BONE — Persiapan venue olahraga di Kabupaten Bone tidak berhenti pada satu kali peninjauan. Di tengah waktu pelaksanaan pertandingan yang semakin dekat, kesiapan fasilitas terus menjadi perhatian bagi Cabor. Satu demi satu venue diperiksa, dievaluasi, lalu kembali ditinjau untuk memastikan semuanya benar-benar siap ketika atlet dan ofisial datang bertanding.
Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Bone, Drs. Asiswa Karim, menegaskan proses visitasi venue terus dilakukan secara berkelanjutan. Peninjauan tidak hanya bertujuan melihat kondisi fasilitas saat ini, tetapi juga memastikan setiap pembenahan berjalan hingga venue dinyatakan layak digunakan.
“Visitasi bukan hanya pada saat sekarang ini. Sampai clear-nya itu, artinya sampai siap atau ready-nya venue mau dipakai,” kata Asiswa.
Bagi Asiswa, kesiapan venue bukan perkara administratif semata. Ada banyak hal yang harus dipastikan di lapangan, mulai dari kondisi bangunan, kebersihan, fasilitas pendukung, hingga kesesuaian dengan kebutuhan masing-masing cabang olahraga.
Karena itu, kemungkinan peninjauan kembali dilakukan pada bulan berikutnya. Progres pembenahan setiap venue akan dilihat kembali untuk memastikan tidak ada fasilitas yang luput dari perhatian.
Sejumlah cabang olahraga yang telah melihat langsung venue di Bone sejauh ini memberikan respons positif. Salah satu fasilitas yang cukup banyak mendapat perhatian adalah Gedung Pemuda.
Gedung tersebut dinilai representatif dan berpotensi menjadi salah satu pusat pertandingan, terutama untuk cabang olahraga bela diri. Namun, Asiswa tidak ingin penilaian positif itu membuat proses pembenahan berhenti.
Ia menyebut Gedung Pemuda memang sudah memiliki modal sebagai venue pertandingan, tetapi belum sepenuhnya siap digunakan.
“Siapa pun yang melihat itu dianggap representatif. Cuma kita sampaikan bahwa ini belum ready 100 persen. Perlu dicat, dibersihkan WC-nya dan sebagainya,” ujarnya.
Ketertarikan terhadap Gedung Pemuda bahkan datang dari berbagai cabang olahraga bela diri. Kondisi bangunan dan lokasi membuat fasilitas tersebut menjadi salah satu venue yang paling banyak dilirik.
“Disukai sekali itu. Semua cabang olahraga bela diri di Bone melirik ke situ,” katanya.
Namun, pekerjaan rumah tidak hanya berada di Gedung Pemuda. Gedung Olahraga (GOR) juga masih membutuhkan pembenahan sebelum dapat dimanfaatkan secara optimal. Demikian pula venue panjat tebing yang dinilai belum memenuhi standar dan membutuhkan perhatian lebih serius.
Persoalan anggaran menjadi salah satu tantangan dalam proses tersebut. Sejumlah fasilitas masih membutuhkan dukungan pembiayaan untuk melakukan perbaikan, sementara waktu menuju pelaksanaan pertandingan terus berjalan.
Bagi Asiswa, kondisi ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut.
Ia memberikan perhatian khusus terhadap venue panjat tebing. Kesiapan fasilitas menurutnya harus dipastikan sebelum kontingen tiba di Bone. Sebab, kedatangan atlet dan ofisial tanpa dukungan venue yang siap justru dapat mengganggu jalannya pertandingan.
“Jangan sampai atlet dan ofisial datang, tetapi venuenya belum bisa dipakai,” kurang lebih menjadi kekhawatiran yang ingin diantisipasi melalui pembenahan sejak dini.
Asiswa mengaku telah berkoordinasi dengan pihak terkait agar venue tersebut dapat dipersiapkan semaksimal mungkin, meski di tengah keterbatasan anggaran.
Perhatian terhadap panjat tebing bukan tanpa alasan. Bone memiliki sejarah pada cabang olahraga tersebut. Selain pernah berjaya, daerah ini juga dinilai masih memiliki potensi atlet dan pelatih yang dapat dikembangkan.
“Panjat tebing memang sangat potensi atletnya, pelatihnya datang ke saya, karena historinya ada. Bone dulu pernah berjaya dan potensinya memang ada,” katanya.
Di titik inilah persoalan venue olahraga menjadi lebih dari sekadar persiapan menghadapi sebuah pertandingan. Bagi KONI Bone, pembenahan fasilitas merupakan bagian dari upaya membangun ekosistem olahraga yang dapat bertahan setelah pertandingan selesai.
Venue yang layak bukan hanya menjadi tempat bertanding. Ia dapat menjadi ruang tumbuh bagi atlet, tempat pelatih menempa kemampuan, sekaligus menjadi bagian dari perjalanan sebuah cabang olahraga untuk kembali berjaya.
Asiswa pun menegaskan bahwa perhatian terhadap fasilitas dan pembinaan olahraga tidak semata-mata ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pertandingan yang akan datang. Ada visi yang lebih panjang: memastikan olahraga di Bone tetap memiliki masa depan.
“Tujuan utama saya adalah untuk keberlangsungannya ke depan,” pungkasnya. (*)


Tinggalkan Balasan