BONE– Usia ke-48 tahun bagi Bupati Bone, H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., M.Si, tampaknya menjadi momentum yang sarat makna. Setelah lebih dari satu tahun memimpin Bumi Arung Palakka, berbagai indikator pembangunan mulai menunjukkan hasil yang menggembirakan. Di tengah dinamika ekonomi global yang penuh ketidakpastian, Kabupaten Bone justru memperlihatkan daya tahan sekaligus kemampuan untuk terus bertumbuh.
Menjelang rilis resmi Badan Pusat Statistik (BPS) pada 5 Juni 2026 terkait pertumbuhan ekonomi daerah, optimisme berkembang di berbagai kalangan. Apalagi, Sulawesi Selatan sebelumnya mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 6,8 persen pada Triwulan II. Sebagai salah satu kontributor terbesar perekonomian provinsi, Bone diperkirakan ikut menikmati dampak positif akselerasi ekonomi regional dengan proyeksi pertumbuhan yang berada pada kisaran 7 hingga 8 persen.
Bagi masyarakat Bone, angka-angka tersebut bukan sekadar statistik. Di baliknya terdapat geliat ekonomi yang semakin terasa, mulai dari aktivitas perdagangan yang lebih hidup, pembangunan yang terus bergerak, hingga meningkatnya pendapatan masyarakat, khususnya di sektor pertanian.
Sejak awal kepemimpinannya bersama Wakil Bupati Bone, Dr. H. Andi Akmal Pasluddin, MM, pasangan yang dikenal dengan tagline BerAmal terus mendorong pertumbuhan ekonomi melalui berbagai sektor strategis.
Salah satu fokus utama adalah pembenahan infrastruktur. Pembangunan jalan, jembatan, hingga fasilitas publik dilakukan secara bertahap dengan memaksimalkan penggunaan material lokal. Kebijakan ini tidak hanya mempercepat pembangunan fisik, tetapi juga menciptakan efek berganda bagi pelaku usaha dan pekerja lokal.
Di sektor perdagangan, perhatian pemerintah daerah terlihat melalui dukungan terhadap pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Bantuan gerobak melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) serta penyediaan ruang usaha di pusat kota menjadi langkah konkret untuk meningkatkan aktivitas ekonomi masyarakat.
Kehadiran para pelaku UMKM di ruang-ruang publik telah menciptakan denyut ekonomi baru. Lapangan usaha bertambah, transaksi meningkat, dan perputaran uang di tingkat masyarakat semakin terasa.
Sebagai daerah agraris, pertanian tetap menjadi fondasi utama ekonomi Bone. Dalam beberapa waktu terakhir, petani menikmati peningkatan harga gabah dan jagung yang berdampak langsung pada kesejahteraan mereka.
Kondisi ini tidak terlepas dari peran strategis Pemerintah Kabupaten Bone dalam mendukung berbagai program nasional di sektor pangan. Dukungan terhadap produksi pertanian, distribusi hasil panen, hingga penguatan rantai pasok menjadi faktor penting yang menjaga stabilitas ekonomi pedesaan.
Ketika sektor pertanian tumbuh, daya beli masyarakat ikut meningkat. Efeknya merambat ke sektor perdagangan, jasa, hingga usaha kecil yang bergantung pada aktivitas ekonomi masyarakat pedesaan.
Di balik capaian pertumbuhan ekonomi, Pemerintah Kabupaten Bone juga menaruh perhatian besar pada pengentasan kemiskinan ekstrem.
Program-program yang menyentuh langsung masyarakat terus diperkuat, mulai dari penyerapan tenaga kerja, pelatihan keterampilan, hingga bantuan usaha produktif. Sasaran utamanya adalah keluarga miskin ekstrem agar memiliki peluang lebih besar untuk meningkatkan taraf hidup dan keluar dari lingkaran kemiskinan.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak hanya dikejar dalam bentuk angka, tetapi juga diarahkan untuk memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Kekuatan ekonomi Bone tercermin dari besarnya nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Data terbaru menunjukkan bahwa PDRB Kabupaten Bone atas dasar harga berlaku mencapai Rp54,21 triliun, sedangkan PDRB atas dasar harga konstan tercatat Rp28,45 triliun.
Secara nominal, capaian tersebut menempatkan Bone sebagai daerah dengan nilai PDRB terbesar kedua di Sulawesi Selatan setelah Kota Makassar.
Bagi masyarakat awam, PDRB dapat dipahami sebagai total nilai seluruh barang dan jasa yang dihasilkan dalam suatu daerah selama satu tahun. Semakin besar nilai PDRB, semakin besar pula aktivitas ekonomi yang terjadi.
PDRB atas dasar harga berlaku menggambarkan nilai ekonomi berdasarkan harga saat ini sehingga mencerminkan besarnya perputaran uang yang terjadi di masyarakat. Sementara itu, PDRB atas dasar harga konstan digunakan untuk mengukur pertumbuhan ekonomi riil karena telah menghilangkan pengaruh inflasi.
Dengan nilai ekonomi yang mencapai puluhan triliun rupiah, Bone menunjukkan kapasitas yang semakin kuat sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi di Sulawesi Selatan.
Perjalanan ekonomi Bone dalam enam tahun terakhir menunjukkan kisah kebangkitan yang menarik.
Laju Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Bone:
2020 : -0,25 persen
2021 : 5,53 persen
2022 : 5,23 persen
2023 : 3,77 persen
2024 : 5,56 persen
2025 : 6,03 persen
Pandemi COVID-19 pada 2020 sempat membawa ekonomi Bone ke zona kontraksi. Namun daerah ini mampu bangkit relatif cepat. Sejak 2021, pertumbuhan kembali bergerak positif dan terus menguat.
Meski mengalami perlambatan pada 2023, tren tersebut tidak berlangsung lama. Pertumbuhan kembali meningkat pada 2024 dan mencapai 6,03 persen pada 2025, menjadi yang tertinggi dalam enam tahun terakhir.
Capaian tersebut menjadi indikator bahwa roda ekonomi daerah bergerak semakin sehat dan produktif. Pertanian, perdagangan, jasa, serta pembangunan infrastruktur menjadi mesin utama yang mendorong pertumbuhan tersebut.
Di usia ke-48 tahun, Andi Asman Sulaiman tampaknya tidak hanya merayakan pertambahan usia, tetapi juga menikmati hasil dari berbagai ikhtiar pembangunan yang mulai menunjukkan dampak nyata.
Bagi masyarakat Bone, keberhasilan pembangunan tidak semata diukur dari gedung yang berdiri atau jalan yang terbangun, melainkan dari meningkatnya kesejahteraan warga, terbukanya kesempatan usaha, dan tumbuhnya harapan akan masa depan yang lebih baik.
Jika tren positif ini terus terjaga, Bone bukan hanya akan mempertahankan posisinya sebagai salah satu kekuatan ekonomi terbesar di Sulawesi Selatan, tetapi juga berpotensi menjadi salah satu model pembangunan daerah yang mampu menggabungkan pertumbuhan ekonomi dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Di tengah semangat itu, usia ke-48 sang bupati menjadi penanda perjalanan baru: sebuah fase ketika berbagai benih pembangunan mulai menampakkan hasilnya dan membawa harapan besar bagi Bumi Arung Palakka. (*)


Tinggalkan Balasan