BONE–Suasana hangat terasa di Rumah Jabatan Bupati Bone pada Selasa, 16 September 2025. Bupati Bone, H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., M.M., duduk bersama dengan sejumlah pengurus organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan di Kabupaten Bone. Pertemuan ini menjadi ruang dialog terbuka antara pemerintah daerah dengan generasi muda yang diharapkan mampu menjawab tantangan Bone ke depan.

Hadir dalam forum tersebut para pengurus organisasi kemahasiswaan seperti HMI, PMII, IMM, Forum Pemuda Indonesia Bone, Serikat Pemuda Revolusioner Bone, Aliansi Pemuda Bersatu, Himpunan Mahasiswa Bone Utara, Himpunan Mahasiswa Bone Selatan, hingga Lamapatunru. Sejumlah pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD) dan Dandim 1407/Bone Letkol Inf. Laode Muhammad Idrus juga turut hadir.

Bupati Bone menekankan pentingnya peran mahasiswa dan pemuda dalam pembangunan daerah. Menurutnya, keberadaan organisasi kepemudaan tidak hanya sebatas wadah berkumpul, tetapi juga harus mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.

“Mahasiswa bisa hadir bersama pemerintah untuk menjadikan Bone lebih baik. Salah satunya dengan ikut dalam program pendampingan keluarga miskin ekstrem. Kontribusi mahasiswa tidak hanya dibutuhkan dalam wacana, tetapi juga aksi nyata di lapangan,” ujar Bupati.

Termasuk penguatan dibidang penelitian dan pengembangan melalui program CSR, termasuk program nasional, program UMKM dan lainnya. “Saya minta komunikasi ini terus berjalan. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri, kami butuh peran pemuda dan mahasiswa untuk membangun daerah ini,” ujarnya.

Taufiqurahman, Ketua SAPMA Bone, menegaskan bahwa pemerintah tidak hanya melihat pembangunan dari sisi fisik, tetapi juga memperhatikan sektor usaha produktif dalam bidang peningkatan SDM kepemudaan.

“Organisasi kepemudaan tidak sebatas sosial kontrol, tetapi juga generasi penerus yang dapat diberdayakan. Maka dari itu kita juga menunggu lahirnya Perda Kepemudaan yang melibatkan lintas sektor dalam pemberdayaan pemuda,” ungkapnya.

Senada dengan itu, Muhammad Rafli, Ketua Serikat Pemuda Revolusioner Bone, mengatakan pentingnya akuntabilitas, transparansi, dan keterbukaan informasi dalam tata kelola pemerintahan. Ia juga mendorong agar Bone bisa menuju predikat Kabupaten Layak Pemuda.

“Dengan predikat itu, kita berharap ada kunjungan anggaran dari pemerintah pusat yang dapat memperkuat pemberdayaan pemuda di Bone,” ujarnya.

Selain isu kepemudaan, pertemuan ini juga menyinggung tantangan ekonomi lokal. Muhammad Rafli menyoroti ketatnya persaingan ekonomi yang seringkali merugikan pelaku usaha kecil, terutama di pasar tradisional. Ia menekankan pentingnya penyerapan tenaga kerja lokal, standar penggajian yang adil, hingga dukungan pemerintah dalam mendorong produk lokal masuk ke pasar modern.

Pertemuan ini akhirnya menjadi ruang dialog strategis. Organisasi kepemudaan dan kemahasiswaan sepakat untuk terus memberikan kontribusi nyata dan bersinergi dengan pemerintah. Bupati Bone pun membuka ruang agar mahasiswa dan pemuda dapat menjadi mitra dalam pelaksanaan program-program pembangunan.

Sinergitas antara pemerintah daerah, kampus, dan pemuda diyakini akan menjadi kunci dalam mempercepat pembangunan dan meningkatkan daya saing Kabupaten Bone di masa depan. (*)