
BONE – Suasana di koridor SMP Islam Athirah Bone tampak berbeda selama tiga hari terakhir. Alih-alih kesunyian ruang kelas yang kaku, gelak tawa dan percakapan dinamis terdengar riuh rendah. Bukan dalam bahasa ibu, melainkan dalam bahasa Inggris yang mengalir jujur, meski sesekali terbata.
Bertajuk “English Athirah Zone”, kegiatan yang berlangsung sejak Senin hingga Rabu (4-6 Mei 2026) ini membawa angin segar bagi para siswa. Bekerja sama dengan LKP SOBBI (Semua Orang Bisa Berbahasa Inggris) asal Kabupaten Soppeng, sekolah ini menghadirkan pengalaman belajar yang tak biasa: interaksi langsung dengan tujuh native speakers asal Amerika Serikat.
Motto kegiatannya singkat namun sarat makna: “Beyond the Words”. Dan benar saja, di lapangan, komunikasi yang terjalin memang melampaui sekadar hafalan kosakata.
“Selama kegiatan, siswa merasa senang bertemu para native speakers. Bahkan mereka yang di kelas merasa kurang mahir bahasa Inggris menjadi lebih berani bertanya, meski dengan kalimat yang tidak lengkap,” ungkap Sir Hasmawan, S.Pd., Penanggung Jawab Kegiatan. Menurutnya, kunci keberanian siswa terletak pada atmosfer yang diciptakan. “Mereka sadar bahwa di sini tidak ada struktur grammar yang dinilai, melainkan murni untuk bertukar informasi.”
Kehadiran Sam, McKinley, JJ, Agus, Lukas, Sophia, dan Joshua di tengah-tengah siswa terbukti mampu meruntuhkan tembok kecemasan yang sering menghantui pelajar. Ketertarikan akan budaya dan kehidupan di luar negeri menjadi bahan bakar yang ampuh bagi keberanian siswa untuk membuka suara. Rasa ingin tahu yang besar membuat mereka lupa akan rasa takut salah.
Erwin B, selaku wakil kepala sekolah bidang kurikulum mengungkapkan bahwa hal ini berbeda jika dibandingkan dengan interaksi bersama pengajar lokal. Siswa cenderung merasa kurang percaya diri karena sadar bahwa lawan bicaranya juga masih dalam tahap belajar dan memiliki latar budaya yang mirip, sehingga dorongan untuk bertanya tidak sekuat saat berhadapan dengan penutur asli yang membawa cerita dari belahan dunia lain.
Sam, salah satu native speaker asal USA, mengaku sangat terkesan dengan energi yang ia temui di SMP Islam Athirah Bone. “Saya merasa senang melihat antusiasme anak-anak dalam belajar. Saya memahami pentingnya untuk selalu menggunakan bahasa Inggris agar mereka terus terlatih,” tuturnya.
Tak hanya berhenti pada siswa, dampak positif ini juga merambah ke tenaga pendidik. Sam bersama rekan-rekan lainnya menyempatkan diri melakukan diskusi hangat dan berlatih speaking dengan para guru, menciptakan ekosistem belajar yang menyeluruh di lingkungan sekolah. (*)


Tinggalkan Balasan