BONE–Lapangan Merdeka Watampone, yang selama ini menjadi denyut aktivitas warga kota, kini memiliki wajah baru. Senin, 26 Januari 2026, Bupati Bone H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., MM meresmikan Halte dan Pojok Kolaborasi—sebuah ruang publik yang disulap dari kawasan yang dulunya kumuh dan kerap menjadi tempat pembuangan sampah, menjadi titik temu layanan, literasi, ekonomi kreatif, dan diskusi warga.

Peresmian ditandai dengan pengguntingan pita oleh Bupati Bone bersama Danrem 141/Toddopuli Brigjen TNI Andre Clift Rumbayan, S.Sos., MM, Dandim 1407/Bone Letkol Inf. Laode Muhammad Idrus, Kapolres Bone AKBP Sugeng Setyo Budhi, SIK, MTr, Opsla, serta Pj. Sekda dan jajaran OPD terkait. Kehadiran unsur Forkopimda menegaskan kuatnya semangat kolaborasi lintas sektor yang diusung fasilitas ini.

“Dulu tempat ini kumuh, bahkan jadi tempat sampah. Kita benahi agar bermanfaat,” ujar Bupati Andi Asman Sulaiman dalam sambutannya.

Lebih dari sekadar halte, kawasan ini diproyeksikan sebagai simpul layanan publik. Halte Lapangan Merdeka akan menjadi loket layanan tiket Fly Jaya menuju Bandara Arung Palakka, memudahkan mobilitas warga. Sambil menunggu, masyarakat dapat mengakses pojok literasi, menikmati produk UMKM lokal, hingga membawa pulang oleh-oleh khas Bone.

“Di sini juga kita siapkan ruang diskusi. Tempatnya adem dan nyaman,” tambah Bupati. Inspirasi pengembangan kawasan ini, menurutnya, datang dari Pojok Kolaborasi di Surabaya, Jawa Timur, yang berhasil menghidupkan ruang publik sebagai pusat interaksi warga.

Fungsi sosialnya pun diperluas. Ke depan, halte ini akan dimanfaatkan sebagai titik antar-jemput siswa. Armada bus sekolah tengah disiapkan dan diperbaiki untuk mendukung layanan tersebut. Dari sisi keamanan, kawasan ini akan dilengkapi pos pengamanan Satpol PP, memastikan Lapangan Merdeka tetap aman dan tertib, terlebih dengan meningkatnya aktivitas ekonomi warga.

Menariknya, rapat-rapat Forkopimda juga direncanakan digelar di Pojok Kolaborasi. Dengan suasana yang lebih santai, Bupati berharap dialog menjadi lebih cair dan produktif. Mahasiswa, ormas, dan organisasi kepemudaan akan diundang untuk menyampaikan gagasan—sebuah ikhtiar menjaring masukan publik demi peningkatan layanan sekaligus penguatan PAD.

“Untuk menjaga fasilitas ini, kita akan bentuk tim. Masyarakat sudah menikmati Lapangan Merdeka sebagai ruang berjualan, maka tanggung jawab kita bersama untuk merawatnya,” tutup Bupati.

Kini, Halte dan Pojok Kolaborasi Lapangan Merdeka bukan hanya bangunan baru, melainkan simbol perubahan dari ruang terabaikan menjadi ruang harapan, tempat layanan, literasi, ekonomi rakyat, dan kolaborasi tumbuh berdampingan. (*)