BONE– Di tengah tantangan perubahan iklim dan tekanan terhadap sumber daya alam, langkah konkret mulai dirancang di Kabupaten Bone. Pemerintah daerah bersama para pemangku kepentingan lintas sektor duduk bersama, merumuskan masa depan bentang lahan yang lebih lestari dan produktif.

Bertempat di Hotel Helios Watampone, Rabu (6/5/2026), Wakil Bupati Bone, H. Andi Akmal Pasluddin, secara resmi membuka Lokakarya Membangun Strategi Pengelolaan Bentang Lahan Berkelanjutan melalui pendekatan Integrated Area Development (IAD) berbasis perhutanan sosial.

Kegiatan ini bukan sekadar seremoni. Dirangkaikan dengan Focus Group Discussion (FGD), forum ini menjadi ruang strategis untuk merumuskan arah kebijakan pembangunan yang lebih terintegrasi. Para peserta yang hadir berasal dari berbagai sektor pemerintah, akademisi, hingga praktisi lapangan membawa perspektif yang beragam namun dengan tujuan yang sama: menjaga keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan kelestarian lingkungan.

Dalam sambutannya, H. Andi Akmal Pasluddin menekankan bahwa pendekatan IAD berbasis perhutanan sosial merupakan salah satu solusi kunci untuk menjawab tantangan tersebut. Ia melihat bahwa pengelolaan bentang lahan tidak bisa lagi dilakukan secara parsial, melainkan harus terintegrasi dan berkelanjutan.

“Melalui pendekatan ini, kita berharap mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus menjaga fungsi ekosistem secara berkelanjutan,” ujarnya.

Lebih jauh, ia menyebut bahwa lokakarya ini menjadi momentum penting untuk menyatukan persepsi lintas sektor. Sinergi antar lembaga dinilai krusial dalam menyusun dokumen IAD Kabupaten Bone yang aplikatif dan berbasis kebutuhan nyata di lapangan.

Sejumlah tokoh turut hadir dalam kegiatan ini, di antaranya Andre Ekadinata, Kepala Bappeda Bone A. Muh. Yusuf, Kepala KPH Cenrana Andi Tonra Solie, serta Kepala KPH Ulubila Andi Ariadi. Kehadiran mereka memperkuat kolaborasi antara pemerintah daerah dan lembaga teknis dalam merancang strategi pembangunan berkelanjutan.

Tak hanya itu, tim penyusun IAD Kabupaten Bone, perwakilan organisasi perangkat daerah (OPD), serta berbagai elemen lainnya juga ambil bagian aktif dalam diskusi. Mereka menyumbangkan ide, pengalaman, serta data yang akan menjadi fondasi dalam penyusunan strategi ke depan.

Melalui lokakarya dan FGD ini, diharapkan lahir sebuah rumusan komprehensif yang tidak hanya berpihak pada kelestarian lingkungan, tetapi juga mampu mengangkat potensi lokal dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kabupaten Bone pun menegaskan komitmennya untuk melangkah menuju pembangunan yang inklusif, berkelanjutan, dan berdaya saing. (*)