BONE–Suasana hangat dan penuh keakraban menyelimuti Rumah Jabatan Wakil Bupati Bone pada Jumat malam, 30 Mei 2024. Di tengah aroma kopi yang mengepul dan bincang santai yang mengalir, Pemerintah Kabupaten Bone menggelar sebuah refleksi sederhana bertajuk Coffee Break 100 Hari Kerja, menandai tonggak awal kepemimpinan pasangan Bupati Bone H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., MM dan Wakil Bupati Dr. H. Andi Akmal Pasluddin, MM yang dikenal dengan tagline “BerAmal”.

Kepemimpinan “BerAmal” singkatan dari Bersama Andi Asman dan Akmal memasuki usia 100 hari pada tanggal 30 Mei 2025. Momen ini dimaknai bukan sekadar sebagai capaian waktu, tetapi sebagai ruang refleksi, kontemplasi, dan apresiasi atas semangat kolaborasi lintas sektor yang telah mulai tumbuh di Bumi Arung Palakka.

Dipandu oleh moderator kawakan Drs. Bahtiar Parenrengi, diskusi berlangsung santai namun berbobot. Para mitra strategis dari sektor perbankan, swasta, pimpinan perguruan tinggi, akademisi, media cetak dan elektronik, serta berbagai organisasi masyarakat hadir memberi warna. Turut hadir Pj. Sekda Bone H. A. Saharuddin, S.STP., M.Si serta para kepala OPD yang menjadi garda depan dalam menjalankan agenda kerja “BerAmal”.

Meski Bupati Bone H. Andi Asman Sulaiman tidak dapat hadir langsung karena menjalankan tugas dinas luar daerah, ia tetap menyampaikan sambutannya melalui sambungan telepon kepada Wakil Bupati yang tengah memimpin jalannya kegiatan. Dalam pesan hangatnya, Bupati menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung perjalanan awal kepemimpinan mereka.

“Apa yang menjadi harapan masyarakat Bone satu per satu mulai kita jawab. Terima kasih atas sinergi seluruh OPD dan mitra kerja. Ini adalah kerja bersama,” ucapnya.

Selama 100 hari ini, sejumlah program konkret telah diluncurkan sebagai bukti komitmen “BerAmal”. Di antaranya, peluncuran program seragam gratis bagi peserta didik baru di jenjang SD dan SMP, pendekatan layanan administrasi kependudukan hingga ke tingkat kecamatan, serta peningkatan produktivitas sektor pertanian melalui bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan), dan penyaluran benih kepada kelompok tani.

Di bidang kebersihan dan lingkungan, kepemimpinan BerAmal juga mencoba membangun wajah Bone yang lebih bersih, asri, dan nyaman. Tak kalah penting, reformasi kedisiplinan ASN menjadi perhatian agar pelayanan publik berjalan maksimal.

Meski capaian infrastruktur seperti jalan dan jembatan belum sepenuhnya dirasakan, pemerintah meyakinkan bahwa sektor ini menjadi fokus utama dalam satu tahun ke depan. Dalam kondisi fiskal daerah yang terbatas, Pemerintah Kabupaten Bone berupaya menggandeng pemerintah pusat dan provinsi agar pembangunan dapat terus berjalan.

“Kita tidak bisa hanya mengandalkan APBD. Perlu strategi pengelolaan anggaran dan kolaborasi lintas wilayah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat,” ungkap Bupati Bone H. Andi Asman Sulaiman.

Momentum ini bukan hanya menjadi catatan awal, tetapi juga titik tolak bagi semangat gotong royong membangun Bone yang lebih maju dan sejahtera.

“Dukung kami, mari kita bersinergi bersama membangun Bone,” tutupnya, disambut tepuk tangan dari seluruh hadirin.

Sementara itu, Wakil Bupati Bone, Dr. H. Andi Akmal Pasluddin, MM, berbicara lugas dan tegas saat mengungkapkan capaian dan perjuangan selama 100 hari memimpin Kabupaten Bone. Dalam situasi fiskal yang tidak ideal, mereka tetap memilih berani melangkah.

“Kita tidak tinggal diam di tengah keterbatasan,” ujarnya membuka pernyataan. Salah satu langkah berani yang diambil kepemimpinan BerAmal adalah menuntaskan utang-utang Pemda yang selama ini membelenggu: dari utang ke kontraktor hingga tunggakan Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) ASN yang kini telah dibayar meski baru 40 persen.

Kepemimpinan BerAmal menunjukkan sikap berpihak kepada masyarakat. Penajaman anggaran dilakukan melalui kebijakan refocussing. Salah satu hasilnya terlihat jelas: dari hanya Rp6 miliar, anggaran infrastruktur jalan melonjak hingga Rp80 miliar.

“Pengadaan mobil dinas, perjalanan dinas OPD, hingga ATK kita pangkas. Anggaran harus berpihak ke rakyat,” tegas Akmal. Meski tidak semua pihak senang, menurutnya, langkah ini menciptakan semangat kebersamaan dan soliditas antarpihak di lingkup pemerintahan.

Langkah refocussing ini pun beriringan dengan strategi peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Pemerintah daerah menargetkan APBD setengah miliar tanpa membuat pajak baru, melainkan dengan optimalisasi retribusi, terutama dari sektor jalan.

Target ini bukan tanpa alasan. Pemerintah pusat memotong anggaran sebesar Rp135 miliar melalui Instruksi Presiden terkait efisiensi anggaran. Namun, bukannya kendor, BerAmal justru menyambut tantangan ini dengan mengincar peluang baru. Di antaranya, bantuan pusat untuk infrastruktur: Rp70 miliar untuk jembatan dan potensi Rp100 miliar dari Inpres Jalan Daerah.

“Kita targetkan 100 kilometer jalan selesai tahun ini,” tegasnya.

Dari seragam gratis untuk 20 ribu siswa SD dan SMP, penambahan lima titik layanan KTP-el, hingga penyederhanaan layanan perizinan di Mal Pelayanan Publik (MPP) semua menjadi jawaban dari janji politik yang kini mulai terealisasi. Bahkan, Pemkab Bone telah menyiapkan tanah untuk pembangunan kantor Imigrasi, agar warga tak perlu lagi ke Makassar hanya untuk mengurus paspor.

Progres infrastruktur pun menjadi perhatian. Bandara Bone yang selama ini tertinggal kini didorong menjadi bandara nasional. Pemerintah provinsi bahkan telah mengalokasikan anggaran untuk pembebasan 20 hektar lahan dari total 1.600 hektar yang akan diperluas menjadi 2.600 meter landasan pacu.

Tak kalah penting, investor besar akan menanamkan investasi lebih dari Rp100 miliar untuk pembangunan pelabuhan peti kemas. Ini menjadi harapan besar untuk meningkatkan konektivitas dan perekonomian daerah.

Namun, tidak semua mimpi sudah terwujud. Program Universal Health Coverage (UHC) Istimewa, yang pernah diraih Bone, kini harus ditangguhkan akibat tunggakan dan belum cairnya dana sharing provinsi sekitar Rp65 miliar.

“Meski dicabut, layanan kesehatan tidak berhenti. Masalahnya hanya pada keaktifan kartu BPJS,” ujar Akmal. Validasi data pun dilakukan sebagai langkah nyata.

Ia menekankan pentingnya sosialisasi kepada masyarakat agar segera mendaftarkan diri ke BPJS Kesehatan sebelum sakit, bukan saat terdesak. Pemerintah daerah menanggung beban Rp8 miliar per bulan untuk UHC—beban yang tak ringan, namun tetap menjadi prioritas.

Wakil Bupati Bone menutup dengan nada optimistis. Ia yakin, dengan komitmen yang kuat dan kerja bersama seluruh jajaran OPD, mimpi-mimpi besar untuk Bone bukanlah ilusi. Meski masih banyak pekerjaan rumah, 100 hari kerja BerAmal telah membuktikan bahwa keberanian, efisiensi, dan keteguhan hati bisa menjadi pondasi perubahan.

“Bone bukan hanya bisa, Bone harus maju. Dan kami sedang mengarahkan langkah ke sana,” pungkasnya. (*)