BONE– Minggu (29/3/2026), menjadi saksi langkah khidmat rombongan Pemerintah Kabupaten Bone. Di tengah rangkaian peringatan Hari Jadi Bone (HJB) ke-696, mereka menapaki jejak sejarah melalui ziarah ke makam tokoh-tokoh daerah—sebuah tradisi yang tak sekadar seremonial, tetapi sarat makna.

Agenda ini diinisiasi langsung oleh Bupati Bone, H. Andi Asman Sulaiman, sebagai bentuk penghormatan terhadap para figur yang telah meletakkan fondasi pembangunan dan perjalanan panjang daerah.

Salah satu titik ziarah berlangsung di Kecamatan Lappariaja, tepatnya di makam almarhum Zainal Basri Pallaguna—putra daerah Bone yang pernah mengemban amanah sebagai Gubernur Sulawesi Selatan. Sosok yang dikenal dengan dedikasi tinggi itu kini dikenang dalam keheningan doa dan tabur bunga.

Di pusara tersebut, rombongan larut dalam doa bersama. Tabur bunga dilakukan perlahan, seakan menjadi bahasa simbolik yang menyampaikan rasa hormat, terima kasih, dan pengakuan atas pengabdian almarhum semasa hidupnya.

“Ziarah ini merupakan bentuk penghormatan dan penghargaan kita kepada para tokoh yang telah berjasa besar bagi daerah, almarhum Zainal Basri Pallaguna. Melalui momentum Hari Jadi Bone ke-696 ini, kita ingin meneladani semangat pengabdian beliau dalam membangun daerah,” ujar Bupati Andi Asman Sulaiman.

Lebih dari sekadar mengenang, ziarah ini menjadi refleksi kolektif—bahwa kemajuan hari ini berdiri di atas perjuangan masa lalu. Pemerintah daerah memandang tradisi ini sebagai jembatan nilai, yang menghubungkan generasi kini dengan semangat juang para pendahulu.

Di tengah arus modernisasi, kegiatan ini juga menjadi pengingat bahwa sejarah bukan untuk dilupakan. Justru dari sanalah lahir inspirasi untuk melanjutkan pembangunan dengan integritas dan dedikasi.

Rangkaian peringatan HJB ke-696 sendiri masih akan terus bergulir. Berbagai agenda telah disiapkan, mulai dari kegiatan seremonial hingga pelibatan masyarakat luas—menjadikan perayaan ini bukan hanya milik pemerintah, tetapi juga milik seluruh rakyat Bone.

Dalam sunyi ziarah itu, tersimpan pesan yang kuat: bahwa menghormati masa lalu adalah cara terbaik untuk menata masa depan. (*)