BONE– Langkah kaki itu terasa mantap ketika Bupati Bone H. Andi Asman Sulaiman memasuki Ruang Gubernur di Rumah Jabatan Bupati Bone, Sabtu, 25 April 2026. Di balik suasana formal audiensi, tersimpan satu agenda besar: masa depan konektivitas laut Kabupaten Bone yang kian strategis.

Di hadapan Bupati, hadir dua sosok penting dari dunia transportasi laut: Syamsuddin dan Anom Sedayu. Pertemuan ini bukan sekadar silaturahmi birokrasi, melainkan titik temu antara kebutuhan daerah dan rencana besar pengembangan pelabuhan.

Pelabuhan Bajoe selama ini dikenal sebagai simpul vital yang menghubungkan Sulawesi Selatan dengan wilayah lain, khususnya lintasan menuju Kolaka. Namun di balik peran strategis itu, tantangan pelayanan dan infrastruktur masih menjadi pekerjaan rumah. Dari ruang itulah, diskusi mengalir tentang bagaimana wajah Pelabuhan Bajoe ke depan harus berubah: lebih modern, lebih nyaman, dan lebih mampu menjawab kebutuhan mobilitas masyarakat.

Bupati Bone menaruh perhatian serius pada rencana pembangunan dan peningkatan fasilitas pelabuhan. Baginya, pelabuhan bukan hanya tempat berlabuhnya kapal, tetapi juga gerbang ekonomi daerah. Arus barang, jasa, hingga pergerakan manusia bertumpu pada kualitas layanan di titik ini.

Sementara itu, pihak ASDP memaparkan rencana pengembangan yang mencakup pembenahan sarana penunjang, peningkatan kapasitas layanan, hingga optimalisasi sistem operasional pelabuhan. Harapannya, Pelabuhan Bajoe tidak hanya menjadi penghubung, tetapi juga menjadi simpul pertumbuhan ekonomi baru di kawasan pesisir Bone.

Audiensi ini menjadi penanda bahwa pembangunan infrastruktur tidak lagi berjalan sendiri-sendiri. Kolaborasi antara pemerintah daerah dan BUMN seperti ASDP Indonesia Ferry menjadi kunci dalam menghadirkan layanan transportasi laut yang lebih andal.

Di akhir pertemuan, satu hal terasa jelas: Pelabuhan Bajoe sedang dipersiapkan untuk melangkah ke fase baru. Bukan sekadar tempat persinggahan, melainkan pintu masa depan yang menghubungkan Bone dengan peluang yang lebih luas. (*)