BONE — Pemerintah Kabupaten Bone bersama jajaran Perumda Air Minum Wae Manurung membahas rencana bisnis perusahaan untuk periode 2026-2030, Kamis, 3 September 2026. Pembahasan tersebut turut dihadiri Komisaris Perumda Air Minum Wae Manurung, Ir. Andi Promal Pawi, ST., M.Si, serta sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD) lingkup Pemerintah Kabupaten Bone.
Direktur Perumda Air Minum Wae Manurung, Muh. Bachtiar Sairing, mengatakan salah satu fokus utama dalam rencana bisnis lima tahun ke depan adalah meningkatkan ketersediaan air bersih bagi masyarakat Kabupaten Bone.
Menurutnya, kebutuhan air bersih di Bone saat ini masih jauh dari mencukupi. Salah satu persoalan utama yang dihadapi perusahaan adalah semakin terbatasnya ketersediaan air baku, khususnya di kawasan perkotaan.
“Dua tahun terakhir ini sangat luar biasa yang kami alami, penurunan air baku, baik yang bersumber dari sungai maupun mata air,” kata Bachtiar.
Ia menjelaskan, saat ini hanya terdapat dua sumber air yang dinilai masih cukup andal, yakni IKK Taretta dan IKK Waempubbu. Kedua sumber tersebut berada di Kecamatan Amali dan memiliki ketersediaan air baku yang relatif besar, meski lokasinya cukup jauh dari pusat Kota Watampone.
Sementara itu, kondisi sejumlah sumber air lainnya semakin mengkhawatirkan. Salah satunya adalah sumber air Cinnong yang saat ini produksinya disebut hampir mencapai titik nol, terutama pada musim kemarau.
“Kondisi sekarang ini hampir dikatakan produksinya nol. Apalagi di masa kering sekarang ini. Sudah hampir 1.000-an pelanggan yang dilayani di kota bisa dikatakan tidak ada yang terlayani,” ujarnya.
Selain Cinnong, sumber air Wollangi juga mengalami penurunan debit secara signifikan. Bachtiar menyebut, selain faktor kemarau panjang, aktivitas pertambangan liar diduga turut memengaruhi kondisi sumber air tersebut.
Debit air Wollangi yang sebelumnya pernah mencapai sekitar 120 liter per detik kini disebut turun di bawah 40 liter per detik. Dalam kondisi yang lebih baik, debitnya masih dapat mencapai sekitar 60 liter per detik.
Kondisi tersebut berdampak terhadap kemampuan Perumda dalam melayani kebutuhan air bersih masyarakat. Dari jumlah penduduk Kabupaten Bone yang mencapai sekitar 800 ribu jiwa, cakupan pelayanan air bersih Perumda saat ini baru mendekati 15 persen.
“Ini tentu sangat jauh dari yang kita harapkan,” kata Bachtiar.
Untuk meningkatkan cakupan pelayanan, Perumda Air Minum Wae Manurung mendorong sejumlah strategi, termasuk membuka peluang masuknya investor untuk pengelolaan air bersih serta mengharapkan dukungan pemerintah pusat melalui Kementerian Pekerjaan Umum.
Bachtiar mencontohkan sejumlah proyek strategis daerah yang ke depan membutuhkan dukungan pasokan air dalam jumlah besar. Salah satunya rencana pembangunan pelabuhan di Kecamatan Tonra yang diproyeksikan membutuhkan pasokan air hingga 500 liter per detik.
Berdasarkan koordinasi dengan balai terkait, kebutuhan air sebesar itu disebut hanya memungkinkan dipenuhi dari sumber Sungai Tangka dan Salo Wawo.
“Yang lainnya tidak ada, tidak ada mata air yang bisa mendukung itu,” jelasnya.
Selain itu, Perumda juga telah menjajaki kerja sama dengan investor untuk pemanfaatan Sungai Palakka. Namun, berdasarkan kapasitas yang diberikan balai, pasokan yang dapat dimanfaatkan maksimal sekitar 200 liter per detik dan dapat berkurang pada waktu tertentu, khususnya ketika musim tanam karena masih terdapat kebutuhan air untuk pertanian.
Bupati Dorong Pengeboran Air Berskala Besar
Sementara itu, Bupati Bone H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., MM menegaskan pentingnya langkah konkret untuk menjamin ketersediaan air bersih, terutama menghadapi kondisi sumber air yang terus mengalami penurunan debit.
Bupati mengatakan Pemkab Bone tengah mempersiapkan dukungan anggaran dan administrasi untuk berbagai program pembangunan, termasuk yang berkaitan dengan pelayanan air bersih.
Ia berharap program kerja Perumda untuk periode 2026-2030 mampu meningkatkan kemampuan perusahaan dalam menghadapi perbedaan debit air antara musim penghujan dan musim kemarau.
“Bagaimana caranya supaya ketika di musim biasa, atau di musim penghujan, dan kemudian kita harus berada pada kemampuan untuk bertahan di musim sekarang ini. Debit yang banyak dengan debit yang kurang tentu kita harus bagaimana bisa mengupayakan, mengantisipasi, dan bagaimana bisa menangani,” ujar Andi Asman.
Salah satu opsi yang ditawarkan adalah melakukan pengeboran air tanah berskala besar di sejumlah titik, khususnya kawasan dengan kepadatan penduduk tinggi.
Menurut Bupati, konsep tersebut dapat meniru pengeboran yang telah digunakan pada sejumlah wilayah pertanian untuk memperoleh sumber air tanah. Air yang dihasilkan nantinya dapat ditampung dalam reservoir dan didistribusikan kepada masyarakat.
Ia bahkan menyatakan siap mengalokasikan anggaran apabila secara teknis lokasi pengeboran dan sistem distribusinya telah dipersiapkan dengan baik.
“Saya siap untuk memberikan anggaran dana segar, tetapi kesiapan teman-teman untuk menempatkan lokasi untuk boring, kemudian difilter, kemudian kita lakukan distribusi air kepada masyarakat,” tegasnya.
Bupati juga meminta Bagian Sumber Daya Alam (SDA) bersama jajaran teknis Perumda melakukan pemetaan titik-titik potensial untuk pengeboran. Dari sekitar 24 kelurahan di kawasan perkotaan, ia mendorong agar setidaknya 10 titik terlebih dahulu dikaji untuk menentukan kelayakan pengeboran.
Ia mencontohkan pengeboran di wilayah Bone-Bone yang pada kedalaman sekitar 20 meter sudah menghasilkan air dan hingga kini masih mengalir.
Selain persoalan teknis ketersediaan air, Andi Asman juga menekankan pentingnya pembenahan tata kelola dan kedisiplinan jajaran Perumda Air Minum Wae Manurung.
Ia meminta perusahaan air minum daerah tersebut dikelola secara profesional, transparan dan berorientasi pada peningkatan pelayanan kepada masyarakat.
“Penyelenggaraan untuk usaha air minum ini betul-betul kita laksanakan secara profesional,” katanya.
Bupati juga menyoroti kontribusi Perumda terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD). Ia menyebut perusahaan daerah tersebut belum memberikan kontribusi PAD yang diharapkan selama bertahun-tahun.
Karena itu, menurutnya, rencana bisnis 2026-2030 harus menjadi momentum untuk melakukan pembenahan menyeluruh, baik dari sisi sumber air, infrastruktur, pelayanan maupun pengelolaan perusahaan.
Andi Asman menegaskan pemerintah daerah siap memberikan dukungan anggaran maupun memfasilitasi bantuan dari pemerintah pusat dan pemerintah provinsi. Namun, dukungan tersebut harus dibarengi kesiapan jajaran Perumda dalam menyusun program yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Saya sudah beri kepercayaan kepada Pak Direktur bahwa hal-hal yang tidak benar ditinggalkan, hal-hal yang benar dilanjutkan,” ujarnya.
Ia juga meminta seluruh jajaran Perumda meningkatkan kedisiplinan dan memberikan masukan kepada direktur, terutama para penanggung jawab wilayah IKK, agar setiap persoalan ketersediaan air dapat segera diidentifikasi dan ditangani.
Bupati berharap pada tahun mendatang ketersediaan air bersih di Kabupaten Bone, khususnya di kawasan perkotaan dan wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi, dapat semakin terjamin.
Menurutnya, pengadaan sumber air harus menjadi prioritas utama sebelum berbicara mengenai pengembangan instalasi pengolahan dan jaringan distribusi.
“Kalau di PDAM itu berbicara air saja. Instalasinya nomor dua. Kalau pertama masalah air. Jadi saya minta Kabag SDA, kalau bisa di sini ada 24 kelurahan, kalau perlu 10 titik dulu,” pungkasnya. (*)


Tinggalkan Balasan