BONE– Di tengah semarak peringatan Hari Jadi Soppeng ke-765 di Aula Serbaguna di Jalan Kesatria, Watansoppeng, Rabu (8/4/2026), hadir sejumlah tokoh penting Sulawesi Selatan, termasuk Bupati Bone, H. Andi Asman Sulaiman.

Kehadiran H. Andi Asman Sulaiman bukan sekadar memenuhi undangan seremonial. Ada cerita yang lebih dalam tentang jejak awal pengabdian, tentang kenangan yang kembali hidup di tanah yang pernah menjadi saksi langkah pertamanya sebagai aparatur sipil negara.

Di hadapan tamu undangan, termasuk Gubernur Sulawesi Selatan H. Andi Sudirman Sulaiman dan Wakil Gubernur Hj. Fatmawati Rusdi, ia menyampaikan ucapan selamat sekaligus harapan bagi Kabupaten Soppeng. Ucapan itu ditujukan kepada Bupati Soppeng Suwardi Haseng dan Wakil Bupati Selle KS Dalle agar terus membawa daerah tersebut ke arah yang lebih baik.

Namun, bagi Andi Asman, Soppeng bukan sekadar wilayah tetangga. Di sanalah, pada tahun 2003, ia memulai perjalanan panjang sebagai ASN golongan II. Kecamatan Ganra menjadi titik awal pengabdiannya tempat ia belajar memahami denyut pelayanan publik dari tingkat paling dasar.

Kenangan itu seolah kembali menyapa saat ia menjejakkan kaki di Watansoppeng. Dari seorang staf kecamatan, perjalanan hidupnya kemudian membawanya pulang ke tanah kelahiran, Kabupaten Bone, dengan segudang pengalaman dan kematangan.

Di Bone, kariernya berkembang secara bertahap namun pasti. Ia pernah mengemban tugas sebagai staf di Dinas Tata Ruang, kemudian dipercaya menjadi Lurah Majang pada 2011. Langkahnya terus menanjak, mengisi berbagai posisi strategis seperti Kasi di Dinas Pariwisata, Sekretaris Kecamatan Bengo, Camat Barebbo, hingga memimpin sejumlah dinas penting mulai dari Kepala Dinas Ketahanan Pangan hingga Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan. Semua perjalanan itu akhirnya bermuara pada amanah besar dari masyarakat: menjadi Bupati Bone periode 2025–2030.

Momentum Hari Jadi Soppeng ke-765 pun menjadi lebih dari sekadar perayaan. Ia menjelma menjadi ruang refleksi bagi seorang pemimpin yang pernah memulai dari bawah tentang arti pengabdian, tentang kesetiaan pada proses, dan tentang bagaimana sebuah langkah kecil di masa lalu dapat menentukan arah besar di masa depan.

Di Watansoppeng, nostalgia itu bukan hanya milik H. Andi Asman Sulaiman. Ia menjadi inspirasi bahwa setiap pengabdian, sekecil apa pun, adalah fondasi menuju kepemimpinan yang bermakna. (*)