BONE– Di tengah hamparan lahan yang selama ini bergantung pada langit, harapan baru kini mulai mengalir dari perut bumi. Air yang dulu dinanti dengan cemas saat musim kemarau, kini hadir lebih pasti menghidupi sawah, menguatkan petani, dan membawa optimisme baru bagi masa depan pertanian di Kabupaten Bone.

Program percepatan pembangunan irigasi melalui Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2025 menjadi titik balik penting. Di bawah kepemimpinan H. Andi Asman Sulaiman, gerak cepat langsung terlihat. Bersama Wakil Bupati Andi Akmal Pasluddin, visi “BERAMAL” bukan sekadar slogan, tetapi menjelma langkah nyata melalui pembangunan Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) atau sumur bor.

Dinas Sumber Daya Air dan Bina Konstruksi pun bergerak cepat. Hasilnya, sembilan titik sumur bor kini berdiri di tiga desa Desa Corawali, Kecamatan Barebbo, serta Desa TuruadaE dan Desa Mappesangka di Kecamatan Ponre. Wilayah-wilayah yang selama ini dikenal sebagai daerah tadah hujan, kini mulai memiliki sumber air yang lebih stabil.

Peresmian di Desa Corawali menjadi momen simbolik sekaligus penuh makna. Di sana, Bupati Bone membuka kran pembagi air sebuah gestur sederhana yang menandai awal kehidupan baru bagi lahan-lahan kering. Air mengalir deras dari sistem yang dibangun dengan kedalaman sumur mencapai 100 meter dan didukung bak penampungan berkapasitas 32 ribu liter.

Tak sekadar seremoni, langkah ini juga menunjukkan keseriusan pemerintah daerah dalam menjawab persoalan klasik petani: ketersediaan air. Mesin bor yang beroperasi menjadi saksi bahwa teknologi kini hadir lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat desa.

Turut mendampingi dalam peresmian tersebut, Ketua Tim Penggerak PKK Bone Hj. Maryam Andi Asman, Pj. Sekda Bone Hj. Andi Tenriawaru, serta Plt. Kadis SDABK Kasdar, ST., M.Si bersama sejumlah kepala OPD lainnya. Kehadiran mereka menjadi simbol kolaborasi lintas sektor dalam mendorong pembangunan berbasis kebutuhan rakyat.

Setiap titik sumur bor dibangun dengan anggaran sekitar Rp1,8 miliar, menjadikan total investasi mencapai Rp16,4 miliar yang bersumber dari APBN. Proyek ini dilaksanakan oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pompengang-Jenneberang, sebelum nantinya diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten Bone untuk pengelolaan dan perawatan berkelanjutan.

Lebih dari sekadar infrastruktur, sumur bor ini adalah jawaban atas kecemasan panjang petani. Ia adalah simbol keberpihakan, bahwa di tengah tantangan perubahan iklim dan ketidakpastian musim, pemerintah hadir membawa solusi.

Kini, di ladang-ladang yang dulu retak karena kekeringan, air mengalir membawa harapan. Dan dari dalam tanah Bone, masa depan pertanian perlahan mulai menemukan denyutnya kembali.

Bupati Bone, H. Andi Asman Sulaiman, menegaskan bahwa program ini bukan hanya soal pembangunan fisik, tetapi bagian dari strategi besar daerah. “Ini adalah upaya kita memastikan masyarakat tidak lagi kesulitan air bersih, sekaligus mendukung petani agar tetap produktif,” tegasnya.

Program sumur bor ini juga menjadi bukti nyata sinergi antara pemerintah pusat dan daerah. Pemerintah Kabupaten Bone memastikan bahwa setiap titik pembangunan tepat sasaran dan memberi manfaat langsung bagi masyarakat.

Lebih jauh, peningkatan indeks pertanaman dari IP100 menuju IP300 diharapkan berdampak langsung pada kesejahteraan petani. Dengan ketersediaan air yang lebih stabil, tantangan utama selama ini perlahan mulai teratasi. Tinggal bagaimana distribusi air dikelola dengan baik dan sistem pemeliharaan dijalankan secara berkelanjutan.

Bagi warga, perubahan itu sudah mulai terasa. Air yang dulu sulit didapat kini lebih mudah diakses. Lahan yang bergantung pada hujan kini memiliki sumber kehidupan baru.

Kabupaten Bone kini tidak hanya menggali sumur, tetapi juga menggali harapan. Dari dalam tanah, masa depan pertanian mulai ditanam kembali tumbuh, mengalir, dan menghidupi lebih banyak kehidupan.

Sementara itu, Plt. Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Bina Konstruksi Bone, Kasdar, ST., M.Si mengungkapkan bahwa capaian ini bukan hal yang datang begitu saja. Ada perjuangan panjang di baliknya. Dari 100 unit sumur bor yang diusulkan, kuota untuk Provinsi Sulawesi Selatan hanya 15 unit. Namun, Kabupaten Bone berhasil mendapatkan 9 titik jumlah terbesar di provinsi tersebut. “Ini adalah hasil dari upaya dan komunikasi yang intens. Kita bersyukur Bone mendapat porsi yang signifikan,” ujarnya.

Lebih dari sekadar menghadirkan sumber air, sumur bor ini diharapkan menjadi titik balik pola tanam petani. Selama ini, lahan tadah hujan hanya mampu berproduksi sekali setahun (IP 100). Dengan hadirnya jaringan irigasi air tanah (JIAT), targetnya melonjak menjadi IP 200 bahkan IP 300—dua hingga tiga kali panen dalam setahun.

Perubahan ini bukan sekadar angka statistik. Setiap titik sumur bor diproyeksikan melayani lahan minimal 25 hektare, bahkan berpotensi hingga 100 hektare. Dengan sembilan titik yang dibangun, Bone diperkirakan akan mendapatkan tambahan luas tanam minimal 225 hektare pada tahun 2026.

Bagi petani, ini adalah peluang besar. Pendapatan berpotensi meningkat, ketahanan pangan keluarga semakin kuat, dan risiko gagal panen akibat kekeringan bisa ditekan. Jika sebelumnya air menjadi batas, kini teknologi dan kebijakan hadir untuk menembusnya.

Di lapangan, suara mesin bor yang menggema bukan lagi sekadar bunyi mekanis. Ia menjadi tanda bahwa perubahan sedang berlangsung. Dari dalam tanah, air diangkat ke permukaan menghidupkan kembali sawah-sawah yang dulu hanya menunggu hujan. (*)