendaraan operasional yang akan memperkuat distribusi dan pengawasan pangan di daerah.

Semua ini bukan sekadar angka, tetapi fondasi menghadapi tantangan krisis pangan global dan perubahan iklim.

Jejak perjuangan itu juga menyentuh sektor lain. Pembangunan gudang, penguatan sektor pertanian, hingga dukungan untuk fasilitas pendidikan ikut menjadi bagian dari hasil yang dibawa pulang.

Bagi BupAAS, pembangunan bukan hanya tentang satu sektor, tetapi tentang menyusun masa depan daerah secara utuh dari petani di sawah hingga pelajar di ruang kelas.

Yang paling mencuri perhatian bukan hanya hasilnya, tetapi cara mencapainya. Tidak ada iring-iringan mewah. Tidak ada fasilitas berlebihan. Hanya sebuah sedan tua yang setia mengantar dari satu agenda ke agenda lain, dan mess sederhana sebagai tempat beristirahat.

Namun justru dari situ lahir sebuah pesan kuat:
bahwa kerja nyata tidak selalu harus terlihat megah yang penting adalah hasilnya.

Sepekan di Jakarta telah usai. Tetapi dampaknya akan terasa panjang di Bone di landasan bandara yang diperluas, di gudang pangan yang dibangun, di sawah yang kembali produktif, dan di harapan masyarakat yang kian tumbuh. Dari perjalanan sederhana, lahirlah hasil luar biasa. (*)