BONE– Suara alu bertalu memecah hamparan sawah di Dusun Tuang, Desa Tawaroe, Kecamatan Dua Boccoe, Kamis pagi, 12 Februari 2026. Denting ritmis itu bukan sekadar bunyi kayu beradu, melainkan tanda syukur yang diwariskan turun-temurun: Mappadendang. Di tengah suasana sakral dan penuh kegembiraan itulah Bupati Bone, H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., MM bersama Ketua Tim Penggerak PKK Bone, Hj. Maryam Andi Asman, meresmikan Sekretariat Brigade Pangan Tuan Lewo.

Peresmian ditandai dengan pengguntingan pita, disaksikan para petani, tokoh masyarakat, dan jajaran pemerintah daerah. Momentum tersebut dirangkaikan dengan Pesta Panen Mabissa Rakkapeng dan Mappadendang tradisi Bugis yang sarat makna, sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil panen yang melimpah.

Camat Dua Boccoe, H. Amirat, S.Sos., M.Si menegaskan bahwa pesta panen bukan sekadar seremoni, melainkan bagian dari identitas dan jati diri masyarakat.
“Pesta panen ini sebagai upaya melestarikan budaya kita. Mabissa Rakkapeng dan Mappadendang merupakan warisan budaya yang harus dijaga dengan baik,” ujarnya.

Di balik gegap gempita budaya, sektor pertanian Dua Boccoe menunjukkan capaian yang membanggakan. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, kecamatan ini menerima bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) dalam jumlah besar: 20 unit combine harvester, 24 unit traktor roda empat, serta belasan unit rice transplanter.

“Ini tidak pernah terjadi sepanjang sejarah,” ungkap Camat Amirat.

Data pertanian pun menguatkan optimisme tersebut. Luas panen di Dua Boccoe mencapai 3.777 hektare, dengan 2.994 hektare di antaranya merupakan lahan optimasi (Opla). Program Opla ini merupakan penunjukan langsung dari Menteri Pertanian RI, Andi Amran Sulaiman—sebuah bentuk perhatian nyata pemerintah pusat terhadap potensi pertanian Bone.

Bagi Bupati Andi Asman Sulaiman, Desa Tawaroe memiliki makna tersendiri.
“Saya hadir di sini sudah kelima kalinya. Mulai dari saya sebagai Kadis Ketahanan Pangan, Kadis Pertanian, dan sudah dua kali sejak menjadi Bupati Bone. Tempat ini penuh berkah,” tuturnya di hadapan masyarakat.

Ia menegaskan, kehadirannya bukan semata untuk menikmati hidangan pesta panen.
“Saya hadir di sini bukan persoalan makanan. Mungkin saya duduk di rujab saya bisa makan, tapi saya mau silaturahmi,” ucapnya, disambut tepuk tangan warga.

Di tengah kebahagiaan panen, Bupati juga menyinggung kondisi infrastruktur jalan yang masih perlu perhatian. Ia berkomitmen untuk mengawalnya dalam lima tahun ke depan agar akses pertanian dan mobilitas warga semakin baik.

“Infrastruktur jalan di dalam kota sudah kita lakukan perbaikan. Itu semua tidak lepas dari kerja sama dan keikhlasan kita semua,” katanya.

Ia mengakui, langkah efisiensi anggaran dilakukan dengan mengurangi alokasi pada sejumlah OPD dan mengarahkannya untuk kepentingan masyarakat luas, terutama sektor-sektor strategis seperti pertanian dan infrastruktur.

Di penghujung sambutannya, Bupati menitip pesan kepada kelompok Brigade Pangan Tuan Lewo agar menjaga dan memanfaatkan bantuan yang telah diberikan.
“Saya hanya berpesan kepada kelompok brigade pangan ini, dijaga bantuannya agar bisa digunakan sebaik-baiknya,” tegasnya.

Pesta panen hari itu bukan sekadar seremoni tahunan. Ia menjadi penanda kuat bahwa di Desa Tawaroe, budaya dan pembangunan berjalan beriringan. Di antara denting Mappadendang dan hamparan padi yang menguning, tersimpan harapan tentang Bone yang makin mandiri, sejahtera, dan tetap teguh menjaga akar tradisinya. (*)