BONE — Agustus 2026 menjadi bulan yang penuh ujian bagi sejumlah warga Kabupaten Bone. Dalam kurun waktu kurang dari sebulan, sedikitnya lima peristiwa kebakaran terjadi di beberapa wilayah. Rumah warga, kendaraan, hingga sumber mata pencaharian hangus dilalap api. Kerugian yang ditimbulkan pun diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah.
Di tengah musibah yang datang silih berganti, kepedulian tumbuh dari masyarakat. Salah satunya datang dari Muslimah Wahdah Daerah Bone melalui Unit Sosial MWD Bone. Bersinergi dengan Muslimah Wahdah Peduli MWC Tanete Riattang Timur, MWC Tanete Riattang Barat, MWC Kota, dan MWC Awangpone, mereka bergerak menyalurkan bantuan kepada para penyintas kebakaran.
Bantuan tersebut diberikan bukan sekadar untuk memenuhi kebutuhan setelah rumah dan harta benda terbakar. Di balik setiap paket bantuan, ada pesan bahwa para penyintas tidak menghadapi musibah seorang diri.
Rangkaian kebakaran terjadi pada waktu yang berbeda, mulai siang, sore, hingga malam hari. Sebagian besar kebakaran diduga dipicu oleh korsleting listrik.
Di Dusun Lapecce, kebakaran menghanguskan dua rumah panggung. Tak hanya tempat tinggal, dua sepeda motor dan tiga mesin perahu ketinting turut menjadi korban. Kerugian ditaksir lebih dari Rp100 juta. Bagi warga yang menggantungkan penghidupan dari aktivitas sehari-hari, kehilangan tersebut bukan sekadar angka, tetapi juga ancaman terhadap keberlangsungan hidup keluarga.
Musibah juga menimpa seorang lansia berusia 75 tahun di Kelurahan Panyula. Rumahnya ludes terbakar dengan kerugian diperkirakan mencapai Rp50 juta.
Di Desa Cumpiga, rumah milik Vika juga tak luput dari amukan api. Kebakaran yang terjadi pada malam hari menghanguskan rumahnya dan menimbulkan kerugian sekitar Rp50 juta. Api kembali berkobar di Pondok Tahfidz Darul Arqam pada 16 Agustus 2026. Tempat yang menjadi ruang belajar dan menghafal Al-Qur’an itu pun ikut terdampak musibah.
Sementara di Desa Padaelo, Dusun Lattekko, Kecamatan Awangpone, kebakaran melanda beberapa rumah sekaligus. Kerugian akibat musibah tersebut diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah.
Lima peristiwa dalam satu bulan itu menggambarkan betapa cepat sebuah musibah dapat mengubah kehidupan. Dalam hitungan jam, tempat tinggal, kendaraan, peralatan kerja, dan berbagai barang berharga yang dikumpulkan bertahun-tahun dapat berubah menjadi puing.
Melalui program Muslimah Wahdah Peduli, penyaluran bantuan dilakukan secara bertahap di sejumlah titik terdampak. Tim turun langsung untuk memastikan bantuan sampai kepada mereka yang membutuhkan sekaligus memberikan dukungan moril kepada para penyintas. Pada 11 Agustus 2026, bantuan disalurkan di Kelurahan Panyula, Kecamatan Tanete Riattang Timur, kepada dua kepala keluarga yang terdampak kebakaran.
Dua hari kemudian, tepatnya 13 Agustus 2026, bantuan kembali disalurkan di wilayah yang sama kepada satu kepala keluarga. Kepedulian kemudian berlanjut ke Pondok Tahfidz Darul Arqam. Pada 17 Agustus 2026, bantuan diberikan kepada pondok tahfidz yang sebelumnya mengalami musibah kebakaran.
Gerakan sosial tersebut kembali dilakukan pada 22 Agustus 2026. Di Desa Cumpiga, Kecamatan Awangpone, bantuan disalurkan kepada satu kepala keluarga. Pada hari yang sama, tim bergerak ke Desa Padaelo, Dusun Lattekko, Kecamatan Awangpone, untuk menyalurkan bantuan kepada empat kepala keluarga. Dengan demikian, secara keseluruhan delapan kepala keluarga dan satu pondok tahfidz telah menerima bantuan melalui program Muslimah Wahdah Peduli.
Bagi para penyintas, bantuan yang datang mungkin tidak serta-merta mengembalikan rumah, kendaraan, maupun harta benda yang hilang. Namun, kehadiran orang-orang yang datang untuk membantu memberikan arti lain: bahwa di tengah kehilangan, masih ada saudara yang peduli.
Program ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan ukhuwah Islamiyah dalam kehidupan nyata. Kepedulian tidak berhenti pada rasa iba, tetapi diwujudkan melalui langkah konkret dengan mendatangi lokasi, menemui para korban, dan menyalurkan bantuan sesuai kebutuhan.
Ketika api menghanguskan rumah dan harta benda, semangat untuk saling menguatkan justru dapat menjadi cahaya bagi mereka yang sedang berada dalam masa sulit.
Melalui aksi Muslimah Wahdah Peduli, diharapkan bantuan yang disalurkan dapat sedikit meringankan beban para penyintas sekaligus menjadi pengingat bahwa ukhuwah Islamiyah tetap hidup di tengah masyarakat.
Jazakumullahu khairan kepada seluruh muhsinin, donatur, dan relawan yang telah menjadi bagian dari aksi kepedulian ini. Semoga Allah Ta’ala menerima setiap kebaikan sebagai amal jariyah, memberikan keberkahan kepada para pemberi bantuan, serta mengganti setiap kehilangan saudara-saudara kita dengan sesuatu yang lebih baik. Sebab ketika musibah datang dan api menyisakan puing, kepedulianlah yang membantu menyalakan kembali harapan. (*)


Tinggalkan Balasan