BONE — Bagi sebagian orang, sebuah jamban mungkin terlihat sebagai fasilitas sederhana. Namun bagi warga di sejumlah wilayah pedesaan Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, keberadaan sanitasi yang layak menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari.
Kebutuhan itulah yang coba dijawab melalui program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-129 Kodim 1407/Bone. Tahun ini, Satgas TMMD tidak hanya membangun infrastruktur jalan atau memperbaiki rumah warga, tetapi juga menghadirkan fasilitas sanitasi yang diharapkan mampu mendorong perubahan pola hidup masyarakat.
Sebanyak lima titik jambanisasi yang tersebar di tiga kecamatan kini telah rampung 100 persen dan siap dimanfaatkan masyarakat.
Lima titik tersebut berada di Kelurahan Maroanging, Kecamatan Awangpone, sebanyak satu titik; Desa Langi, Kecamatan Bontocani, sebanyak dua titik; serta Dusun Samaenre, Kecamatan Kajuara, sebanyak dua titik.
Pembangunan dilakukan secara bertahap oleh personel Satgas TMMD bersama masyarakat. Setiap tahapan dikerjakan dengan mengedepankan semangat gotong royong, sehingga proses pembangunan tidak sekadar menghasilkan fasilitas fisik, tetapi juga mempererat kebersamaan antara TNI dan warga.
Komandan Kodim 1407/Bone, Letkol Inf Laode Muhammad Idrus, mengatakan pembangunan jambanisasi merupakan salah satu sasaran fisik TMMD ke-129 yang diarahkan untuk meningkatkan kualitas sanitasi masyarakat, khususnya di wilayah pedesaan.
Menurutnya, pembangunan fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK) tidak boleh berhenti pada pembangunan fisik semata. Lebih jauh, program tersebut diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga kebersihan diri dan lingkungan.
“Program jambanisasi ini bukan hanya membangun fasilitas MCK, tetapi juga membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya hidup bersih dan sehat. Kami berharap fasilitas ini benar-benar dimanfaatkan dan dirawat bersama,” kata Laode Muhammad Idrus saat dikonfirmasi, Jumat (7/8/2026).
Di balik rampungnya lima titik jambanisasi itu, terselip persoalan yang lebih besar: akses masyarakat terhadap sanitasi yang layak.
Bagi warga yang selama ini belum memiliki fasilitas MCK memadai, jamban bukan sekadar bangunan tambahan di lingkungan rumah. Fasilitas tersebut berkaitan langsung dengan kebersihan, kenyamanan, dan upaya mencegah berbagai penyakit yang dapat muncul akibat lingkungan yang tidak sehat.
Laode mengatakan, peningkatan akses terhadap sanitasi yang layak merupakan kebutuhan dasar masyarakat yang harus terus mendapat perhatian.
“Seluruh sasaran fisik TMMD dikerjakan dengan semangat gotong royong. Inilah wujud nyata kemanunggalan TNI dengan rakyat dalam mempercepat pembangunan di daerah,” ujarnya.
Semangat itu pula yang terlihat selama proses pengerjaan. Personel Satgas TMMD bersama warga bahu-membahu menyelesaikan setiap sasaran. Ada tenaga yang dicurahkan, ada waktu yang disisihkan, dan ada kebersamaan yang tumbuh di tengah proses pembangunan.
Hasil akhirnya bukan hanya lima fasilitas jambanisasi yang kini berdiri dan siap digunakan, tetapi juga sebuah pesan bahwa pembangunan akan lebih kuat ketika dikerjakan bersama.
Salah seorang warga Desa Langi, Ahmad (47), menjadi salah satu warga yang merasakan langsung manfaat program tersebut.
Ia mengaku bersyukur desanya mendapat perhatian melalui pembangunan jambanisasi dalam pelaksanaan TMMD ke-129 Kodim 1407/Bone.
Menurut Ahmad, fasilitas MCK yang dibangun sangat membantu warga, terutama mereka yang sebelumnya belum memiliki akses sanitasi yang layak.
“Selama ini masih ada warga yang kesulitan mendapatkan fasilitas MCK yang layak. Kami berterima kasih kepada TNI karena pembangunan ini sangat membantu masyarakat,” katanya.
Bagi Ahmad dan warga lainnya, selesainya pembangunan bukan menjadi akhir dari program. Justru, keberadaan fasilitas tersebut menjadi awal dari tanggung jawab bersama untuk menjaga kebersihan dan merawatnya agar dapat digunakan dalam waktu panjang.
Ia pun berharap seluruh warga memiliki kesadaran untuk menjaga fasilitas yang telah dibangun.
Jambanisasi hanya menjadi salah satu bagian dari rangkaian sasaran fisik TMMD ke-129 Kodim 1407/Bone.
Program tersebut juga telah menyelesaikan sejumlah pembangunan lain, mulai dari pembukaan dan peningkatan jalan, rehabilitasi rumah tidak layak huni (RTLH), hingga berbagai infrastruktur yang dibutuhkan masyarakat.
Beragam sasaran itu menunjukkan bahwa pembangunan desa tidak hanya berbicara tentang akses jalan atau bangunan fisik. Ada pula kebutuhan dasar yang bersentuhan langsung dengan kehidupan sehari-hari warga, termasuk sanitasi.
Melalui TMMD, TNI bersama Pemerintah Kabupaten Bone berupaya mempercepat pemerataan pembangunan, terutama di wilayah pedesaan yang masih membutuhkan dukungan infrastruktur dasar.
Pada akhirnya, lima jambanisasi yang kini telah rampung bukan sekadar catatan capaian pembangunan fisik. Di balik dinding dan fasilitas MCK tersebut ada harapan sederhana: warga dapat menjalani kehidupan yang lebih bersih, lebih sehat, dan lebih layak.
Dan ketika fasilitas itu dijaga bersama, manfaatnya tidak berhenti pada satu program TMMD. Ia dapat terus menjadi bagian dari kehidupan masyarakat jauh setelah para personel Satgas meninggalkan lokasi.
Di sanalah semangat TMMD menemukan maknanya—membangun bukan hanya sarana, tetapi juga kesadaran dan kemandirian masyarakat dari desa. (*)


Tinggalkan Balasan