BONE–UPT SMPN 1 Watampone di Jl. Gunung Kinabalu menjadi tuan rumah Lokakarya Refleksi Pendampingan oleh Pengawas Sekolah Penggerak, yang menghadirkan berbagai narasumber ahli. Acara ini menjadi ajang penting bagi para pengawas pembina dari berbagai jenjang pendidikan untuk merefleksikan dan mengevaluasi implementasi Kurikulum Merdeka di sekolah-sekolah penggerak.
Lokakarya ini dihadiri oleh Dr. H. Shabiel Zakaria, S.Pd., M.Pd. dari Cabang Dinas Wilayah III Bone, Sekretaris Dinas Pendidikan Bone, perwakilan dari Balai Besar Guru Penggerak, serta fasilitator dari Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar dan Universitas Negeri Makassar (UNM). Para peserta terdiri dari pengawas pembina jenjang TK, SD, SMP, hingga SMA, yang berbagi pengalaman dan gagasan dalam mendukung sekolah-sekolah binaan.
Dalam sambutannya, Dr. H. Shabiel Zakaria memberikan analogi yang menarik mengenai peran penting Pengawas Pembina. “Sehebat apa pun seorang petinju, seperti Muhammad Ali atau Mike Tyson, mereka tetap memiliki titik buta (blind spot) yang hanya bisa dilihat oleh pelatih. Begitu pula dengan sekolah penggerak. Pengawas Pembina hadir untuk melihat apa yang tidak terlihat oleh sekolah, mengisi kekurangan, dan menyempurnakan pelaksanaan Kurikulum Merdeka,” jelasnya.
Dr. Shabiel juga mengaitkan konsep ini dengan teori Johari Window yang diperkenalkan oleh Luft dan Ingham pada 1955. Teori ini menjelaskan bahwa blind spot adalah area di mana individu atau institusi tidak menyadari kekurangan mereka, tetapi hal tersebut diketahui oleh pihak lain. Dalam konteks ini, peran pengawas sangat penting sebagai “pelatih” yang memberikan masukan konstruktif demi menyempurnakan program Kurikulum Merdeka.
Para fasilitator dari Unismuh dan UNM juga memberikan arahan teknis mengenai bagaimana sekolah dapat terus meningkatkan mutu pendidikan. Diskusi yang hangat dan mendalam terjadi ketika pengawas dari berbagai jenjang berbagi tantangan dan strategi dalam implementasi program ini.
Lokakarya ini tidak hanya menjadi ruang refleksi, tetapi juga langkah konkret dalam mempersiapkan sekolah penggerak yang lebih matang dan berdaya saing. Fasilitator memberikan catatan penting tentang hal-hal yang perlu diperbaiki, mulai dari penguatan kompetensi guru hingga optimalisasi peran kepala sekolah dalam mendukung Kurikulum Merdeka.
Keberadaan lokakarya ini menunjukkan komitmen semua pihak, mulai dari pengawas hingga pemangku kebijakan, dalam memastikan program Sekolah Penggerak menjadi pilar utama peningkatan mutu pendidikan. Semangat kolaborasi ini diharapkan dapat membawa perubahan signifikan di Kabupaten Bone dan menjadi teladan bagi daerah lain di Indonesia. (*)



Tinggalkan Balasan