BONE — Suasana duka masih menyelimuti Kampung Pisang, Desa Uloe, Kecamatan Dua Boccoe, Kabupaten Bone, Sabtu (10/10/2026). Sehari sebelumnya, api melalap rumah warga ketika sebagian besar masyarakat masih terlelap dalam tidur. Kini, yang tersisa adalah puing-puing bangunan, kepedihan keluarga, dan kehilangan yang tak mudah dilupakan.
Di tengah suasana tersebut, Bupati Bone, H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., M.M., datang langsung menemui keluarga korban. Kehadirannya bukan sekadar kunjungan, tetapi juga membawa pesan bahwa pemerintah daerah tidak membiarkan warganya menghadapi musibah seorang diri.
Bupati Bone menyerahkan bantuan uang tunai sebesar Rp40 juta kepada tiga keluarga terdampak kebakaran. Bantuan tersebut diharapkan dapat sedikit meringankan beban keluarga yang kini harus menghadapi kehilangan tempat tinggal sekaligus kehilangan anggota keluarga.
Dengan suasana penuh duka, Bupati menyampaikan belasungkawa atas musibah yang terjadi.
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Bone, saya menyampaikan duka cita yang mendalam atas musibah kebakaran yang terjadi di Desa Uloe. Terlebih lagi, peristiwa ini telah merenggut nyawa salah satu anggota keluarga korban. Semoga almarhumah mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan serta ketabahan,” kata Bupati Bone.
Musibah itu terjadi pada Jumat (9/10/2026) sekitar pukul 02.00 WITA. Saat malam masih pekat dan sebagian besar warga sedang terlelap, kobaran api tiba-tiba melalap permukiman warga. Dua rumah warga, masing-masing milik Nadi (60) dan Arase (65), hangus terbakar.
Satu rumah lainnya milik Lambo Okarniatif, seorang purnawirawan TNI yang dikenal sebagai Koordinator Pelaku UMKM Bone, juga turut terdampak. Namun, kebakaran tersebut tidak hanya meninggalkan kerugian materi. Di balik puing-puing rumah yang terbakar, ada sebuah kehilangan yang jauh lebih besar.
Asrida (29), putri Nadi, meninggal dunia dalam peristiwa tragis tersebut. Kepergian Asrida meninggalkan luka mendalam bagi keluarga. Bagi mereka, kebakaran itu bukan sekadar musibah yang menghanguskan tempat tinggal, tetapi juga merenggut salah satu orang yang mereka cintai.
Bagi masyarakat Kampung Pisang, kejadian tersebut menjadi pengingat bahwa musibah bisa datang kapan saja, bahkan ketika malam sedang sunyi dan warga tengah beristirahat.
Di tengah kesedihan itu, bantuan pemerintah menjadi bentuk nyata perhatian kepada para korban. Bupati Bone mengatakan, penyaluran bantuan merupakan wujud kepedulian pemerintah daerah kepada masyarakat yang sedang menghadapi cobaan. “Saya berharap keluarga korban tetap tabah dan kuat menghadapi cobaan ini. Pemerintah daerah akan terus berupaya hadir di tengah masyarakat,” kata Bupati Bone.
Pesan tersebut menjadi penting bagi keluarga korban yang kini harus menata kembali kehidupan setelah kehilangan rumah dan anggota keluarga.
Bantuan mungkin tidak dapat mengembalikan rumah yang telah terbakar atau menghadirkan kembali sosok yang telah pergi. Namun, kehadiran pemerintah dan kepedulian masyarakat setidaknya menjadi penguat bahwa para korban tidak menghadapi masa sulit itu sendirian.
Peristiwa di Kampung Pisang juga menjadi pengingat bagi masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran. Pemeriksaan instalasi listrik, penggunaan peralatan rumah tangga, serta memastikan sumber api dalam kondisi aman menjadi langkah sederhana yang penting dilakukan.
Sebab, kebakaran bukan hanya soal kehilangan harta benda. Dalam hitungan menit, api dapat mengubah rumah menjadi puing dan, dalam kondisi terburuk, merenggut nyawa.
Di Kampung Pisang, kepulan asap telah menghilang. Api telah padam. Tetapi duka keluarga korban masih akan membutuhkan waktu untuk pulih.
Di antara puing-puing itulah, kehadiran pemerintah menjadi secercah harapan—bahwa setelah musibah, masih ada tangan yang membantu, masih ada kepedulian yang menguatkan, dan masih ada kesempatan untuk kembali menata kehidupan. (*)


Tinggalkan Balasan