BONE — Deru alat berat dan aktivitas para pekerja masih terus berlangsung di Lingkungan Rompe, Kelurahan Bajoe, Kota Watampone. Di lokasi inilah harapan baru bagi pendidikan anak-anak dari keluarga prasejahtera di Kabupaten Bone tengah dibangun melalui proyek Sekolah Rakyat.
Rabu (20/5/2026), Bupati Bone H. Andi Asman Sulaiman, S.Sos., MM didampingi Kadis Sosial H. Jemmy, S.Sos., MM dan Camat Tanete Riattang Timur Andi Habibie, ST., M.Si turun langsung meninjau progres pembangunan sekolah yang digadang menjadi salah satu pusat pendidikan inklusif bagi masyarakat kurang mampu tersebut.
Dengan nilai investasi mencapai sekitar Rp230 miliar, proyek yang dikerjakan oleh PT Nindya Karya itu kini menunjukkan perkembangan signifikan. Pembangunan telah mencapai progres sekitar 65 persen dan ditargetkan dapat segera memasuki tahap penyelesaian dalam waktu dekat.
Di tengah peninjauan, Bupati Bone menegaskan bahwa percepatan pembangunan tidak boleh mengabaikan kualitas pekerjaan. “Saya minta utamakan kualitas pekerjaan. Apalagi proyek ini dikerjakan oleh kontraktor yang berpengalaman,” tegasnya.
Penegasan itu menjadi penting mengingat Sekolah Rakyat bukan sekadar bangunan fisik, melainkan investasi jangka panjang bagi masa depan generasi Bone.
Lebih dari itu, pembangunan proyek ini juga membawa dampak ekonomi bagi masyarakat setempat. Sekitar 90 persen material yang digunakan berasal dari Kabupaten Bone. Begitu pula tenaga kerja, yang mayoritas diprioritaskan dari daerah sendiri.
“Material yang digunakan juga berasal dari Bone semua, sehingga manfaat pembangunan ini bisa dirasakan langsung oleh masyarakat,” ujar Bupati.
Kebijakan tersebut membuat pembangunan Sekolah Rakyat bukan hanya menghadirkan fasilitas pendidikan, tetapi juga menggerakkan roda ekonomi lokal melalui penggunaan sumber daya daerah.
Di lokasi proyek, Bupati juga mengapresiasi kualitas pekerjaan yang ditunjukkan pelaksana pembangunan. Menurutnya, pengalaman kontraktor serta pelaksanaan di lapangan sejauh ini memperlihatkan hasil yang menjanjikan.
Namun di balik angka-angka progres pembangunan itu, ada misi yang jauh lebih besar: membuka akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin ekstrem dan prasejahtera hingga ke pelosok desa.
Pemerintah Kabupaten Bone menargetkan wajib sekolah bagi keluarga kurang mampu dapat menjangkau hingga tingkat dusun. “Wajib sekolah bagi keluarga kurang mampu akan kita sisir sampai ke tingkat dusun di wilayah Bone,” katanya.
Sekolah Rakyat nantinya diharapkan menjadi ruang tumbuh bagi anak-anak yang selama ini memiliki keterbatasan akses pendidikan. Di tempat itu, mereka tidak hanya memperoleh ilmu, tetapi juga pembinaan dari tenaga pendidik, pamong, dan pembimbing yang akan dipersiapkan pemerintah.
Bupati Bone berharap sekolah ini kelak melahirkan generasi yang mampu bersaing tanpa memandang latar belakang ekonomi keluarga. “Kita harapkan nanti ke depannya melahirkan putra-putri bangsa dari keluarga miskin ekstrem, keluarga prasejahtera, yang bisa bersaing dengan keluarga yang lebih sejahtera,” ujarnya.
Di atas lahan 10 Hektar yang kini masih dipenuhi aktivitas pembangunan itu, harapan sedang disusun satu per satu. Ketika bangunan ini rampung nanti, Sekolah Rakyat tidak hanya berdiri sebagai gedung pendidikan, tetapi juga simbol bahwa kesempatan belajar harus hadir untuk semua anak, termasuk mereka yang selama ini berada di garis terdepan keterbatasan. (*)


Tinggalkan Balasan