BONE — Minggu pagi di Kompleks Stadion Lapatau, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, berlangsung dengan suasana yang berbeda. Tak ada kesan rapat pemerintahan yang kaku. Di atas hamparan rumput sintetis hijau, dengan mural bertema pariwisata daerah menjadi latar, Bupati Bone H. Andi Asman Sulaiman duduk bersama jajaran camat dan lurah untuk membicarakan sejumlah hal penting terkait pengelolaan kawasan stadion.

Pertemuan yang digelar Minggu, 6 September 2026, itu berlangsung santai, tetapi tetap sarat dengan pembahasan strategis. Bagi Pemerintah Kabupaten Bone, turun langsung ke lapangan bukan sekadar memindahkan ruang rapat ke tempat terbuka. Ada banyak hal yang ingin dipastikan secara langsung, terutama menyangkut tata kelola kawasan yang menjadi salah satu ruang publik paling ramai dimanfaatkan masyarakat.

Setiap akhir pekan, khususnya hari Minggu, kawasan ini berubah menjadi ruang berkumpul masyarakat. Warga datang untuk berolahraga, berjalan santai, menikmati suasana pagi, hingga berbelanja di lapak-lapak pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Dari aktivitas olahraga hingga geliat ekonomi, stadion menjadi titik temu berbagai kepentingan masyarakat. Karena itu, pengelolaannya membutuhkan sinergi lintas pemerintahan. Kecamatan dan kelurahan memiliki peran penting dalam memastikan kawasan tetap tertib, bersih, nyaman, dan mampu memberikan ruang yang baik bagi masyarakat maupun pelaku UMKM.

Dalam rapat tersebut, koordinasi antara pemerintah daerah, kecamatan, dan kelurahan menjadi perhatian utama. Pemantauan tata kelola kawasan stadion harus dilakukan secara bersama-sama, tidak hanya ketika ada agenda besar.

Terlebih, Kompleks Stadion Lapatau tengah dipersiapkan untuk menyambut Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XVIII Sulawesi Selatan yang dijadwalkan berlangsung pada September 2026.

Ajang olahraga tingkat provinsi itu menjadi momentum penting bagi Bone. Bukan hanya sebagai tuan rumah penyelenggaraan sejumlah kegiatan olahraga, tetapi juga sebagai kesempatan menunjukkan kesiapan daerah dalam menyediakan fasilitas publik yang layak dan nyaman.

Kondisi lingkungan sekitar stadion, kebersihan, ketertiban aktivitas UMKM, akses masyarakat, hingga kenyamanan pengunjung turut menjadi bagian yang harus diperhatikan. Koordinasi langsung di lapangan menjadi cara Pemerintah Kabupaten Bone untuk memastikan berbagai aspek tersebut berjalan beriringan.

Semangatnya sederhana: stadion harus siap menyambut atlet dan tamu Porprov, tetapi pada saat yang sama tetap nyaman digunakan masyarakat sehari-hari.

Di tengah persiapan menyambut perhelatan olahraga tersebut, pemerintah daerah juga terus mendorong kesadaran menjaga kebersihan kawasan. Kebersihan tidak diharapkan hanya muncul menjelang sebuah acara besar, melainkan menjadi kebiasaan yang dilakukan secara rutin.

Dengan demikian, wajah Stadion Lapatau yang ingin ditampilkan bukan hanya ketika Porprov berlangsung. Jauh setelah para atlet meninggalkan arena dan rangkaian pertandingan berakhir, kawasan ini diharapkan tetap menjadi ruang publik yang bersih, tertib, dan hidup.

Bagi masyarakat, Stadion Lapatau adalah tempat berolahraga dan berkumpul. Bagi pelaku UMKM, kawasan ini menjadi ruang mencari penghidupan. Sementara bagi pemerintah daerah, stadion menjadi salah satu wajah Bone yang harus dikelola dengan baik.

Dari rumput sintetis hijau dan suasana rapat yang jauh dari kesan formal itu, satu pesan kembali ditegaskan: membangun daerah tidak selalu harus dimulai dari ruang rapat yang tertutup. Terkadang, keputusan dan koordinasi justru menjadi lebih bermakna ketika dilakukan langsung di tengah ruang yang setiap hari digunakan masyarakat.

Dan menjelang Porprov XVIII Sulawesi Selatan, Stadion Lapatau bukan sekadar arena pertandingan. Ia menjadi gambaran bagaimana pemerintah, masyarakat, dan pelaku ekonomi lokal bergerak bersama menjaga sebuah ruang publik agar tetap hidup, nyaman, dan membanggakan. (*)