WATAMPONE — Derap langkah kecil terdengar serempak di Lapangan Basket Manunggal Watampone, Senin, 6 September 2026. Puluhan anak dengan seragam Polisi Cilik (Polcil) berdiri tegap, mengikuti setiap aba-aba dengan penuh konsentrasi.
Di usia yang masih belia, mereka belajar sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar memenangkan sebuah perlombaan: tentang disiplin, kekompakan, keberanian tampil, serta memahami aturan berlalu lintas sejak dini.
Suasana itulah yang mewarnai Lomba Polisi Cilik Polda Sulsel dalam rangka Lalu Lintas Bhayangkara ke-71 Tahun 2026 Zona 4, yang mempertemukan peserta dari Kabupaten Bone, Soppeng, Wajo, Sinjai, dan Sidrap.
Kegiatan tersebut dibuka langsung oleh Bupati Bone, H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., MM. Kehadiran para peserta dari lima daerah menjadikan kegiatan ini bukan hanya sebagai ajang kompetisi, tetapi juga ruang untuk membentuk karakter generasi muda Sulawesi Selatan.
Bupati Bone menilai kesempatan bagi anak-anak untuk tampil sejak usia dini merupakan sesuatu yang sangat berharga. Menurutnya, keberanian tampil, kedisiplinan, pembentukan mental, hingga kemampuan mengikuti instruksi merupakan bekal yang akan terus dibutuhkan anak-anak ketika mereka tumbuh dewasa.
“Memberikan kesempatan itu hal yang luar biasa, terbiasa untuk tampil. Karena pada prinsipnya semua strata, mulai tingkat awal sampai tingkat terakhir, akan diperhadapkan dengan sikap seperti ini. Disiplin, berkarakter, mental, kemudian mempelajari tentang tata cara berlalu lintas sejak dini. Ini yang terpenting.”
Bagi Andi Asman Sulaiman, pendidikan karakter tidak selalu harus dimulai melalui ruang kelas. Lapangan tempat anak-anak berlatih baris-berbaris pun dapat menjadi tempat penting untuk menempa kepribadian.
Di sana, mereka belajar mendengarkan aba-aba, bergerak secara teratur, menjaga kekompakan, serta menempatkan kepentingan kelompok di atas kepentingan pribadi.
Hal-hal sederhana tersebut, menurutnya, kelak menjadi bagian dari proses yang akan mereka temui dalam berbagai tahapan kehidupan.
Ia pun mengapresiasi langkah Direktorat Lalu Lintas Polda Sulsel yang menghadirkan program Polisi Cilik sebagai bagian dari edukasi lalu lintas sekaligus pembentukan karakter anak. “Ini suatu kebanggaan, suatu apresiasi atau terobosan. Salam hormat untuk Bapak Kapolda dan seluruh jajaran,” ujarnya.
Pemerintah Kabupaten Bone, lanjutnya, bersama pemerintah daerah lainnya di Zona 4 akan terus memberikan dukungan terhadap kegiatan yang bertujuan mempersiapkan generasi penerus.
Di hadapan para peserta, Bupati Bone menegaskan bahwa Polcil memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar perebutan juara. Ada proses panjang yang sedang dibangun. Anak-anak dikenalkan dengan kedisiplinan, moral, kekompakan, tanggung jawab, dan pemahaman mengenai keselamatan berlalu lintas. “Di dalam kegiatan ini terdapat proses pembentukan karakter sejak usia dini. Anak-anak belajar tentang disiplin,” katanya.
Menurut Andi Asman, pengalaman mengikuti Polcil dapat menjadi modal bagi anak-anak ketika kelak memasuki berbagai lingkungan kehidupan, baik sekolah, keluarga maupun organisasi.
Ia bahkan mengaitkan latihan-latihan yang dijalani para peserta dengan berbagai proses seleksi pendidikan kedinasan maupun akademi. Baris-berbaris, kesiapsiagaan, kemampuan mendengarkan perintah, hingga gerakan yang dilakukan secara terpimpin bukanlah sesuatu yang mudah. Semua itu membutuhkan latihan sekaligus pembentukan kepribadian.
Karena itu, ia berharap pengalaman yang diperoleh para peserta tidak berhenti setelah lomba berakhir. “Yang pertama, yang kita dapatkan setelah pasca lomba Polcil ini: pembentukan karakter, moral, kedisiplinan, dan kekompakan,” tegasnya.
Kedua, anak-anak telah mendapatkan pengetahuan mengenai tata tertib dan keselamatan berlalu lintas sejak usia dini. Ketiga, mereka memperoleh modal moral dan mental yang dapat digunakan dalam berbagai bidang kehidupan di masa depan.
Di balik seragam dan barisan yang rapi, masing-masing anak tentu membawa cita-cita. Ada yang kelak ingin menjadi polisi. Ada yang bercita-cita menjadi tentara, aparatur pemerintahan, hingga melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi.
Bupati Bone pun mengajak seluruh peserta untuk tidak berhenti berlatih, apa pun hasil yang mereka raih dalam perlombaan. “Pasti ada yang mau ingin menjadi Akademi Kepolisian, ada yang ingin menjadi Akademi Militer, ada yang ingin menjadi Akademi Pemerintahan. Ada yang ingin ke Unhas,” tuturnya.
Ia juga berpesan agar seluruh peserta dapat menerima hasil penilaian dewan juri dengan lapang dada. Akan ada yang keluar sebagai terbaik pertama, kedua, ketiga maupun keempat. Namun, menurutnya, kemenangan sesungguhnya bukan hanya tentang piala yang dibawa pulang, melainkan nilai-nilai yang tertanam selama proses latihan. “Setelah nanti perlombaan, apa pun hasil penilaian dari juri, kita harus terima dan menghargai itu,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Andi Asman juga menyampaikan sebuah rencana yang diharapkan dapat semakin membuka jalan bagi anak-anak Bone dan Sulawesi Selatan untuk meraih pendidikan berkualitas. Ia mengungkapkan rencana Pemerintah Kabupaten Bone untuk menghadirkan sekolah unggulan SMA Taruna Nusantara di Kabupaten Bone.
Menurutnya, pemerintah daerah telah menyiapkan lahan seluas sekitar 20 hektare yang telah dibebaskan dan tinggal menunggu proses penempatan lokasi. “Semoga nanti putra-putri Polcil ini ada yang masuk sebagai terpilih Sekolah Unggulan Nusantara SMA Taruna Nusantara di Kabupaten Bone,” harapnya.
Rencana tersebut menjadi angin segar bagi generasi muda yang sejak dini telah menunjukkan kedisiplinan dan semangat untuk berprestasi. Bagi para peserta Polcil, mungkin hari ini mereka hanya sedang belajar berbaris dan mengikuti aba-aba. Namun, dari barisan kecil itu bisa saja lahir calon polisi, tentara, pemimpin pemerintahan, akademisi, atau profesional yang kelak mengisi berbagai ruang pembangunan.
Kepada para orang tua dan pendamping, Bupati Bone juga menitipkan pesan agar pembinaan anak-anak tidak berhenti setelah kegiatan Polcil selesai. Latihan dan kegiatan positif, menurutnya, harus terus dilanjutkan sehingga pembentukan karakter yang telah dimulai dapat berkembang secara berkesinambungan.
Ia berharap kegiatan serupa terus digelar dan semakin banyak anak-anak yang mendapatkan kesempatan untuk belajar disiplin, bertanggung jawab, serta memahami keselamatan berlalu lintas.
“Ini mudah-mudahan jangan sampai berakhir sampai di sini. Saya minta untuk terus dilanjutkan kepada tingkatan-tingkatan latihan, perlombaan putra-putri kita agar nanti menjadi generasi emas di Sulawesi Selatan,” ujarnya.
Andi Asman juga menyampaikan apresiasi kepada jajaran Polda Sulsel atas pelaksanaan kegiatan tersebut. Ia bahkan memastikan Kabupaten Bone siap kembali menjadi tuan rumah apabila kegiatan serupa digelar pada tahun-tahun mendatang. “Insya Allah sekiranya nanti tahun depan atau tahun berikutnya ada lagi kegiatan seperti ini, Bone siap untuk menjadi tuan rumah.”
Lapangan basket bukan sekadar menjadi tempat perlombaan. Ia berubah menjadi ruang belajar bagi anak-anak untuk mengenal arti disiplin, keberanian dan kebersamaan. Dari derap langkah yang serempak, dari suara aba-aba yang mereka ikuti, tersimpan harapan besar: bahwa generasi emas Sulawesi Selatan sedang dipersiapkan, sedikit demi sedikit, sejak usia dini. (*)


Tinggalkan Balasan