BONE– Melalui program Dialog RRI Bone, suara optimisme tentang masa depan generasi muda mengalir ke seluruh penjuru Kabupaten Bone pada Rabu siang, 17 Desember 2025. Dipandu penyiar Fia, perbincangan kali ini mengangkat tema “Generasi Cerdas Berdaya Saing Global”, menghadirkan dua narasumber inspiratif: Kepala UPT SMAN 13 Bone, Drs. Hamzah, M.M, dan Ulfi Sri Madani, siswi berprestasi peraih Juara 1 Olimpiade Bahasa Jerman IGBJI Bawakaraeng Sulawesi Selatan.

Dalam dialog tersebut, Drs. Hamzah membuka kisah tentang transformasi sekolah yang dipimpinnya. SMAN 13 Bone, yang sebelumnya dikenal sebagai SMAN 4 Bone, resmi berubah nomenklatur pada tahun 2017. Kini, sekolah ini menaungi 1.286 siswa dengan 36 rombongan belajar, tumbuh sebagai salah satu pusat pengembangan potensi pelajar di Bone.

Menurut Hamzah, makna generasi cerdas berdaya saing global bukan sekadar unggul akademik, tetapi generasi yang mampu merencanakan masa depan dengan percaya diri dan tidak menjadi “penonton di rumahnya sendiri”.

“Tugas kita adalah mencerdaskan anak bangsa sejak dini. Kita ingin generasi Bone mampu bersaing secara global dengan karakter yang kuat,” ujarnya.

Upaya tersebut diwujudkan melalui pemetaan potensi siswa sejak awal masuk sekolah. Setiap siswa menjalani proses wawancara untuk mengidentifikasi prestasi akademik, bakat, dan minat. Dari sinilah sekolah menyusun strategi pembinaan yang terarah dan berkelanjutan.

SMAN 13 Bone juga dikenal sebagai sekolah dengan ekstrakurikuler terbanyak, sekitar 30 eskul, yang didukung anggaran kurang lebih Rp400 juta per tahun. Hasilnya, prestasi sekolah tumbuh seimbang antara akademik dan nonakademik. Di bidang akademik, siswa SMAN 13 Bone berhasil meraih Juara I dan II Olimpiade Bahasa Jerman tingkat Provinsi Sulawesi Selatan, bahkan melaju ke tingkat nasional di Jakarta. Di sisi lain, prestasi nonakademik pun bersinar, salah satunya siswa yang mewakili Sulsel pada cabang olahraga menembak.

Tahun 2025 menjadi momen istimewa bagi Hamzah, sekaligus tahun terakhirnya sebagai ASN. Di penghujung pengabdian, SMAN 13 Bone menorehkan prestasi membanggakan dengan meraih Penghargaan Adiwiyata Mandiri dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI. Penghargaan tertinggi bagi sekolah berbudaya lingkungan ini diterima langsung di Jakarta, menegaskan posisi SMAN 13 Bone sebagai salah satu sekolah terbaik di Bone.

Tak hanya berprestasi, SMAN 13 Bone juga kerap dipercaya menjadi tuan rumah berbagai event bergengsi, seperti Lomba Paskibraka tingkat Sulselbar dan, pada 20 Desember mendatang, menjadi tuan rumah turnamen basket se-Sulawesi Selatan.

Dalam membangun karakter siswa, pihak sekolah menanamkan nilai kedekatan dan penghargaan. Siswa berprestasi diberikan sertifikat dan uang pembinaan dari Komite Sekolah. Lebih dari itu, guru dan kepala sekolah hadir lebih awal menyambut siswa dengan wejangan, jabat tangan, dan afirmasi positif.

“Kami ingin siswa merasakan bahwa kami bangga menjadi gurunya. Ini bagian dari pembangunan karakter,” tutur Hamzah.

Program 3S (Sapa, Senyum, Salam) diterapkan secara konsisten, ditambah literasi Al-Qur’an melalui program Gubernur, di mana siswa ditargetkan mampu menghafal Juz 30—program yang juga diikuti guru dan kepala sekolah.

Sementara itu, Ulfi Sri Madani membagikan kisah sederhana namun inspiratif tentang perjalanannya mengenal Bahasa Jerman. Ketertarikannya muncul saat naik ke kelas XI, setelah sebelumnya hanya fokus pada Bahasa Inggris.

“Awalnya biasa saja, bahkan ragu. Tapi lama-lama Bahasa Jerman terasa asyik, mirip Bahasa Inggris, walau pengucapannya terdengar aneh,” ungkap Ulfi sambil tersenyum.

Keberaniannya diuji saat ia diikutsertakan dalam Gebyar Bahasa Jerman di Bone, meski masih tergolong pemula. Dengan bimbingan guru pembina, latihan menulis surat dalam Bahasa Jerman, serta kebiasaan mendengarkan lagu-lagu berbahasa Jerman, Ulfi perlahan menemukan kepercayaan dirinya.

Kerja keras itu berbuah manis. Ulfi berhasil meraih Juara 1 tingkat Provinsi Sulawesi Selatan dan siap mewakili Sulsel ke Jakarta pada Januari 2026. “Saya takut mengecewakan, tapi dukungan guru dan sekolah membuat saya yakin,” tuturnya.

Dialog di RRI Bone siang itu menjadi cermin nyata bahwa dengan kepemimpinan visioner, lingkungan sekolah yang mendukung, serta keberanian siswa untuk mencoba, generasi cerdas berdaya saing global bukan sekadar slogan, melainkan kenyataan yang tumbuh dari ruang-ruang kelas di Kabupaten Bone. (*)