BONE–Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Pendidikan Agama Islam (PAI) SMA/SMK/SLB Kabupaten Bone menggelar Seminar Sehari Moderasi Beragama, sebuah kegiatan yang menggugah semangat kebersamaan dan toleransi di kalangan pendidik. Bertempat di Bone, kegiatan ini dihadiri hampir seratus guru dari berbagai sekolah negeri dan swasta, menunjukkan antusiasme tinggi terhadap penguatan nilai moderasi beragama di dunia pendidikan.

Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Kepala Seksi PAI Kemenag Bone, Taufik Raden, SAg., M.Sos.I, yang hadir mewakili Kementerian Agama sebagai leading sector dalam program nasional Moderasi Beragama. Ia menekankan pentingnya membangun karakter peserta didik melalui dua sisi utama karakter moral dan karakter kinerja yang menurutnya saling melengkapi dalam membentuk pribadi yang utuh dan berakhlak.

Dari pihak Dinas Pendidikan, hadir Dr. H. Shabiel Zakaria, S.Pd., M.Pd., Kasi Pembinaan SMA Cabang Dinas Pendidikan Wilayah III Bone, yang tidak hanya memberikan sambutan pembukaan tetapi juga menjadi salah satu narasumber utama. Dalam materinya berjudul “Kebijakan Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan dalam Mendukung Moderasi Beragama di Sekolah”, Shabiel menegaskan bahwa nilai-nilai moderasi sejatinya bukan hal baru di dunia pendidikan.

“Sejak lama sekolah sudah menanamkan nilai-nilai kerukunan umat beragama, meski dengan istilah berbeda. Semua berujung pada satu tujuan: hidup damai berdampingan,” ujarnya.

Menurutnya, dunia yang terus berkembang menghadirkan beragam tantangan yang menuntut komitmen bersama dalam menjalankan program nasional Moderasi Beragama. Guru, khususnya guru agama, diharapkan menjadi teladan di sekolah baik dalam penampilan, sikap, maupun cara menanamkan pemahaman yang lurus kepada siswa.

“Guru harus menjadi contoh pertama. Penerapan nilai-nilai moderasi beragama harus dimulai dari ruang kelas, dari perilaku guru itu sendiri,” tegasnya.

Dalam paparannya, Shabiel juga mengaitkan visi Sulsel Maju dan Berkarakter dengan semangat Moderasi Beragama yang menjadi ruh dalam membentuk peserta didik yang toleran, berakhlak, dan berkarakter kuat. Ia mengingatkan pentingnya kebijaksanaan dalam menyikapi isu-isu sensitif, terutama yang berkaitan dengan akidah, agar keharmonisan di lingkungan sekolah tetap terjaga.

Sementara itu, Taufik dari Kemenag Bone menambahkan bahwa keberhasilan moderasi beragama di sekolah bergantung pada konsistensi guru dalam membimbing siswa agar memiliki karakter yang baik dan berimbang.

“Karakter moral dan karakter kinerja harus berjalan beriringan. Itulah dasar dari moderasi beragama yang sejati,” ungkapnya.

Seminar ini menjadi ruang refleksi bagi para pendidik untuk memperkuat peran mereka sebagai agen toleransi di sekolah. Melalui kegiatan seperti ini, diharapkan semangat moderasi beragama dapat terus tumbuh di lingkungan pendidikan Kabupaten Bone menciptakan generasi muda yang damai, inklusif, dan berakhlak mulia. (*)