Oleh : Soesilo Mardijanto, S.Sos.,M.M

WAKASEK UPT SMAN 16 BONE & PEMERHATI SOSIAL DAN PENDIDIKAN

Istilah “Jasmerah” atau jangan lupa Sejarah sudah seharusnya digaungkan, termasuk perjuangan para pemuda Indonesia. Akan tetapi, peringatan Sumpah Pemuda setiap tanggal 28 Oktober bukan hanya sarana atau momentum untuk mengenang sejarah perjuangan para pemuda Indonesia saja, tetapi juga pemicu improvenya bangsa ini. Berkaca pada 28 Oktober 1928, para pemuda dari berbagai latar belakang menyatukan tekad melalui ikrar untuk bertumpah darah satu, berbangsa satu, dan menjunjung bahasa persatuan, yaitu Indonesia. Semangat persatuan tersebut tetap memiliki makna penting hingga saat ini, terutama ketika bangsa Indonesia menghadapi perubahan besar akibat perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) telah membawa perubahan mendasar dalam berbagai sendi kehidupan manusia. Kehadiran AI ini menyentuh hampir seluruh sektor, mulai dari pertanyaan sehari-hari yang mulai ditanyakan lewat AI, sistem komunikasi, coding base AI, update data masif, machine learning, hingga penciptaan berbagai inovasi baru. Dewasa ini, AI sangat diperlukan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi di dunia kerja maupun Pendidikan juga. Pemuda-pemudi Gen Z dan Gen Alpha cenderung ingin “simple” dalam segala sesuatunya. Namun, di balik limpahan kemudahan dan potensi yang ditawarkan, kecanggihan teknologi ini justru bisa memicu berbagai tantangan yang tidak kalah kompleks. Penyebaran disinformasi atau berita palsu, penggunaan wajah orang lain untuk hal-hal yang tidak senonoh, hingga penggunaan berlebihan AI untuk tren tidak perlu mulai meraja lela. Konten-konten penipuan, endorsement palsu, manipulatif, berpotensi merusak reputasi dan menyesatkan opini publik. Selain itu, Hal yang paling menajadi tantangan adalah tingkat ketergantungan yang tinggi terhadap otomatisasi berisiko menumpulkan kemampuan berpikir mandiri menjadi merosot. Kemampuan berpikir kritis maunpun berargumen saat ini kadang tergerus dengan adanya AI tersebut, contohnya menggunakan meta.ai dan grock Ketika sedang beradu argumen di media sosial, seperti X dan threads.

Dalam merespons dinamika era digital yang serba cepat ini, nilai-nilai historis yang terkandung dalam Sumpah Pemuda sudah sepatutnya hadir sebagai acuan dan dasar moral yang sangat relevan bagi generasi muda. Semangat persatuan yang dahulu digaungkan oleh para pemuda pada tahun 1928, kini perlu direfleksikan dan dituangkan kembali ke dalam era digital. Penerapan persatuan di ranah maya ini adalah bare minimum agar pemuda dan pemudi tidak terpecah belah. Pembentukan ekosistem komunikasi yang sehat, kuat, santun, dan saling menghargai keberagaman pendapat harus dilakukan. Mental yang kuat untuk menjadi pribadi beretika di media sosial harus dilakukan untuk mempererat silaturahmi dan solidaritas antarmasyarakat. Jangan sampai dunia maya justru dipenuhi cyber bullying, pengarahan ke pergeseran norma, ataupun kejahatan cyber lainnya.

Semangat cinta bangsa, tanah air, dan Bahasa Indonea pada abad ke-21 tidak lagi terbatas pada simbol-simbol formalitas saja, melainkan diwujudkan melalui aksi nyata yang berbasis pengetahuan. Generasi muda saat ini tidak boleh asal berkicau di dunia maya, tetapi harus riset mendalam sebelum berkomentar. Generasi muda Indonesia dituntut untuk tidak hanya menjadi konsumen atau pemakai pasif dari teknologi buatan luar negeri, tetapi juga menjadi penggiat inovator yang mampu menjadi problem solving atas permasalahan domestik. Oleh karena itu, Pemanfaatan kecerdasan buatan atau AI inilah yang dapat dioptimalkan untuk mendorong akselerasi di berbagai sektor vital nasional. Dalam bidang pendidikan, AI dapat mempersonalisasi metode pembelajaran bagi siswa di daerah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). Dalam pelayanan publik dan kesehatan, teknologi ini mampu meningkatkan efisiensi birokrasi serta mendukung diagnosis medis awal secara akurat. Sementara di sektor pertanian dan ekonomi, optimasi data berbasis AI dapat membantu petani memprediksi cuaca serta membantu UMKM menembus pasar internasional. Langkah-langkah inovatif inilah yang menjadi bentuk konkret nasionalisme masa kini. Para Generasi muda sudah sepatutnya menggunakan Langkah-langkah inovatif tersebut untuk memaksimalkan penggunaan AI, bukan sekadar alat membantu tugas sekolah (PR) saja.

Akhir kata, semaju apa pun teknologi, seperti AI berkembang, ia tetaplah sebuah alat yang arah pemanfaatannya sepenuhnya ditentukan oleh otak manusia yang menggunakannya. Nilai-nilai Sumpah Pemuda harus terus digaungkan sebagai pengarah moral agar teknologi dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemaslahatan kemanusiaan tanpa mencabut generasi muda dari jati dirinya. Dengan memadukan semangat digitalisasi, persatuan, karakter yang tangguh, dan kecakapan pemuda dalam beradaptasi dengan teknologi, generasi muda Indonesia dapat bersaing demi membawa bangsa ini menjadi bangsa yang mandiri, inovatif, dan kuat. (*)