BONE — Musim kemarau membuat sebagian warga Perumahan Biru, Kecamatan Tanete Riattang, Kabupaten Bone, harus menghadapi persoalan sederhana yang terasa berat: mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.

Di tengah kondisi tersebut, secercah bantuan datang dari Kodim 1407/Bone. Sebanyak 3.000 liter air bersih disalurkan kepada warga Perumahan Biru, Selasa (29/9/2026).

Air yang bagi sebagian orang menjadi kebutuhan yang mudah diperoleh, bagi warga yang terdampak kekeringan menjadi sesuatu yang sangat berarti. Bantuan tersebut kemudian dibagikan langsung kepada masyarakat yang membutuhkan.

Penyaluran dilakukan oleh Babinsa bersama pemerintah setempat. Mereka mengawal proses pendistribusian agar air bersih dapat diterima warga secara langsung.

Pasi Ter Kodim 1407/Bone, Kapten Inf Arsyad, mengatakan penyaluran air bersih tersebut merupakan tindak lanjut dari perintah pimpinan untuk membantu masyarakat di wilayah yang terdampak kekurangan air.

“Pergerakan penyaluran bantuan air bersih ini merupakan tindak lanjut dari perintah Pangdam XIV/Hasanuddin terkait penyaluran bantuan air bersih terhadap wilayah yang terdampak,” ujar Arsyad.

Bagi TNI, kehadiran di tengah kesulitan masyarakat tidak hanya dilakukan ketika terjadi bencana besar. Persoalan kebutuhan dasar seperti air bersih juga menjadi bagian dari perhatian, terlebih ketika musim kemarau mulai berdampak terhadap kehidupan warga.

Dandim 1407/Bone, Letkol Inf Laode Muhammad Idrus, mengatakan pihaknya akan terus berupaya hadir membantu masyarakat yang membutuhkan.

“Kami berupaya membantu masyarakat yang terdampak kekurangan air bersih akibat musim kemarau. Semoga bantuan ini dapat meringankan kebutuhan warga untuk keperluan sehari-hari,” katanya.

Penyaluran bantuan tersebut juga mendapat dukungan dari Pemerintah Kabupaten Bone. Pemkab Bone membantu melalui penyediaan armada mobil tangki serta lokasi pengambilan air.

Sinergi tersebut membuat proses distribusi air dapat dilakukan secara langsung ke wilayah yang membutuhkan. Babinsa bersama pemerintah setempat turut mengawal penyaluran hingga air diterima warga.

“Babinsa bersama pemerintah setempat mengawal proses pendistribusian agar bantuan dapat diterima warga yang membutuhkan,” jelas Laode.

Bantuan 3.000 liter air bersih itu mungkin hanya memenuhi kebutuhan warga untuk sementara waktu. Namun, di tengah kemarau yang membuat akses terhadap air bersih menjadi persoalan, setiap liter yang sampai ke tangan warga memiliki arti tersendiri.

Setidaknya, di tengah teriknya musim kemarau, bantuan tersebut menjadi pengingat bahwa persoalan kebutuhan dasar masyarakat tidak luput dari perhatian dan gotong royong berbagai pihak.

Bagi warga Perumahan Biru, air yang datang bukan sekadar bantuan. Ia menjadi penopang kebutuhan sehari-hari sekaligus sedikit ruang untuk bernapas di tengah panjangnya musim kemarau. (*)