BONE– Di tengah semangat pembangunan daerah yang kian dinamis, Aula Lamellong Dinas Pendidikan Kabupaten Bone, Kamis (30/5/2026), menjadi ruang pertemuan gagasan dan harapan. Di tempat itulah, Bupati Bone H. Andi Asman Sulaiman secara resmi membuka Seminar Pendidikan Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Himaprodi PBSI) 2026, ditandai dengan pemukulan gong sebagai simbol dimulainya dialektika ilmu dan pemikiran.

Didampingi Kepala BKPSDM yang juga Plt. Kepala Dinas Pendidikan Edy Saputra Syam, S.STP., M.Si Kadis BMCKTR H. Askar, ST., M.Si serta Kasatpol PP A. Baharuddin, SIP., M.Si Bupati hadir tidak sekadar membuka acara, tetapi juga menegaskan arah besar pembangunan sumber daya manusia di Bumi Arung Palakka.

Bupati menyoroti pentingnya kesiapan mahasiswa, bukan hanya dalam aspek akademik, tetapi juga waktu, biaya, dan kesiapan materi. Menurutnya, perkembangan program pendidikan, termasuk afiliasi dengan Universitas Negeri Makassar di Bone, menuntut kesiapan yang lebih matang dari generasi muda.

Ia menautkan dunia pendidikan dengan realitas ekonomi. Baginya, ekonomi bukan sekadar angka, tetapi denyut yang menghidupkan seluruh sendi kehidupan mulai dari pendidikan, keluarga, hingga usaha.

“Ekonomi menumbuhkembangkan semuanya. Tapi jangan hanya fokus pada kesejahteraan ekonomi saja. Ada juga ekonomi keluarga, kerabat, ilmu, dan pengalaman,” ujarnya.

Pesan itu menjadi penegasan bahwa pembangunan daerah tidak hanya bertumpu pada infrastruktur, tetapi juga kualitas manusia yang mampu mengelola peluang.

Bupati juga menekankan bahwa sumber daya manusia (SDM) yang unggul adalah kunci dalam mengelola potensi daerah. Dalam konteks mahasiswa PBSI, penguasaan bahasa bukan sekadar kompetensi akademik, tetapi alat strategis dalam membangun peradaban. “Bahasa adalah konsumsi kita setiap hari. Jika komunikasi tidak berjalan baik, maka banyak hal tidak akan terselesaikan dengan baik,” tegasnya.

Ia mengingatkan bahwa ilmu tidak boleh berhenti di ruang seminar. Harus ada pengulangan, praktik, dan pembiasaan salah satunya melalui pengembangan pojok-pojok literasi di berbagai ruang kehidupan.

Dalam narasi yang menguatkan kebanggaan daerah, Bupati menyebut sejumlah tokoh nasional asal Bone yang telah berkiprah di panggung negara. Mulai dari M. Jusuf, Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12 Jusuf Kalla, hingga tokoh-tokoh kabinet seperti Sjafrie Sjamsoeddin, Nasaruddin Umar, dan Amran Sulaiman.

Deretan nama itu, menurutnya, bukan sekadar kebanggaan, tetapi bukti bahwa SDM Bone mampu bersaing di tingkat nasional. Tantangannya kini adalah memastikan generasi muda memiliki kualitas yang setara, bahkan lebih baik.

Lebih jauh, Bupati mengingatkan bahwa penguasaan ilmu harus berjalan seiring dengan nilai-nilai kearifan lokal Bugis. Nilai seperti getteng (teguh), lempu (jujur), ada tongeng (berkata benar), dan temmappasilaingeng (tidak membeda-bedakan) menjadi fondasi moral yang tak tergantikan. Di tengah arus globalisasi, nilai-nilai ini diharapkan tetap menjadi penuntun karakter generasi muda.

Seminar bertema “Mengukuhkan Ekosistem Pembelajaran Mendalam untuk Pendidikan Berkemajuan dan Berdampak di Bumi Arung Palakka” ini bukan sekadar agenda akademik. Ia menjadi ruang pertemuan mahasiswa, akademisi, dan pemerhati budaya untuk merumuskan peran bahasa dan sastra dalam pembangunan daerah.

Bupati pun menutup sambutannya dengan harapan sederhana namun bermakna: agar kegiatan seperti ini terus ditingkatkan kualitasnya, menjadi lebih paripurna, dan mampu menghidupkan bahasa serta sastra dalam keseharian.

Di tengah tantangan zaman, satu pesan mengendap kuat dari forum tersebut—bahwa bahasa bukan hanya alat komunikasi, melainkan jembatan peradaban. Dan dari ruang-ruang seminar seperti inilah, masa depan itu mulai disusun. (*)