BONE–Menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru, kekhawatiran masyarakat terhadap potensi lonjakan harga pangan di Kabupaten Bone akhirnya terjawab. Kepala Bagian Ekonomi Setda Bone, A. Paduleng, S.STP, memastikan bahwa secara umum kondisi harga bahan pokok masih berada dalam batas aman dan terkendali.
Menurutnya, memang terdapat kenaikan pada beberapa komoditas, khususnya bawang merah, yang sempat mengalami kenaikan harga hingga sekitar 60 persen. Namun, kenaikan tersebut masih dinilai wajar dan berada dalam koridor harga pasar.
“Bawang memang sempat naik, tapi itu faktor cuaca dan keterbatasan stok. Kita juga bukan daerah penghasil bawang, sehingga sangat bergantung dari daerah lain. Kondisi ini tidak hanya terjadi di Bone, tapi hampir di seluruh Indonesia,” jelas A. Paduleng.
Ia menambahkan, dari 311 kabupaten/kota se-Indonesia, Kabupaten Bone tidak termasuk daerah yang masuk kategori waspada maupun waspada tinggi dalam daftar inflasi nasional. Hal ini menjadi indikator bahwa stabilitas harga pangan di Bumi Arung Palakka masih terjaga dengan baik.
Dari sisi angka, inflasi Kabupaten Bone dari November ke Desember tercatat sekitar 2,63 persen, berada di bawah rata-rata provinsi dan nasional. Bahkan, tren inflasi menunjukkan penurunan dibandingkan periode sebelumnya. Pada Oktober–November, inflasi berada di angka 3,28 persen, kemudian turun menjadi sekitar 2,67 persen pada November–Desember.
“Selama masih di bawah ambang batas aman, yakni sekitar 3,5 persen, maka kondisi inflasi kita masih terkendali. Alhamdulillah, Bone masih dalam kategori aman,” ungkapnya.
Pengendalian inflasi ini, kata Paduleng, tidak terlepas dari rapat rutin mingguan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) yang secara konsisten membahas perkembangan harga dan langkah antisipasi. Koordinasi juga terus dilakukan dengan Tim Pengendali Inflasi Pusat serta instansi terkait lainnya.
Pemantauan harga pangan sendiri dilakukan secara intensif. Untuk harga pasar tradisional, pemantauan dilakukan setiap hari oleh Dinas Perdagangan dan langsung dilaporkan melalui sistem aplikasi. Sementara untuk sektor ritel modern, pemantauan dilakukan sebulan sekali. Seluruh data tersebut kemudian dibahas dalam rapat mingguan bersama TPID dan Badan Pusat Statistik (BPS).
“Pemantauan itu sebenarnya tidak harus selalu turun rame-rame ke lapangan. Setiap hari harga pasar sudah dipantau dan dilaporkan. Jadi pergerakan harga selalu kita pantau,” jelasnya.
Menutup keterangannya, A. Paduleng menyampaikan bahwa menjelang akhir tahun, unsur pimpinan daerah juga berencana turun langsung bersama Satgas Pangan, termasuk dari unsur kepolisian, guna memastikan ketersediaan dan stabilitas harga pangan tetap terjaga.
Dengan berbagai langkah tersebut, masyarakat Kabupaten Bone diharapkan dapat menyambut Natal dan Tahun Baru dengan tenang, tanpa kekhawatiran berlebih terhadap lonjakan harga kebutuhan pokok. (*)



Tinggalkan Balasan