BONE– Halaman kantor Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bone tak dipenuhi seremoni panjang. Rabu (15/4), apel digelar singkat—tanpa banyak formalitas. Sebuah tanda bahwa hari itu bukan tentang pidato, melainkan tentang kerja nyata.

Usai pengarahan singkat, ratusan personel yang terdiri dari Aparatur Sipil Negara (ASN), Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K), satgas kelurahan, hingga masyarakat langsung bergerak. Mereka menyebar ke sejumlah titik yang selama ini dikenal sebagai area rawan penumpukan sampah. Jalanan, saluran air, hingga sudut-sudut permukiman menjadi sasaran patroli.

Tak sekadar mengangkut sampah, kegiatan ini juga menjadi ruang interaksi. Para petugas menyapa warga, mengingatkan dengan cara yang persuasif bahwa kebersihan lingkungan bukan hanya tugas pemerintah, melainkan tanggung jawab bersama. Di tengah aktivitas itu, percakapan sederhana kerap terjadi—tentang kebiasaan membuang sampah, tentang pentingnya menjaga drainase tetap bersih, hingga tentang dampak lingkungan yang lebih luas.

Di antara para petugas, tampak sosok Kepala DLH Kabupaten Bone, Dray Vibrianto, SIP., M.Si. Ia tidak berdiri di balik barisan komando. Dengan topi rimba dan rompi hijau, ia justru berada di tengah kegiatan, bahkan mengendarai motor sampah roda tiga saat proses pengangkutan. Kehadirannya menjadi cerminan kepemimpinan yang terlibat langsung—bekerja bersama, bukan sekadar memberi instruksi.

Menariknya, kegiatan ini juga menunjukkan fleksibilitas dan komitmen para personel. Sejumlah ASN dan P3K terlihat menggunakan kendaraan pribadi, baik sepeda motor maupun mobil, untuk mendukung mobilitas selama patroli. Sebuah gambaran bahwa keterbatasan fasilitas tidak menjadi penghalang untuk tetap bergerak.

Lebih dari sekadar aksi bersih-bersih, kegiatan ini memperlihatkan wajah kolaborasi. Pemerintah, satgas kelurahan, dan masyarakat berjalan dalam satu irama. Tidak ada sekat yang memisahkan peran semua terlibat dalam tujuan yang sama: menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat.

Langkah ini juga selaras dengan semangat program nasional seperti Gerakan Indonesia Asri, yang mendorong kesadaran kolektif dalam menjaga lingkungan. Namun, di Bone, semangat itu diterjemahkan dalam tindakan nyata turun langsung ke lapangan, menyentuh persoalan dari sumbernya.

DLH Kabupaten Bone berharap, kegiatan seperti ini tidak berhenti sebagai agenda sesaat. Lebih dari itu, ia diharapkan tumbuh menjadi budaya—baik dalam lingkungan kerja maupun di tengah masyarakat. Sebab pada akhirnya, kebersihan bukan hanya soal hari ini, tetapi tentang kebiasaan yang terus dijaga, hari demi hari. (*)