BONE — Perubahan iklim bukan lagi ancaman yang jauh. Di tengah kehidupan masyarakat, dampaknya hadir dalam bentuk kemarau yang lebih panjang, perubahan pola tanam, hingga ketidakpastian produksi pertanian. Kondisi tersebut menuntut masyarakat dan pemerintah untuk tidak hanya beradaptasi, tetapi juga membangun cara baru dalam mengelola sumber daya alam dan bentang lahan.

Di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, upaya membangun ketangguhan tersebut telah berlangsung melalui Land4Lives, sebuah proyek riset-aksi yang bekerja bersama pemerintah daerah, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan.

Selama hampir lima tahun, sejak 2021, Land4Lives mendorong berbagai inisiatif untuk memperkuat penghidupan masyarakat agar lebih tangguh menghadapi perubahan iklim. Program yang didukung Pemerintah Kanada melalui Global Affairs Canada itu tidak hanya menyasar kebijakan, tetapi juga menyentuh langsung kehidupan masyarakat di tingkat desa dan tapak.

Dari penyusunan kebijakan dan program restorasi hutan serta bentang lahan, pengelolaan daerah aliran sungai (DAS), hingga perbaikan penggunaan lahan dan perlindungan lingkungan, berbagai upaya dilakukan untuk memperkuat adaptasi sekaligus mitigasi perubahan iklim.

Di tingkat masyarakat, prosesnya dimulai dari Persetujuan Atas Dasar Informasi di Awal Tanpa Paksaan (Padiatapa), pembentukan kelompok usaha dan kelompok belajar, hingga pengembangan Tapak Percontohan Pertanian Cerdas Iklim (TP2CI).

Berbagai proses tersebut pada akhirnya tidak hanya menghasilkan kegiatan, tetapi juga pengetahuan, pengalaman, kelompok masyarakat, dan aset pembelajaran yang diharapkan tetap berjalan meski masa program berakhir.

Menjelang berakhirnya masa program pada Agustus 2026, Land4Lives menggelar dialog multipihak di Kabupaten Bone bertempat di Novena Hotel pada Selasa, 06 Oktober 2026. Forum tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan pemerintah, masyarakat, mitra pembangunan, kelompok tani, serta pemangku kepentingan lainnya untuk melihat kembali apa yang telah dilakukan sekaligus membicarakan keberlanjutannya. Dialog tersebut sekaligus menjadi momentum untuk memastikan berbagai capaian yang telah dibangun selama program tidak berhenti sebagai laporan akhir sebuah proyek.

Kegiatan dibuka secara resmi oleh Wakil Bupati Bone, Dr. H. Andi Akmal Pasluddin, S.P., M.M. Hadir pula Direktur ICRAF Indonesia Andree Ekadinata, perwakilan Global Affairs Canada Hari Bazuki, Bappeda Bone, Pokja Bentang Lahan, KPH Ulubila, petani pelopor, Dinas Pendidikan, Puspaga Bone, serta sejumlah mitra dan kelompok usaha tani dampingan. Bagi para pihak yang terlibat, forum tersebut menjadi kesempatan untuk melihat kembali perjalanan Land4Lives sekaligus mengidentifikasi pengetahuan dan praktik yang masih relevan untuk diteruskan.

Sebab, membangun ketangguhan terhadap perubahan iklim bukan pekerjaan yang selesai ketika sebuah program berakhir. Ia membutuhkan kebijakan yang konsisten, kelembagaan yang kuat, pengetahuan yang terus berkembang, serta keterlibatan masyarakat secara berkelanjutan.

Selama pelaksanaannya, Land4Lives turut mendorong penguatan perencanaan pembangunan, pengelolaan lingkungan, ketahanan pangan, dan peningkatan kapasitas masyarakat.

Pendekatan yang digunakan menghubungkan proses perencanaan di tingkat kabupaten dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat di tingkat tapak. Dengan demikian, pengetahuan yang diperoleh dari lapangan dapat menjadi masukan bagi perencanaan, sementara kebijakan dan program pemerintah dapat diterjemahkan menjadi aksi yang lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Pendekatan tersebut juga memberikan ruang lebih besar bagi perempuan dan kelompok masyarakat di tingkat tapak untuk terlibat dalam proses perubahan.

Direktur ICRAF Indonesia, Andree Ekadinata, mengatakan pengalaman selama mendampingi masyarakat dan pemerintah Kabupaten Bone menunjukkan pentingnya kolaborasi dalam menghadapi perubahan iklim. “Selama hampir lima tahun, kita belajar dan bekerja bersama untuk membangun ketangguhan masyarakat dalam menghadapi perubahan iklim. Pengalaman di Bone menjadi pembelajaran penting tentang bagaimana perencanaan dan aksi di lapangan dapat berjalan secara bersama,” ujarnya.

Menurut Andree, perubahan iklim telah memberikan dampak nyata terhadap kehidupan masyarakat. Kemarau yang semakin panjang, perubahan pola pertanian, hingga perubahan produksi menjadi tantangan yang harus diantisipasi bersama.

Karena itu, menurut dia, membangun ketangguhan masyarakat tidak dapat dilepaskan dari kondisi bentang lahan tempat masyarakat menggantungkan kehidupannya. “Bentang lahan yang sehat, mulai dari wilayah daratan hingga pesisir, menjadi salah satu kunci untuk membangun ketangguhan masyarakat. Karena itu, apa yang kita kerjakan melalui Land4Lives tidak berhenti sebagai sebuah proyek, tetapi menjadi pengetahuan dan pembelajaran yang dapat terus dimanfaatkan,” katanya.

Salah satu upaya untuk menjaga pengetahuan tersebut adalah mendokumentasikan pengalaman selama program berlangsung. Andree mengatakan pengalaman pendampingan di Bone telah dirangkum dalam sebuah tulisan bertajuk “Belajar dari Bone”. Dokumen tersebut menjadi bagian dari upaya untuk merekam proses, pengalaman, serta pembelajaran yang muncul selama pelaksanaan program.

Dokumentasi semacam ini penting karena keberhasilan sebuah program tidak selalu hanya dapat dilihat dari angka atau jumlah kegiatan. Di baliknya terdapat proses membangun kepercayaan, mempertemukan kepentingan, mengembangkan pengetahuan masyarakat, hingga menemukan cara yang lebih sesuai untuk mengelola sumber daya alam.

Pengalaman Bone diharapkan dapat menjadi pembelajaran bagi daerah lain, khususnya di Sulawesi Selatan, yang menghadapi tantangan perubahan iklim dan memiliki karakter bentang lahan serta ketergantungan masyarakat terhadap sumber daya alam yang beragam.

Perwakilan Global Affairs Canada, Hari Bazuki, mengatakan berakhirnya program menjadi momentum untuk merefleksikan berbagai capaian yang telah dihasilkan selama lima tahun terakhir. “Pemerintah Kanada mendukung Land4Lives untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus membantu masyarakat dan pemerintah daerah mengantisipasi perubahan iklim yang terus terjadi,” ungkapnya.

Menurut Hari, tujuan utama program bukan sekadar menghasilkan kegiatan dalam periode tertentu, melainkan membantu membangun masa depan yang berkelanjutan dan sejahtera melalui penguatan ketahanan pangan serta kapasitas masyarakat dalam menghadapi perubahan iklim. “Capaian hari ini merupakan hasil kerja sama selama lima tahun. Kami menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Land4Lives, Pemerintah Kabupaten Bone, seluruh mitra, dan terutama kelompok petani yang menjadi bagian penting dari pencapaian program ini,” jelasnya.

Kini, setelah hampir lima tahun berjalan, tantangan berikutnya adalah memastikan berbagai pengetahuan dan praktik yang telah dibangun tetap hidup di tengah masyarakat. Sebab, keberlanjutan tidak hanya ditentukan oleh ada atau tidaknya sebuah program. Ia bergantung pada sejauh mana pengetahuan menjadi bagian dari kebijakan, praktik menjadi kebiasaan, dan masyarakat memiliki kapasitas untuk terus mengambil keputusan atas lingkungan serta sumber penghidupannya.

Dari Bone, pembelajaran itu menjadi semakin jelas: menghadapi perubahan iklim bukan semata-mata tentang bertahan dari perubahan yang terjadi, tetapi tentang membangun kemampuan masyarakat untuk terus beradaptasi, menjaga bentang lahan, dan menciptakan penghidupan yang lebih tangguh untuk masa depan.

Sementara itu, Wakil Bupati Bone Dr. H. Andi Akmal Pasluddin, MM menyampaikan apresiasi atas pendampingan, ilmu, dan kontribusi Land4Lives selama lima tahun. “Atas nama Pemerintah Kabupaten Bone dan masyarakat Kabupaten Bone, kami mengucapkan terima kasih atas kebersamaan, kontribusi, pendampingan, dan ilmu yang telah diberikan,” ujar Akmal.

Ia mengakui ada rasa sedih karena pendampingan program berakhir. Namun, di sisi lain, pemerintah daerah juga bangga karena Bone menjadi salah satu daerah yang mendapatkan pendampingan Land4Lives.

Menurut Akmal, pemilihan Bone tentu bukan tanpa alasan. Potensi bentang alam, bentang lahan, ketahanan pangan, serta keanekaragaman hayati menjadi bagian dari pertimbangan penting. “Lima tahun tentu bukan waktu yang singkat. Kami bersyukur sekaligus bangga karena Bone menjadi salah satu daerah yang mendapatkan pendampingan program ini,” katanya.

Selama lima tahun, menurut dia, masyarakat maupun pemerintah daerah memperoleh pembelajaran dalam berbagai aspek, mulai dari perencanaan pembangunan, pengelolaan bentang lahan, hingga pengelolaan sumber daya alam untuk kehidupan masyarakat.

Karena itu, Akmal berharap pengetahuan tersebut tidak berhenti ketika program selesai. “Harapan kami, apa yang sudah dibangun selama lima tahun ini tidak berhenti ketika program berakhir. Ilmu yang diberikan harus terus kita aplikasikan,” ujarnya.

Dalam perspektif Islam, lanjut Akmal, ilmu yang bermanfaat dapat menjadi amal yang terus mengalir karena manfaatnya dirasakan oleh masyarakat.

Bagi Bone, isu perubahan iklim bukan lagi sekadar wacana global. Dampaknya mulai dirasakan dalam kehidupan masyarakat, termasuk dalam aktivitas pertanian. Perubahan pola musim, kekeringan yang berkepanjangan, hingga perubahan cara bercocok tanam menjadi tantangan yang membutuhkan respons bersama.

Akmal menilai perubahan iklim harus menjadi bagian penting dalam perencanaan pembangunan daerah. “Pembangunan tidak boleh hanya memikirkan kebutuhan hari ini, tetapi juga harus mempertimbangkan kehidupan anak dan cucu kita di masa depan,” tegasnya.

Karena itu, pembangunan harus menemukan titik keseimbangan antara kepentingan ekonomi, pertanian, lingkungan, dan keberlanjutan.

Menurut Akmal, pendekatan tersebut sejalan dengan visi pembangunan Kabupaten Bone untuk mewujudkan Bone yang mandiri, berkarakter, dan sejahtera. “Bagaimana kita menyeimbangkan antara kepentingan ekonomi, kepentingan lingkungan, dan keberlanjutan kehidupan, itu yang harus kita jaga,” katanya.

Keberlanjutan, menurut Akmal, tidak cukup hanya dilakukan melalui kebijakan pemerintah atau praktik di lapangan. Pengetahuan mengenai lingkungan dan ketahanan pangan juga perlu ditanamkan sejak dini.

Ia mencontohkan penguatan muatan lokal di bidang ketahanan pangan dan lingkungan yang didorong melalui sektor pendidikan. Anak-anak, kata dia, perlu dipersiapkan agar memahami hubungan antara pangan, lingkungan, dan keberlanjutan. “Ini mempersiapkan anak-anak kita ke depan untuk memiliki pemahaman tentang ketahanan pangan dan tata lingkungan,” ujarnya.

Pendekatan lintas sektor inilah yang menjadi salah satu pembelajaran penting dari Land4Lives. Persoalan bentang lahan dan perubahan iklim tidak dapat diselesaikan oleh satu sektor saja. Perencanaan pembangunan membutuhkan dukungan Bappeda. Pengelolaan lingkungan membutuhkan perangkat daerah terkait. Pengelolaan kawasan hutan membutuhkan kerja sama dengan pengelola kawasan. Sementara di tingkat masyarakat, perubahan membutuhkan petani, kelompok perempuan, kelompok usaha, dan komunitas sebagai pelaku utama.

Selama pelaksanaannya, Land4Lives turut berkontribusi dalam penguatan perencanaan pembangunan, pengelolaan lingkungan, ketahanan pangan, serta peningkatan kapasitas masyarakat. Sejumlah capaian juga terlihat dari berkembangnya kelompok usaha tani dampingan dan praktik pengelolaan lahan yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim.

Dalam kegiatan dialog, peserta dapat melihat langsung produk kelompok usaha tani dampingan, seperti gula aren, madu, minyak kelapa murni, dan manisan kolang-kaling. Pameran tersebut memperlihatkan bahwa pembicaraan mengenai lanskap sehat dan ketahanan iklim pada akhirnya berkaitan erat dengan kehidupan ekonomi masyarakat. Lahan yang dikelola dengan baik dapat menghasilkan pangan. Pengetahuan yang berkembang dapat memperkuat usaha masyarakat. Sementara lingkungan yang terjaga menjadi fondasi agar manfaat tersebut dapat bertahan dalam jangka panjang.

Ia menyebut Bone telah mencatat sejumlah prestasi, termasuk di bidang pertanian dan Program Kampung Iklim (ProKlim). Bone juga menjadi salah satu daerah sentra produksi pangan di Sulawesi Selatan. “Prestasi yang kita capai tentu bukan hasil kerja satu pihak. Ini adalah hasil kolaborasi,” katanya.

Salah satu pesan kuat yang muncul dalam dialog adalah pentingnya menjaga keberlanjutan aset pembelajaran. Dokumen capaian proyek diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten Bone. Penghargaan juga diberikan kepada petani pelopor dan mitra yang dinilai berkontribusi dalam pelaksanaan program. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan paparan capaian dan dialog panel bersama Pokja Bentang Lahan, KPH Ulubila, petani pelopor, Dinas Pendidikan, serta Puspaga Bone.

Rangkaian kegiatan juga diisi penyerahan penghargaan dan cenderamata secara simbolis, pemberian sertifikat apresiasi, foto bersama pemangku kepentingan, serta peninjauan Pameran Karya Land4Lives di Sulawesi Selatan. Bagi Akmal, pengalaman lima tahun tersebut seharusnya menjadi modal untuk membuka kembali ruang kolaborasi dengan berbagai lembaga riset dan mitra pembangunan.

Ia berharap komunikasi antara Pemerintah Kabupaten Bone dan lembaga-lembaga riset maupun donor internasional terus dibuka sehingga peluang pendampingan dan kerja sama baru dapat kembali hadir di Bone. “Kami berharap ke depan ada lagi kerja sama dan pendampingan yang masuk ke Kabupaten Bone. Sehingga pembangunan Bone betul-betul bisa memastikan apa yang menjadi harapan kita bersama dapat diwujudkan,” ujarnya.

Pada akhirnya, keberhasilan sebuah program tidak hanya diukur dari apa yang dilakukan selama program berlangsung, tetapi juga dari apa yang tetap hidup setelah program selesai. Land4Lives mungkin memasuki akhir masa pelaksanaannya. Namun, pengetahuan yang telah ditanamkan, kelompok masyarakat yang telah tumbuh, praktik baik yang telah dicoba, serta jejaring kolaborasi yang telah dibangun masih memiliki ruang untuk berkembang. Di tengah perubahan iklim yang semakin nyata, Bone menghadapi tantangan untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan ekonomi hari ini dan keberlanjutan kehidupan di masa depan.

Dan dari dialog multipihak itu, satu pesan menjadi penting: berakhirnya sebuah program bukan berarti berakhirnya perubahan. Justru di titik inilah keberlanjutan diuji—ketika masyarakat, pemerintah, dan seluruh mitra harus bersama-sama merawat apa yang telah dimulai, agar lanskap tetap sehat, masyarakat semakin tangguh, dan kesejahteraan dapat diwariskan hingga generasi berikutnya. (*)