BONE — Di tengah dinamika harga kebutuhan masyarakat yang terus bergerak, Kabupaten Bone menunjukkan perkembangan positif dalam menjaga stabilitas inflasi daerah. Di bawah kepemimpinan Bupati Bone H. Andi Asman Sulaiman bersama Wakil Bupati H. Andi Akmal Pasluddin, pergerakan inflasi Bone sepanjang 2026 memperlihatkan kecenderungan semakin terkendali.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bone mencatat, setelah mengalami tekanan cukup tinggi pada awal 2026, inflasi tahunan atau Year on Year (YoY) Bone terus melandai hingga Agustus 2026. Dari posisi 5,87 persen pada Februari 2026, angka tersebut turun signifikan menjadi 2,71 persen pada Agustus 2026.
Capaian tersebut menjadi salah satu gambaran bahwa stabilitas harga di Kabupaten Bone bergerak ke arah yang lebih baik. Bahkan, inflasi tahunan Bone pada Agustus 2026 berada di bawah inflasi nasional yang tercatat 3,19 persen.
Penurunan itu tidak terjadi secara tiba-tiba. Ia merupakan bagian dari dinamika pengendalian harga yang terlihat dari pergerakan inflasi bulanan, akumulasi inflasi sepanjang tahun, hingga perbandingan tahunan.
Pada awal 2025, Kabupaten Bone sempat mencatat deflasi selama dua bulan berturut-turut. Januari berada di level minus 0,56 persen, kemudian kembali mengalami deflasi lebih dalam pada Februari sebesar minus 0,98 persen. Tekanan harga kemudian berbalik pada Maret dan April 2025. Inflasi bulanan masing-masing mencapai 1,93 persen dan 1,51 persen.
Memasuki 2026, situasinya mulai menunjukkan pola yang relatif lebih terkendali. Inflasi bulanan tertinggi tercatat pada Januari sebesar 0,91 persen dan Maret sebesar 0,80 persen. Menariknya, pada sejumlah bulan Bone justru mencatat deflasi tipis. Mei berada di angka minus 0,02 persen, Juli minus 0,31 persen, dan Agustus kembali mencatat minus 0,02 persen.
Catatan deflasi pada Juli dan Agustus 2026 menjadi sinyal penting dalam membaca kondisi harga di daerah. Artinya, secara bulanan tidak terjadi tekanan kenaikan harga yang berlebihan, bahkan terdapat kecenderungan penurunan harga pada periode tersebut.
Akumulasi Inflasi Tetap Terjaga
Jika dilihat secara Year to Date (YtD), perkembangan inflasi Bone juga memperlihatkan dinamika yang relatif stabil dan bergerak sejalan dengan tren Sulawesi Selatan. Pada Februari 2025, inflasi YtD Bone sempat terkoreksi hingga minus 1,54 persen. Namun, memasuki periode berikutnya, angka tersebut kembali meningkat dan bertahan pada kisaran 2,40 persen hingga 2,81 persen pada semester kedua 2025.
Memasuki 2026, akumulasi inflasi sepanjang tahun sempat mencapai titik tertinggi pada Juni, yakni 2,75 persen. Setelah itu, trennya kembali melandai.
Pada Agustus 2026, inflasi YtD Kabupaten Bone tercatat 2,42 persen. Angka tersebut memang masih sedikit berada di atas rata-rata nasional yang tercatat 1,86 persen. Namun, jika dilihat dari arah pergerakannya, inflasi Bone menunjukkan kecenderungan penurunan setelah mencapai titik tertinggi pada pertengahan tahun.
Puncak 5,87 Persen Berhasil Ditekan. Pada Februari 2026, inflasi YoY Kabupaten Bone sempat melonjak hingga 5,87 persen. Pada periode yang sama, Sulawesi Selatan juga mengalami tekanan inflasi cukup tinggi, mencapai 6,13 persen. Angka tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah daerah dalam menjaga daya beli masyarakat dan memastikan kebutuhan pokok tetap tersedia dengan harga yang wajar.
Namun, setelah mencapai puncak pada Februari, laju inflasi Bone terus mengalami penurunan secara bertahap. Hingga Agustus 2026, angka YoY Bone telah berada di 2,71 persen. Dengan demikian, terjadi penurunan sebesar 3,16 poin persentase dibandingkan posisi puncak pada Februari. Yang tak kalah penting, capaian 2,71 persen tersebut berada di bawah inflasi nasional sebesar 3,19 persen.
Stabilitas Harga, Bagian dari Kinerja Daerah
Bagi masyarakat, angka inflasi bukan sekadar statistik. Ia bersentuhan langsung dengan harga beras, kebutuhan rumah tangga, transportasi, pangan, serta berbagai kebutuhan sehari-hari. Karena itu, keberhasilan menekan laju inflasi menjadi bagian penting dalam menjaga daya beli masyarakat dan menciptakan iklim ekonomi daerah yang lebih stabil.
Di bawah kepemimpinan H. Andi Asman Sulaiman dan H. Andi Akmal Pasluddin, perkembangan tersebut menjadi salah satu indikator yang memperlihatkan bahwa Kabupaten Bone terus berupaya menjaga keseimbangan antara aktivitas ekonomi dan stabilitas harga.
Data BPS menunjukkan bahwa tekanan inflasi yang sempat tinggi pada awal 2026 tidak berlanjut sepanjang tahun. Sebaliknya, memasuki pertengahan hingga Agustus, laju inflasi menunjukkan tren penurunan. Dari 5,87 persen pada Februari menjadi 2,71 persen pada Agustus. Dari tekanan harga yang tinggi menuju angka yang lebih terkendali.
Bagi Bone, tren tersebut bukan sekadar angka dalam laporan statistik. Di baliknya terdapat kepentingan yang jauh lebih dekat dengan kehidupan masyarakat: harga yang lebih stabil, daya beli yang lebih terjaga, dan aktivitas ekonomi daerah yang dapat terus bergerak.
Perjalanan inflasi sepanjang 2026 masih menyisakan tantangan. Namun, hingga Agustus, Kabupaten Bone telah menunjukkan satu pesan penting: stabilitas harga terus menjadi bagian dari upaya membangun daerah yang tangguh dan berpihak pada kesejahteraan masyarakat. (*)


Tinggalkan Balasan