BONE– Pagi masih gelap ketika Nurhasanah memulai harinya. Di dapur sederhana rumahnya di Kecamatan Kajuara, api kompor menyala sejak subuh. Tangan seorang ibu bekerja tanpa jeda menanak nasi, menyiapkan lauk dalam porsi besar agar siapa pun anaknya yang bangun paling akhir atau pulang paling lambat tetap bisa makan.
Begitulah keseharian Nurhasanah, pegawai Kantor Camat Kajuara, Kabupaten Bone. Seorang ibu dengan 12 orang anak, yang selama 10 tahun mengabdi sebagai tenaga honorer, dan setiap hari berangkat ke kantor dengan ojek, meski jarak rumah ke tempat kerja hanya sekitar satu kilometer.
Rabu, 24 Desember 2025, menjadi hari yang tak akan ia lupakan.
Di tengah upacara penyerahan SK Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Paruh Waktu, Bupati Bone H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., MM tiba-tiba melontarkan sebuah pertanyaan sederhana namun mengundang perhatian.
“Siapa di sini yang memiliki anak 10 orang?”
Nurhasanah terdiam. Ragu sejenak. Namun kemudian ia mengangkat tangan. Langkahnya pelan menuju podium saat namanya dipersilakan maju. Suasana mendadak hening.
Dengan suara bergetar, Nurhasanah mulai bercerita. Ia mengungkapkan memiliki 12 orang anak, dengan anak sulung berusia 30 tahun dan yang paling bungsu 10 tahun. Suaminya merupakan pensiunan pegawai Kantor Camat Kajuara. Kehidupan dijalani sederhana, penuh kerja sama. Para kakak terbiasa menjaga adik-adiknya, saling menguatkan dalam keterbatasan.
Kisah itu membuat banyak mata berkaca-kaca. Termasuk Bupati Bone.
Momen penyerahan SK tersebut bertepatan dengan peringatan Hari Ibu, dan bagi Andi Asman, kisah Nurhasanah adalah gambaran nyata pengorbanan seorang perempuan seorang ibu yang tak hanya membesarkan banyak anak, tetapi juga setia mengabdi kepada negara.
“Ini bentuk penghargaan kepada ibu yang telah merawat dan membesarkan banyak anak, sekaligus tetap mengabdi kepada negara,” ujar Andi Asman dengan suara penuh empati.
Sebagai bentuk apresiasi, Bupati Bone kemudian menyerahkan satu unit sepeda motor kepada Nurhasanah.
Tepuk tangan meriah menggema. Nurhasanah tak kuasa menahan air mata. Tangannya gemetar saat menerima hadiah itu bukan sekadar kendaraan, tetapi simbol pengakuan atas pengabdian panjang yang selama ini dijalani dalam senyap.
Dengan mata berkaca-kaca, ia menyampaikan rasa syukur dan terima kasihnya. Hari itu, perjuangan seorang ibu akhirnya mendapat panggungnya sendiri di hadapan negara yang ia layani dengan tulus, selama bertahun-tahun tanpa keluh. (*)



Tinggalkan Balasan