MAKASSAR — Dua kabupaten di Sulawesi Selatan, Wajo dan Bone, bersiap menjadi panggung utama perhelatan olahraga terbesar di tingkat provinsi. Pekan Olahraga Provinsi (PORPROV) XVIII Sulawesi Selatan Tahun 2026 resmi menetapkan keduanya sebagai tuan rumah bersama atau co-host.

Penetapan tersebut bukan sekadar pembagian lokasi pertandingan. Di baliknya, ada persiapan panjang untuk memastikan ribuan atlet, pelatih, ofisial, dan perangkat pertandingan dapat menjalani pesta olahraga provinsi dengan fasilitas yang memadai.

Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Provinsi Sulawesi Selatan secara resmi menerbitkan Surat Keputusan (SK) tentang penetapan lokasi (venue) pertandingan dan perlombaan PORPROV XVIII Tahun 2026.

Keputusan itu tertuang dalam SK Ketua Umum KONI Sulsel Nomor 061/SK/VII/2026, yang ditandatangani Ketua Umum KONI Sulsel, Ir. H. Darmawangsyah Muin, ST., M.Si, pada 17 Juli 2026 di Makassar.

Penetapan venue menjadi salah satu bagian penting dalam memastikan penyelenggaraan PORPROV berjalan sukses, lancar, dan sesuai dengan kesiapan masing-masing daerah.

Prosesnya pun tidak dilakukan secara tiba-tiba. Penetapan lokasi pertandingan merupakan hasil dari sejumlah tahapan, mulai dari Rapat Kerja Provinsi (Rakerprov) KONI Sulsel pada 13 Juni 2026, rapat koordinasi bersama Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga serta Ketua KONI Kabupaten Wajo dan Bone pada 18 Juni 2026, hingga visitasi langsung ke sejumlah lokasi yang diproyeksikan menjadi tempat pertandingan.

Dari proses tersebut, Wajo dan Bone kemudian berbagi peran sebagai tuan rumah. Pembagian cabang olahraga dilakukan dengan mempertimbangkan kesiapan fasilitas dan sarana pendukung yang tersedia di masing-masing kabupaten.

Wajo, 21 Cabor dalam Satu Panggung

Di Kabupaten Wajo, sebanyak 21 cabang olahraga akan dipertandingkan.

Daftar tersebut mencakup Akuatik (FAI), Bulutangkis (PBSI), Bola Basket (PERBASI), Sepaktakraw (PSTI), Petanque (FOPI), Gateball (PERGATSI), Tenis Meja (PTMSI), Balap Motor (IMI), Tenis Lapangan (PELTI), Softball (PERBASASI), Bola Tangan (ABTI), Hockey (FHI), Pencak Silat (IPSI), Kempo (PERKEMI), Muaythai (MI), Taekwondo (TI), Tinju (PERTINA), Wushu (WI), Yongmoodo (FYI), Bina Raga Fitnes (PBFI), serta Berkuda Memanah/Equestrian (PORDASI).

Keragaman cabor tersebut membuat Wajo tidak hanya menjadi tempat berlangsungnya pertandingan, tetapi juga menjadi salah satu pusat aktivitas olahraga selama PORPROV XVIII.

Dari arena olahraga beregu hingga pertandingan yang mengandalkan kekuatan, kecepatan, ketepatan, dan keterampilan individu, berbagai venue di Wajo akan menjadi saksi persaingan para atlet terbaik dari berbagai penjuru Sulawesi Selatan.

Bone Menjadi Rumah bagi 24 Cabor

Sementara itu, Kabupaten Bone mendapat porsi lebih besar dengan menjadi tuan rumah bagi 24 cabang olahraga.

Cabor yang akan dipertandingkan di Bone terdiri atas Biliar (POBSI), Atletik (PASI), Dayung (PODSI), Senam (PERSANI), Sepak Bola dan Futsal (PSSI), Cricket (PCI), Judo (PJSI), Tarung Drajat (KODRAT), Panjat Tebing (FPTI), Karate (FORKI), Anggar (IKASI), Bridge (GABSI), Bola Voli Indoor/Pasir (PBVSI), Balap Sepeda (ISSI), Panahan (PERPANI), Menembak (PERBAKIN), Catur (PERCASI), Barongsai (FOBI), Dancesport (IODI), E-Sport (ESI), Selam (POSSI), Kurash (FERKUSHI), Modern Pentathlon (MPI), dan Kickboxing (KBI).

Dengan jumlah tersebut, Bone diproyeksikan menjadi salah satu titik penting dalam denyut PORPROV XVIII. Berbagai karakter pertandingan akan tersaji, mulai dari cabang olahraga yang membutuhkan kekuatan fisik dan daya tahan hingga olahraga yang menuntut konsentrasi dan ketepatan tinggi.

Setelah SK Terbit, Persiapan Memasuki Tahap Berikutnya

Terbitnya SK penetapan venue menjadi penanda bahwa persiapan PORPROV XVIII memasuki tahapan yang lebih konkret.

Ketua KONI Kabupaten Bone, Drs. Asiswa Karim, mengatakan penerbitan SK tersebut menjadi dasar bagi panitia penanggung jawab dan pemerintah daerah untuk segera mematangkan berbagai kebutuhan penyelenggaraan.

Menurutnya, sarana dan prasarana pertandingan menjadi bagian yang tidak bisa ditunda karena akan berhubungan langsung dengan kelancaran kompetisi ketika PORPROV berlangsung.

Instruksi tersebut sekaligus menjadi pekerjaan rumah bagi masing-masing daerah. Venue bukan hanya harus tersedia, tetapi juga harus mampu mendukung kebutuhan pertandingan sesuai standar cabang olahraga yang dipertandingkan.

Pada akhirnya, PORPROV bukan sekadar tentang siapa yang menjadi juara. Ajang ini juga menjadi ruang bagi atlet-atlet Sulawesi Selatan untuk menunjukkan kemampuan, membangun pengalaman bertanding, sekaligus membawa nama daerah masing-masing.

Kini, Wajo dan Bone telah mendapatkan panggungnya.

Tantangan berikutnya adalah memastikan setiap arena siap ketika para atlet datang dan kompetisi dimulai. Dari fasilitas pertandingan hingga berbagai aspek pendukung lainnya, persiapan kedua kabupaten akan menjadi bagian penting dari cerita besar PORPROV XVIII Sulawesi Selatan 2026.

Karena ketika pertandingan akhirnya dimulai, setiap venue tidak lagi sekadar bangunan atau lapangan olahraga. Ia akan berubah menjadi tempat lahirnya persaingan, prestasi, harapan, dan mungkin saja, lahirnya bintang-bintang baru olahraga Sulawesi Selatan. (*)