BONE– Aula UPT SMAN 8 Bone dipenuhi semangat baru pada Sabtu, 11 Oktober 2025. Siswa-siswi yang tergabung dalam Kelompok Ilmiah Remaja (KIR) tampak antusias menyimak paparan seorang tamu istimewa Dr. H. Shabiel Zakaria, M.Pd., Kasi Pembinaan SMA Cabang Dinas Pendidikan Wilayah III Bone. Ia kembali hadir di Bumi Besse Kajuara, kali ini untuk menyalakan kembali bara semangat literasi di kalangan pelajar.

Tidak tanggung-tanggung, dalam satu kesempatan Shabiel memborong tiga materi penting sekaligus: Teknik Menulis Karya Ilmiah, Teknik Menulis Buku, dan Teknik Menerbitkan Buku di Penerbit Indie. Alih-alih berteori panjang, ia memilih pendekatan praktis langsung pada “dapur menulis”. Setiap slide yang ditampilkannya dilengkapi dengan sumber-sumber valid agar peserta dapat menelusuri kembali teori lengkapnya.

“Saya ingin waktu singkat ini benar-benar dimanfaatkan. Anak-anak harus tahu bahwa menulis dan menerbitkan buku bukan hal yang sulit, asal ada kemauan dan panduan teknis yang jelas,” ujar Shabiel.

Kegiatan ini mendapat sambutan hangat dari Plt. Kepala UPT SMAN 8 Bone, H. Dafris Johan, S.Pd. M.Pd. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa kegiatan organisasi seperti KIR menjadi wadah pengembangan diri yang rutin dilakukan setiap pekan. Namun, kali ini ada yang istimewa pelatihan khusus untuk anggota baru dengan menghadirkan narasumber eksternal.

“Kami berharap pelatihan ini menjadi pintu awal bagi lahirnya karya tulis siswa yang membanggakan sekolah dan menginspirasi teman-temannya,” kata Jafris Johan.

Sementara itu, Mappalinggang, S.Pd., M.Pd., selaku Pembina KIR, menaruh harapan besar agar para anggota KIR mampu menghasilkan karya nyata.

“Saya ingin anak-anak nanti bisa menulis buku ilmiah, meski secara kolaboratif. Ini langkah awal yang baik untuk menumbuhkan kepercayaan diri mereka,” ujarnya penuh optimisme.

Suasana pelatihan semakin hidup ketika Shabiel membagikan enam buku karyanya tiga fiksi dan tiga nonfiksi terbitan Penerbit Syahadah. Buku-buku tersebut diberikan kepada peserta yang berhasil menjawab kuis singkat di setiap sesi materi. Tak hanya menjadi hadiah, buku-buku itu menjadi simbol penyemangat bahwa setiap ide layak dituangkan ke dalam tulisan.

Lebih dari itu, Shabiel membuka peluang nyata bagi siswa SMAN 8 Bone. Ia memperkenalkan Penerbit Indie lokal yang berpusat di Watampone, yang siap memfasilitasi penerbitan karya para pelajar di Bone.

Dengan kegiatan seperti ini, SMAN 8 Bone membuktikan diri sebagai sekolah yang aktif mendorong budaya literasi. Dari ruang kelas di Kajuara, semangat menulis kini menyala, kecil tapi pasti menjadi bara yang suatu hari akan membakar semesta ilmu di Bumi Arung Palakka. (*)