BONE–Di balik bangunan tua eks Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) di Jalan Merdeka, Kelurahan Manurunge, Kecamatan Tanete Riattang, Kabupaten Bone, tersimpan kisah sejarah, pengabdian, dan harapan yang tak lekang oleh waktu. Bangunan yang kini tampak semrawut dan terhimpit hiruk-pikuk pusat kota itu masih menyimpan satu saksi hidup: Azis Shaleh, purna bakti pegawai eks Lapas yang telah mengabdikan hidupnya sejak tahun 1966.
Minggu pagi, 25 Januari 2026, menjadi hari yang tak akan dilupakan Azis Shaleh. Usai kegiatan Car Free Day, Bupati Bone H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., MM meluangkan waktu mengunjungi bangunan eks Lapas tersebut. Kunjungan itu bukan sekadar peninjauan biasa, melainkan pertemuan penuh empati antara pemimpin daerah dan penjaga sejarah.
Melihat langsung kondisi bangunan yang tak terawat dan berada tepat di jantung kota, Bupati Bone mengaku sangat prihatin. Menurutnya, tempat tersebut bukan sekadar bangunan tua, melainkan bagian penting dari perjalanan sejarah Bone.
“Sebagai pemerintah daerah, kita wajib melestarikan tempat yang menjadi sejarah. Apalagi masih ada saksi hidup yang bisa menceritakan bagaimana masa lalu dan sejarah kelam yang pernah terjadi di bangunan ini,” ujar Bupati Bone.
Sebagai langkah awal, Bupati Bone berkomitmen membangun komunikasi dengan kementerian terkait agar eks bangunan Lapas tersebut dapat dikerjasamakan atau dialihfungsikan menjadi pusat budaya, sejarah, ekonomi, dan sosial, sehingga kelak bisa menjadi ikon baru bagi masyarakat Bone. Tak hanya itu, pada Selasa, 27 Januari 2026, direncanakan akan dilaksanakan kerja bakti bersama untuk membersihkan area bangunan sebagai wujud kepedulian awal.
Namun, momen paling mengharukan terjadi ketika Bupati Bone menyampaikan bentuk apresiasi kepada Azis Shaleh. Di hadapan saksi sejarah itu, Bupati Bone menyatakan akan memberangkatkan Azis Shaleh untuk menunaikan ibadah umrah.
“Sebagai bentuk apresiasi saya kepada Pak Azis Shaleh yang masih hidup dan masih tinggal di tempat ini, kita umrahkan,” ucap Bupati Bone dengan nada penuh ketulusan.
Azis Shaleh, pria kelahiran 4 April 1944, tak kuasa menyembunyikan rasa haru dan syukurnya. Di usia yang telah lanjut, impian yang selama ini hanya terpendam akhirnya terwujud.
“Mungkin ini bagian dari mimpi saya semalam,” tuturnya lirih.
“Seakan-akan ada yang membangunkan saya sekitar pukul 02.00 WITA. Saya bangun, lalu shalat tahajud. Tidak pernah saya sangka, di usia seperti ini, saya bisa mendapat rezeki untuk ke Kota Mekkah,” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.
Azis Shaleh merupakan purna bakti pegawai eks Lembaga Pemasyarakatan Jalan Merdeka yang diangkat sebagai pegawai pada tahun 1966. Hingga kini, ia masih tinggal di area bangunan tersebut, menjaga kenangan dan sejarah yang perlahan mulai dilupakan.
Kisah ini bukan hanya tentang hadiah umrah, tetapi tentang penghormatan terhadap pengabdian, kepedulian pada sejarah, dan sentuhan kemanusiaan seorang pemimpin. Dari bangunan tua di pusat kota Bone, lahir sebuah cerita yang mengingatkan bahwa sejarah hidup tidak boleh ditinggalkan, dan mimpi dapat terwujud melalui ketulusan. (*)



Tinggalkan Balasan