BONE– Gedung DPRD Kabupaten Bone kini memiliki anggota legislatif bergelar doktor. Dari 45 anggota DPRD Bone periode 2024–2029, H. Muslimin, S.E., M.M. ia menjadi sosok pertama yang berhasil menuntaskan pendidikan hingga jenjang doktoral.

Anggota Komisi III sekaligus Ketua Fraksi Partai NasDem DPRD Kabupaten Bone itu resmi meraih gelar doktor dari Universitas Muslim Indonesia (UMI). Ia dinyatakan lulus dengan predikat pujian atau cumlaude, setelah memperoleh nilai ujian 92,5 dengan nilai A dan mencatatkan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,99.

Di hadapan tim penguji, Muslimin mempertahankan disertasinya yang mengangkat persoalan yang sangat dekat dengan lingkungan tempatnya bekerja sebagai legislator. Disertasinya berjudul “Pengaruh Gaya Kepemimpinan, Kompetensi Digital dan Keadilan Organisasi terhadap Kinerja Aparatur Sipil Negara melalui Kepuasan Kerja di Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Bone.”

Menariknya, penelitian tersebut tidak sekadar menjadi syarat akademik untuk memperoleh gelar doktor. Kajian Muslimin menyentuh langsung persoalan manajemen aparatur pemerintahan, khususnya bagaimana menciptakan lingkungan kerja yang mampu mendorong peningkatan kinerja ASN.

Meneliti ASN di Lingkungan DPRD Bone

Penelitian doktoral Muslimin menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain eksplanatori. Populasi penelitian mencakup seluruh ASN pada Sekretariat DPRD Kabupaten Bone yang berjumlah 240 orang.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 240 kuesioner disebarkan dan 236 kuesioner dinyatakan kembali serta dapat diolah. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner terstruktur berbasis Google Form menggunakan skala Likert lima tingkat.

Analisis data dilakukan menggunakan Structural Equation Modeling (SEM) berbasis kovarians dengan bantuan AMOS versi 31. Analisis tersebut didahului dengan pengujian validitas, reliabilitas, serta asumsi SEM.

Hasil penelitian menunjukkan temuan yang menarik. Gaya kepemimpinan, kompetensi digital, dan keadilan organisasi terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan kerja ASN.

Namun, ketiga variabel tersebut ternyata tidak secara langsung berpengaruh signifikan terhadap kinerja ASN. Justru kepuasan kerja menjadi faktor penting yang menentukan peningkatan kinerja.

Dengan kata lain, gaya kepemimpinan yang baik, kompetensi digital yang memadai, dan rasa keadilan dalam organisasi belum otomatis membuat kinerja ASN meningkat. Ketiganya harus terlebih dahulu mampu menciptakan kepuasan kerja.

Dalam penelitian tersebut, kepuasan kerja terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja ASN sekaligus berperan sebagai mediator penuh (full mediation).

Kepuasan kerja memediasi secara penuh pengaruh gaya kepemimpinan terhadap kinerja ASN. Hal yang sama terjadi pada hubungan kompetensi digital dan keadilan organisasi terhadap kinerja ASN.

Temuan tersebut menegaskan bahwa aspek manusia tetap menjadi elemen penting di tengah tuntutan birokrasi yang semakin digital. “Gaya kepemimpinan, digitalisasi, dan keadilan dalam organisasi berdampak signifikan pada tingkat kepuasan kerja pegawai. Pada akhirnya, kepuasan kerja inilah yang menjadi jembatan utama untuk mendorong peningkatan kinerja ASN secara optimal,” demikian inti temuan penelitian tersebut.

Bagi Muslimin, penelitian itu sekaligus menawarkan perspektif bahwa peningkatan kualitas birokrasi tidak cukup hanya dengan menghadirkan teknologi, memperbaiki sistem kepemimpinan, atau membangun tata kelola yang adil. Semua kebijakan tersebut perlu bermuara pada terciptanya lingkungan kerja yang membuat pegawai merasa nyaman, dihargai, dan puas dalam menjalankan tugas.

Perjalanan akademik Muslimin tidak berlangsung tanpa tantangan

Pria kelahiran Bone, 14 Desember 1975, itu merupakan putra pasangan H. Mappe dan almarhumah Hj. Muna. Ia mengawali pendidikan formal di SDI 3/77 Bulutanah, kemudian melanjutkan pendidikan ke MTs Tanah Gunung.

Pada satu fase kehidupannya, persoalan biaya membuat pendidikannya sempat terhenti. Muslimin bahkan harus menganggur selama dua tahun sebelum akhirnya kembali melanjutkan pendidikan. Ia kemudian menyelesaikan pendidikan SMA di SMA Negeri 1 Kajuara.

Perjalanan tersebut akhirnya berlanjut hingga perguruan tinggi. Gelar sarjana atau S1 diperolehnya dari Universitas Veteran Republik Indonesia. Pendidikan magister ditempuh di STIE Nobel, sementara gelar doktor diraih di Universitas Muslim Indonesia.

Perjalanan dari sempat terhenti karena keterbatasan biaya hingga meraih gelar doktor dengan predikat cumlaude menjadi bagian penting dari kisah hidup Muslimin. Di tengah aktivitasnya sebagai politisi, pengusaha, dan aktivis organisasi, ia tetap melanjutkan perjalanan akademiknya.

Dari Politik, Bisnis hingga Organisasi

Sebelum duduk sebagai anggota DPRD Bone, Muslimin telah menjalani aktivitas di berbagai bidang. Ia pernah menjadi Koordinator KOSIPA Wilayah IV pada 2013–2021, Ketua Yayasan Al-Mubarak sejak 2020, serta Pembina Yayasan Al-Insyiroh atau Sekolah Hafiz Quran pada 2020–2021.

Di bidang politik, ia dipercaya sebagai Koordinator Pemenangan Partai NasDem Daerah Pemilihan 7 Kabupaten Bone sejak 2020. Pada 2021–2024, ia menjabat Wakil Pengurus Harian KOSIPA Wilayah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat.

Karier politiknya kemudian berlanjut ke tingkat provinsi. Sejak 2022, Muslimin dipercaya sebagai Wakil Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Partai NasDem Sulawesi Selatan.

Pada Pemilu 2024, ia terpilih menjadi anggota DPRD Kabupaten Bone. Di lembaga legislatif tersebut, ia dipercaya menjadi Ketua Fraksi Partai NasDem dan duduk sebagai anggota Komisi III.

Aktivitasnya juga merambah dunia usaha. Ia tercatat sebagai pemilik Toko Bangunan As-Shiddiq 99 Kabupaten Bone, Direktur CV Asy Syifa 99, kontraktor sekaligus pengembang Green Shiddiq Residence, pemilik Siddiq Motor 99, pemilik Toko Bangunan As-Syifa 99 Kabupaten Sinjai, serta Komisaris Utama PT Syifa Sejahtera.

Aktif di Organisasi dan Olahraga

Muslimin juga dikenal aktif dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan. Ia merupakan Ketua Umum 99 Community sejak 2019, Pembina Karang Taruna Kecamatan Kajuara sejak 2020, serta pernah menjadi Ketua Penyelenggara Turnamen Sepak Bola 99 Community Cup I pada 2022 dan 99 Community Cup II pada 2024.

Ia juga tercatat sebagai Pembina PGRI Kecamatan Kajuara sejak 2024. Di bidang kepramukaan, Muslimin dipercaya sebagai Ketua Komisi Perencanaan dan Pengembangan Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Kabupaten Bone periode 2025–2030. Sementara di bidang olahraga, ia menjabat Ketua Umum PBVSI Kabupaten Bone periode 2026–2030. Ia juga dipercaya sebagai Koordinator Bidang Pemuda dan Olahraga Pengurus IKA SMANKA periode 2026–2031.

Rangkaian aktivitas tersebut menggambarkan sosok yang tidak hanya berkutat di ruang politik. Pendidikan, bisnis, olahraga, kepemudaan, sosial, hingga organisasi menjadi bagian dari perjalanan Muslimin.

Akademisi di Tengah Kesibukan Politik

Gelar doktor yang diraih Muslimin semakin melengkapi perjalanan panjangnya. Sebagai anggota DPRD sekaligus Ketua Fraksi Partai NasDem, ia menyelesaikan penelitian yang justru mengambil objek di lingkungan Sekretariat DPRD Bone. Posisi tersebut membuat tema penelitian memiliki kedekatan langsung dengan dunia kerja dan pemerintahan daerah yang setiap hari bersentuhan dengannya.

Sebelumnya, Muslimin juga telah menerbitkan karya ilmiah pada 2022 berjudul “Pengaruh Komunikasi, Motivasi Kerja, dan Disiplin Kerja terhadap Kinerja Karyawan pada PT BPR Suar Data Kabupaten Bone.”

Kini, gelar doktor menjadi bagian baru dalam perjalanan hidupnya. Muslimin bukan hanya menambah jumlah sumber daya manusia berpendidikan doktor di lingkungan DPRD Kabupaten Bone. Penelitian yang dihasilkannya juga membawa satu pesan penting bagi birokrasi daerah: kinerja aparatur tidak semata-mata dibangun melalui sistem, teknologi, atau kepemimpinan, tetapi juga melalui kepuasan dan kenyamanan manusia yang menjalankannya.

Temuan tersebut diharapkan dapat menjadi rujukan strategis bagi Sekretariat DPRD Kabupaten Bone maupun instansi pemerintahan daerah lainnya dalam merancang kebijakan manajemen ASN yang menggabungkan profesionalisme, transformasi digital, kepemimpinan, keadilan organisasi, dan kesejahteraan psikologis pegawai.

Di titik itulah perjalanan akademik seorang legislator menemukan relevansinya dengan tugas pengabdian publik: ilmu yang diperoleh di ruang akademik dibawa kembali untuk membaca dan menawarkan solusi atas persoalan pemerintahan di daerah. (*)