BONE– Di halaman suci Masjid Agung Al-Markaz Al-Ma’arif, suasana haru bercampur khidmat menyelimuti ratusan pasang mata yang berkumpul. Lantunan doa, pelukan perpisahan, dan linangan air mata menjadi saksi pelepasan 387 jamaah calon haji asal Kabupaten Bone yang bersiap menapaki perjalanan spiritual menuju Tanah Suci, Rabu (22/4/2026).

Wakil Bupati Bone, H. Andi Akmal Pasluddin, berdiri di hadapan para tamu Allah itu dengan wajah penuh haru. Didampingi Wakil Ketua TP PKK Bone, Maya Damayanti Andi Akmal, ia secara resmi melepas keberangkatan Kloter 1 UPG 3 Embarkasi Makassar rombongan pertama dari total ribuan jamaah Bone tahun ini.

“Ini bukan sekadar perjalanan biasa, melainkan panggilan suci yang hanya diberikan kepada orang-orang terpilih,” ucapnya, suaranya terdengar mantap namun sarat emosi.

Di antara deretan jamaah yang mengenakan pakaian serba putih, tersimpan harapan panjang yang telah menunggu bertahun-tahun. Ada yang telah lanjut usia, ada pula pasangan muda yang menggenggam erat kesempatan langka ini. Semua menyatu dalam satu niat: menunaikan rukun Islam kelima di Mekkah.

Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umrah Bone, Muhammad Rafi As’ad, memastikan seluruh proses keberangkatan berjalan tertib. Sebanyak 16 unit bus dan dua truk telah disiapkan untuk mengantar jamaah dan barang bawaan mereka menuju embarkasi.

“Ini adalah bentuk pelayanan terbaik bagi para tamu Allah. Kenyamanan dan keamanan menjadi prioritas kami,” ujarnya.

Tahun ini, total jamaah haji asal Bone mencapai 2.021 orang yang terbagi dalam delapan kloter. Jumlah ini menjadi penanda meningkatnya animo sekaligus harapan masyarakat untuk menunaikan ibadah haji.

Dalam sambutannya, H. Andi Akmal Pasluddin mengingatkan bahwa ibadah haji bukan hanya soal kesiapan finansial, tetapi juga kesiapan fisik dan mental. Ia menyoroti perbedaan iklim antara Indonesia dan Arab Saudi yang cukup ekstrem.

“Jaga kesehatan, disiplin, dan patuhi semua aturan. Jangan sampai kondisi fisik mengganggu kekhusyukan ibadah,” pesannya.

Namun lebih dari itu, ia menekankan pentingnya menjaga kebersamaan dan nama baik daerah selama berada di Tanah Suci. Baginya, para jamaah bukan hanya individu, tetapi juga duta daerah yang membawa identitas Kabupaten Bone.

Di penghujung acara, suasana kembali menghangat saat ia menitipkan harapan sederhana namun penuh makna.

“Saya titip doa untuk Kabupaten Bone. Doakan daerah kita selalu dalam lindungan Allah, dijauhkan dari bencana, dan diberi kekuatan menghadapi segala tantangan,” tuturnya.

Satu per satu bus mulai bergerak meninggalkan halaman masjid. Lambaian tangan keluarga yang ditinggalkan seakan tak ingin berhenti. Di balik itu semua, terselip keyakinan bahwa perjalanan ini bukan hanya tentang pergi—tetapi juga tentang kembali, dengan hati yang lebih bersih dan gelar haji yang mabrur. (*)