BONE–Ada hal yang tak biasa dalam kunjungan Bupati Bone, H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., M.M., di Desa Watang Cani, Kecamatan Bontocani. Waktu itu, ratusan murid SD dan SMP berjejer di tepi jalan desa, menyambut kedatangan orang nomor satu di Kabupaten Bone yang datang menghadiri kegiatan panen jagung di wilayah pegunungan tersebut.
Suasana cerah berubah penuh riang oleh teriakan dan yel-yel khas Gerakan Pramuka. “Selamat datang, Kakak!” seru para pelajar dengan semangat. Sapaan itu bukan tanpa sebab, pasalnya Bupati Asman juga menjabat sebagai Ketua Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Bone. Sambutan hangat itu membuat suasana desa yang biasanya hening menjadi hidup, penuh energi dan kebanggaan.
Namun, di balik gegap gempita itu, terjadi sebuah momen yang membuat banyak orang tertegun. Saat berjalan di sepanjang barisan pelajar, langkah Bupati mendadak terhenti. Pandangannya tertuju pada seorang siswa SMP yang berdiri sedikit di pinggir barisan seragamnya tampak lusuh, kerahnya pudar, dan celananya terlihat mulai kekecilan.
Bupati mendekat, menundukkan tubuhnya agar sejajar dengan bocah itu.
“Kelas berapa, Nak?” tanyanya lembut.
“Kelas tiga, Puang,” jawab bocah itu pelan sambil menunduk.
“Sekolah di mana?”
“SMP 3 Bontocani,” sahutnya malu-malu.
Senyum hangat mengembang di wajah Bupati. Ia menepuk bahu bocah tersebut, memberi tatapan yang bukan sekadar perhatian, tetapi juga dorongan semangat. “Pak Kadis, tolong ganti bajunya, ya. Kasih yang baru.” ucapnya kepada pejabat Dinas Pendidikan yang mendampinginya.
Lalu ia kembali menatap sang siswa, “Sekolah yang baik, Nak. Saya juga dulu dari pelosok desa di Bakunge. Raihlah cita-citamu setinggi-tingginya. Tidak ada cita-cita yang mustahil selama kita mau berusaha.”
Momen itu hanya berlangsung beberapa detik. Namun bagi mereka yang menyaksikan, ia meninggalkan kesan mendalam. Sebuah kepedulian yang tidak dibuat-buat. Selembar baju sekolah menjadi simbol harapan bahwa pendidikan adalah pintu masa depan, dan setiap anak, di mana pun ia berada, punya hak untuk bermimpi.
Beberapa hari kemudian, kabar baik datang. Plt. Kadis Pendidikan Kabupaten Bone, Edy Saputra Syam, memastikan instruksi itu langsung dijalankan. “Alhamdulillah, seragam baru sudah sampai ke ananda Faisal, siswa SMPN 3 Bontocani. Sesuai perintah Bupati, langsung kami tindak lanjuti,” ujarnya, Jumat, 7 November 2025.
Di pelosok Bontocani yang jauh dari keramaian kota, perhatian kecil itu bermakna besar.
Bagi Faisal, seragam baru itu mungkin hanya sepotong kain. Namun bagi masyarakat Bontocani dan Bone kisah ini menjadi potret kepemimpinan yang manusiawi: Pemimpin yang tidak hanya melihat panen di ladang, tetapi juga masa depan yang sedang tumbuh di ruang-ruang kelas pedesaan. Sebab pemimpin sejati bukan hanya hadir untuk meresmikan, memutus pita, atau berpidato. Ia hadir untuk merawat harapan — meski dimulai dari sesuatu yang sederhana: selembar baju sekolah. (*)



Tinggalkan Balasan